---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 24 September 1999 Ulah IMF Sulitkan Rupiah Jakarta, Rakyat Merdeka Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin mengharapkan penundaan bantuan yang dilakukan Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia serta Bank Pembangunan Asia (ADB) tidak berlangsung lama, karena jika hal itu berlangsung dalam jangka panjang maka akan menyulitkan proses penguatan rupiah. Dan, berpengaruh pada kepercayaan investor asing. "Kita berharap penundaan ini tidak berlama-lama. Karena pengaruhnya langsung kepada kepercayaan. Kalau IMF menunda berarti ada sesuatu yang ditunggu oleh mereka," kata Syahril menjawab pertanyaan wartawan usai berpamitan kepada Presiden BJ Habibie di Istana Merdeka, Jakarta kemarin. Syahril yang akan menghadiri sidang gabungan tahunan IMF dan Bank Dunia dalam beberapa hari mendatang di Washington, mengatakan, pencairan bantuan lembaga-lembaga keuangan nasional akan sangat berkaitan dengan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. Penundaan penandatangan Letter of Inten (LoI) IMF yang mengakibatkan ditundanya pencairan bantuan IMF juga mendorong Bank Dunia dan ADB menagguhkan menyalurkan bantuan mereka kepada Indonesia. Namun demikian, menurutnya, penundaan bantuan dari beberapa lembaga keuangan dunia itu tidak berpengaruh terhadap cadangan devisa. "Cadangan devisa masih aman-aman saja saat ini," katanya. Dijelaskannya, penundaan bantuan tidak akan dibicarakan dalam pertemuan yang akan dihadiri di Washington itu. "Saya kira tidak dalam pertemauan itu. Tidak. Ini lebih bersifat pertemuan bersama bukan bilateral," kata Syahril yang akan mewakili negara-negara Asia. Di lain pihak menyinggung terus lemahnya nilai rupiah, dia mengatakan, melemahnya rupiah diakui akibat adanya tekanan-tekanan yang terjadi di dalam negeri. Tapi apakah akibat tekanan perkembangan di Timtim, kasus Bank Bali, serta berbagai demo, dia mengaku tidak bisa mengetahui secara persis. "Belum tahun betul saya mana yang lebih berpengaruh," ujar Syahril. Kendati begitu, dia optimis bahwa rupiah yang kini melemah akan kembali menguat. Hanya saja, menguatnya rupiah itu, sangat tergantung hasil pembicaraan antara Indonesia dengan lembaga- lembaga keuangan internasional yang membantu Indonesia itu. Dia menilai sulit untuk melakukan perkiraan terhadap nilai tukar rupiah diwaktu mendatang. "Tapi yang penting kita berusaha supaya yang menjadi persoalan itu bisa cepat selesai dan rupiah bisa menguat begitu," katanya. Di tempat terpisah, Deputi Gubernur BI Miranda S Goeltom menegaskan, BI tidak akan melakukan intervensi dalam bentuk apapun terhadap kemerosotan nilai rupiah akhir-akhir ini. Alasannya, tindakan itu hanya diberikan jika anjloknya rupiah akibat fundamental ekonomi yang goyah. Sementara anjloknya rupiah kali ini akibat dua kasus besar yaitu kasus Bank Bali dan Timtim. "Tekanan itu akan berakhir jia dua kasus ini diselesaikan secara profesional dan kredibel," katanya. "Selama inflasi dan tingkat suku bunga masih tetap rendah, maka BI tetap tidak akan mengintervensi pasar, dengan suku bunga SBI yang masih berkisar 12,96 persen, fluktuasi rupiah tidak akan besar," cetusnya lagi. Menurut Goeltom, penurunan nilai rupiah yang mencapai level Rp 8.00 per dollar AS, sebagian besar akibat tekanan politik dalam negeri seperti skandal Bank Bali dan masih bergolaknya situasi Timtim pasca kedatangan Interfet. "Kalau dua hambatan utama itu hilang bukan tidak mungkin rupiah akan mencapai level Rp 6.00 per dolarnya," ujarnya. Saat ini BI masih memiliki cadangan devisa (gross foreigh asset) yang cukup besar, yaitu sekitar 6,5 miliar dolar. Kalau jumlah tersebut dilempar ke pasar maka rupiah akan langsung stabil ke posisi semula yaitu Rp 7.00 per dolar AS. Disinggung mengenai turunnya posisi cadangan devisa bersih dari 16,12 miliar dolar AS akhir Juli 1999 lalu, menjadi 15,83 miliar dolar AS pada akhir Agustus, atau turun 291 juta dolar. Dia menegaskan bahwa posisi cadangan devisa tidak bisa dikatakan melemahnya, karena pemerintah masih memiliki pemasukan dari sektor minyak, sumbangan ADB dan Bank Dunia. Tak Pengaruh Sementara itu di tempat terpisah, Menkeu Bambang Subianto menyatakan, mundurnya kajian terhadap LoI IMF tidak mempengaruhi jumlah dana rekapitalisasi, karena rekapitalisasi ini dilakukan dengan menerbitkan obligasi. "Ini berkaitan dengan upaya kita secepatnya agar bank-bank bisa meneruskan restrukturisasi utang- utang para debitornya. Dengan demikan, kalau itu bisa ditindaklanjuti maka hal itu bisa menggerakan sektor riil," kata Menkeu usai melapor rekapitalisasi Bank Mandiri kepada Presiden Habibie. (FN/MAS) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 28 Sep 1999 jam 13:33:08 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
