----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


DIMYATI HARTONO: APARAT CARI KAMBING HITAM

        JAKARTA, (SiaR, 28/9/99). Ketua DPP PDI Perjuangan Prof Dr Dimyati Hartono
tidak percaya terhadap tudingan pihak aparat keamanan bahwa aksi demonstrasi
mahasiswa didalangi sejumlah tokoh, dari mantan menteri, tokoh parpol,
pengusaha, tokoh intelektual, dan tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Hal ini ditegaskan Dimyati Hartono di sela-sela acara pembekalan kepada 154
caleg PDI Perjuangan di Depok, akhir pekan lalu.

        "Itu hanya tuduhan dan saya tidak terlalu yakin mereka menggunakan gaya
pemerintahan Orde Baru, kalau mengalami kesulitan lalu mencari orang lain
sebagai kambing hitam," katanya kepada para wartawan yang meminta
pendapatnya soal tuduhan aparat keamanan yang dialamatkan kepada sejumlah
nama sebagai dalang atau aktor intelektual aksi demonstrasi.

        Seperti diketahui, Kapolda Metro Jaya Mayjen TNI Noegroho Djadjoesman, dan
Front Pembela Islam (FPI) dalam keterangan persnya beberapa waktu lalu,
menyebutkan sejumlah nama seperti mantan Mentamben Prof Dr Soebroto, Ketua
DPP PDI Perjuangan Mayjen (Purn) Theo Syafei, pengusaha Arifin Panigoro,
rohaniwan Romo Sandyawan, pengamat ekonomi Syahrir, Frans Seda, dan seniman
Ratna Sarumpaet, sebagai aktor intelektual dibalik peristiwa berdarah di
Semanggi yang menewaskan tujuh orang itu.

        Selain nama-nama tersebut, Noegroho menyebutkan sebanyak 13 nama lainnya
sebagai tokoh penggerak demonstrasi. Beberapa nama yang disebut antara lain
aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Faesol Reza, Rahardjo Waluyo Djati,
aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lukas Luwarso, dan Mega Cristina,
aktivis FKSMJ Sarbini, aktivis Keluarga Besar UI Husni, dan lain-lain.

        Menurut Dimyati, aksi demo mahasiswa terjadi karena wakil rakyat (DPR), dan
pemerintah tidak tanggap terhadap aspirasi yang berkembang di tengah-tengah
masyarakat, terutama mengenai RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya.(PKB) yang
disahkan Kamis (23/9) lalu. Mahasiswa, katanya lagi, sejak awal telah
mengingatkan pemerintah dan TNI agar jangan meneruskan pembahasan UU PKB.
Tapi DPR dan TNI tidak mengindahkannya.

        "Jika kemudian masyarakat di luar mahasiswa terlibat dalam aksi penentangan
RUU PKB itu wajar-wajar saja. Memang undang-undang itu ditolak oleh seluruh
komponen masyarakat yang khawatir terhadap pemberlakuan UU PKB yang dianggap
anti-demokratis," ujarnya.

        Sementara itu, Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) sebagai kuasa hukum
Prof Dr Subroto meminta FPI untuk membuktikan dalam tempo 1 kali 24 jam
bukti-bukti tuduhan mereka yang dialamatkan ke Subroto, Theo Syafei, Frans
Seda, dan Arifin Panigoro. Jika tidak dapat dibuktikan, TPDI menuntut FPI
untuk memuat iklan permohonan maaf di media massa, cetak dan elektronik,
selama tiga hari berturut-turut.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Sep 1999 jam 15:58:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke