----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


GUS DUR TIDAK LEBIH BAIK DARI HABIBIE

        JAKARTA, (SiaR, 28/9/99). Pernyataan Ketua Umum PBNU Abdurrahman
Wahid yang akan melakukan pengerahan 100 ribu anggota Banser NU untuk
mengamankan SU MPR mendapat kritikan dari masyarakat. Pengerahan Banser NU
tersebut dinilai sebagai tindakan yang tidak ada bedanya dengan rezim
Soeharto dan Habibie dalam memobilisir massa PAM Swakarsa dan massa Front
Pembela Islam.

        "Mahasiswa yang demo kok dihadapi dengan Banser berkekuatan 100 ribu
orang. Ini kan tidak masuk akal," kata salah seorang pengamat politik.
Menurut pengamat ini, jika hal itu benar-benar akan dilakukan Gus Dur maka
akan terjadi chaos dan konflik horisontal yang selama ini dihindari oleh
para demonstran mahasiswa. "Sebaliknya kondisi ini bisa dimanipulasi tentara
untuk melakukan represi. Sehingga konsolidasi demokrasi tak akan terjadi,"
kata pengamat politik AS Hikam.

        Pernyataan Gus Dur tersebut dinilai oleh Ketua Parliament Watch,
Irma Hutabarat sebagai tindakan elit politik yang saat ini lebih banyak
memperjuangkan kekuasaan, bukan ideologi. Sebab mereka seolah lupa akan
janji Deklarasi Ciganjur yang menyatakan akan selalu berada di belakang
mahasiswa. "Kalau Banser akan dikerahkan melawan mahasiswa, mana janji
mereka? Itu kan berarti mengadu sipil lawan sipil," kecamnya.

        Gus Dur di mata para pengamat politik muda Indonesia juga dianggap
sering melakukan tuduhan-tuduhan tanpa dibuktikan secara hukum. Tindakan ini
mirip seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Soeharto dengan mudahnya
memberikan cap negatif terhadap kelompok masyarakat yang bersebarangan dalam
sikap politik. Ia juga dinilai tidak tegas dalam menolak kehadiran tentara,
bahkan dalam beberapa kasus Gus Dur justru membela tentara. Seperti kasus
Timtim dan peristiwa Semanggi II, misalnya.

        Selain itu, menurut para pengamat politik ini, Gus Dur juga tidak
konsisten dalam berdemokrasi. Contohnya, masuknya Gus Dur sebagai calon
legislatif sebenarnya merupakan tindakan menghalalkan segala cara. Sebab
menurut mereka, sejak jauh-jauh hari sebelum pemilu berlangsung posisi Gus
Dur sudah berada di PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Bahkan ia pun cuti dari
PBNU hanya untuk kampanye di partai pimpinan Matori Abdul Jalil itu.
Kesimpulannya, Gus Dur orang partisan, orang PKB.

        "Yang salah sebenarnya KPU, kenapa menyetujui Gus Dur sebagai caleg
utusan golongan. Tapi yang lebih salah adalah Gus Dur, kenapa dia menerima
begitu saja usulan tersebut. Ini bukti kekerdilan wawasan demokrasi Gus
Dur," kata pengamat ini.

        Lebih lanjut pengamat ini mengingatkan bahwa pencalonan Amien Rais
dari Poros Tengah merupakan olok-olok terhadap Gus Dur. "Untuk menjelaskan,
ini lho Gus Dur ternyata mau main kotor juga," katanya. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Sep 1999 jam 15:43:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke