----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Suplemen Republika, 27 September 1999

Nasionalisme Melawan Si Usil Aussie

Oleh: Anif Punto Utomo - Wartawan Republika

Pada akhir abad 17, kriminalitas meningkat pesat di
Inggris. Akibatnya populasi narapidana terus
membengkak, sehingga mereka kekurangan tempat
untuk menampung para penjahat itu. Selama beberapa
tahun, narapidana itu dibuang ke Amerika. Tapi ketika
perang kemerdekaan meletus di negeri itu, pembuangan
pun dihentikan.

Kemudian terpikirlah untuk membuang ke Australia.
Sebuah pulau raksasa temuan Kapten Cook pada 1770,
yang berada di belahan bumi lain yang merentang sejauh
lebih dari 20 ribu kilometer dari Inggris. Maka
berangkatlah serombongan orang Inggris yang dipimpin
Kapten Arthur Philip pada 13 Mei 1787.

Rombongan besar itu bertolak dengan 11 kapal, enam di
antaranya khusus untuk narapidana. Jumlah total
rombongan itu 1.487 orang, separo di antaranya atau
tepatnya 759 orang adalah narapidana. Para narapidana
itu memang ada yang tahanan politik, tapi sebagian besar
adalah penjahat kriminal, baik pria maupun wanita.

Tepat pada 26 Januari 1788, rombongan itu mendarat di
Teluk Port Jackson yang kemudian dinamai Sydney Cove.
Mereka langsung mendirikan Pemerintahan dan
membagi-bagikan tanah, seolah tanah itu milik mereka
sendiri. Hak milik atas tanah itu masih atas nama
pemerintah kolonial Inggris.

Orang Aborigin, pemilik sah tanah Australia, hanya diam
saja ketika melihat orang kulit putih itu masuk tanpa
permisi dan mengobrak-abrik tatanan yang ada. Mereka
tidak melakukan protes apa pun. Kelak orang Aborigin ini
selain selalu diinjak-injak hak asasi manusianya, juga
hanya jadi pajangan untuk dipamerkan pada turis asing.

Wilayah yang luas dari Australia membutuhkan banyak
tenaga untuk mengolahnya. Karena itu pengiriman
narapidana terus berlangsung. Di perkirakan pengiriman
penjahat itu baru berhenti pada 1850. Bahkan untuk
kawasan Australia Barat sejumlah kuota narapidana
masih diterima sampai 1868. Para narapidana itu selalu
datang dengan baju bertuliskan POHM (Prisoners of His
Majesty atau Tawanan Raja).

Pada awalnya, perekonomian Australia berkembang
dengan mengandalkan hasil ternak. Wol dari biri-biri
menjadi andalan utama mereka sampai 50 tahun setelah
''penjajahan''-nya. Pada 1851 penduduknya membengkak
tiga kali lipat menjadi 400.000 ketika ditemukan tambang
emas. Sejak itu industri pertambangan kemudian
mendominasi perekonomian mereka.

Kini, Australia -- yang dibesarkan oleh narapidana
sembari menginjak hak asasi suku lain -- telah menjadi
salah satu negara makmur di dunia. Pendapatan per
kapita negara berpenduduk 18,9 juta itu sekitar 18.500
dolar AS. Bandingkan dengan Indonesia yang cuma 550
dolar AS.

Celakanya, Indonesia justru menyumbang banyak
terhadap kekayaan Australia. Dari segi perdagangan,
Indonesia selalu defisit dibanding Australia. Pada 1998,
perdagangan kita defisit 847 juta dolar AS. Defisit itu
memang sedikit menurun pada tahun ini karena krismon
masih mendera.

Dari segi pendidikan, kita juga banyak menyumbang ke
negara benua itu. Diperkirakan ada enam ribu
mahasiswa Indonesia yang cari ilmu di sana. Dari jumlah
itu hanya sekitar 10-15 persen yang merupakan
mahasiswa dari beasiswa luar negeri, selebihnya adalah
mahasiswa yang dibiayai oleh kantong orang Indonesia.

Masalahnya adalah mahasiswa Indonesia itu membayar
sekolah sampai 10 kali lipat dari orang Australia sendiri.
Jadi kita telah mensubsidi mahasiswa asli Australia itu.
Tak heran kalau pemerintah Australia gencar
melakukan promosi agar orang Indonesia sekolah di sana.
Ternyata kantong kita dikuras untuk membiayai
mahasiswa bule itu.

Bagaimana wisatawan? Memang sebagian besar turis
asing yang ke Indonesia, terutama Bali, datang dari
Australia. Tapi jangan lupa, ratusan ribu orang Indonesia
juga piknik atau sekadar berkunjung ke Australia,
menengok anak sekolah misalnya.

Bedanya, sebagian besar turis Australia itu adalah turis
''miskin''. Mereka, bisa jadi, bule pengangguran yang
mendapat tunjangan 400 dolar Australia per bulan.
Dengan tunjangan sejumlah itu, untuk hidup di Australia
amat sangat mepet, tapi untuk hidup di Bali, sudah cukup
mewah.

Sebaliknya, orang Indonesia yang ke Australia --untuk
apa pun maksudnya-- sebagian besar adalah orang kaya.
Ketika datang ke negara itu, mereka membawa segepok
uang yang akan habis dibelanjakan (orang Indonesia
memang terkenal suka belanja). Belum lagi belanja
mahasiswa biaya sendiri yang kebanyakan juga anak
orang kaya dan super kaya.

Pekerja juga begitu. Orang Australia yang bekerja di
Indonesia hampir semua pekerja kerah putih. Gaji
mereka ribuan dolar per bulan. Sebaliknya, orang
Indonesia yang kerja di Australia adalah pekerja rendah
alias kerah biru. Kadang bukan karena orang kita tak
mampu, tapi Australia terlalu rasialis untuk bisa
menerima orang Asia bekerja di kelas kerah putih. So,
uang yang dibawa 'kabur' pekerja Australia jauh lebih
besar ketimbang uang yang dikirim orang kita dari
Australia.

Jangan lupa pula bahwa setidaknya dalam jumlah ratusan
orang kaya Indonesia telah membeli rumah atau
apartemen di Australia. Sementara hampir tak ada orang
sana yang membeli rumah di sini. Lari lagi uang kita.
Belum lagi larinya uang orang Indonesia di tempat
perjudian, baik di Perth atau di Christmas Island.

Dengan melihat kenyataan itu, ketika ''Aussie'' (sebutan
buat orang Australia) dengan melakukan teror yang
melanggar HAM dan aneka boikot, perlu juga kita
bersikap tegas. Balas dengan aksi boikot, setidaknya di
perdagangan. Toh sebagian besar impor kita dari Australia
gampang dicari di pasar internasional, terutama untuk
produk pertanian dan peternakan. Siapa tahu justru lebih
murah, seperti daging misalnya.

Ada ide, boikot ini bukan dilakukan atas instruksi
pemerintah, melainkan lewat asosiasi. GINSI misalnya,
memang sudah siap memboikot impor dari Australia.
Kadin atau asosiasi yang lain, barangkali perlu
bersiap-siap jika memang Australia makin keterlaluan.

Aussie yang usil ini memang perlu kita beri pelajaran.
Inilah saatnya becermin melihat seberapa besar
nasionalisme kita.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Sep 1999 jam 06:25:52 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke