---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 27 September 1999 Jangan Biarkan PBB Terus Menghina MELIHAT gerak-gerik pasukan multinasional Interfet Timor Timur (Timtim), membuat kita tersinggung dan direndahkan. Pasukan yang dikirim PBB pimpinan Australia itu, terang-terangan memihak kepada kelompok pro kemerdekaan dan mengganggap yang pro integrasi seolah hama yang perlu dimusnahkan. Rakyat Timtim pro integrasi mungkin memiliki senjata bersahaja, namun pasti karena merasa jiwanya terancam, telah diburu dan digrebek dengan menggunakan tank-tank dan senjata berat lainnya, ditangkap dengan kasar. Seolah seluruh kesalahan tertumpah kepada pro integrasi, kepada Indonesia, baik kepada pemerintah, rakyat maupun TNI. Inilah buah opsi yang ditawarkan pemerintah yang memutuskan begitu saja untuk menggelar jajak pendapat. Kini kita tak habis-habisnya menyesal dan berpikir, kalau opsi merdeka atau berintegrasi itu tadinya tidak tergesa-gesar kita sodorkan, mungkin keadaan di Timtim tidak begitu parah. Meskipun ada kerusuhan kecil di sana- sini, tapi penduduk di sana tidak terbelah menjadi hitam putih seperti sekarang, berhadap-hadapan dalam permusuhan yang sulit didamaikan. Tidak akan terjadi eksodus pengungsi yang jumlahnya lebih dari 200 ribu jiwa. Seandainya Presiden Habibie waktu itu mau bertindak politis, dia sebenarnya bisa hilang pada PBB, oke kami setuju digelar jajak pendapat di Timtim. Tapi sabar dulu, pemerintah tidak berwenang memutuskannya karena ini wewenang MPR. Rasanya PBB bisa memahami dan kita akan punya waktu cukup panjang untuk menggelar jajak pendapat yang benar-benar adil dan tidak menimbulkan gejolak di dalam negeri. Jajak pendapat pun hasilnya menghasilkan perbedaan pendapat, bukan permusuhan. Kita sadar, memang ada kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat di Timtim. Tapi kesalahan-kesalahan itu dibuat oleh Orde Baru (Orba) dan dunia internasional tahun itu. Kita sebenarnya bisa memperbaiki kesalahan itu jika pemerintah yang legitimatis terbentuk dan kita bisa menata dengan lebih tenang kenegaraan kita. Itu hanya soal waktu. Tapi, ya, tidak ada gunanya lagi penyesalan tentang Timtim. Yang kita inginkan sekarang adalah agar bangsa ini tidak kian dipermalukan dunia internasional oleh masalah Timtim. Kita tidak boleh hanya bersikap defensif menerima saja perlakuan Interfet terhadap yang pro kemerdekaan. Kita tidak boleh hanya sekedar membela diri di forum-forum internasional, tapi harus aktif berofensif. Kenapa? Karena begitulah adat diplomasi barat yang kita hadapi. Bahwa kita punya kesalahan-kesalahan, memang. Tapi mereka di sana yang di barat, yang di PBB, juga punya banyak kesalahan. Di sana ada yang disebut Zionis, ada Nazi, ada Facis, ada kolonialisme, ada imperialisme, ada pemusnahan suku Indian, ada perburuan suku Aborigin, ada kesombongan, ada penindasan dan bertumpuk-tumpuk pelanggaran hak asasi yang telah mereka perbuat dalam sejarah manusia. Sekarangpun, mereka tidaklah hidup dalam kerukunan manis sesama barat. Eropa Daratan tak sejalan dengan Inggris Raya. Masyarakat Eropa bersaing sengit dengan Amerika. Bahwa mereka tampaknya bisa rukun, itu karena mereka pandai membungkusnya dalam misi-misi berselaput demokrasi dan kemanusiaan. Karena itu, sepatutnyalah kita menghentikan diplomasi lemah lembut dan sikap nrimo. Ganti dengan diplomasi agresif dan tidak minder. Kita pasti punya orang-orang yang bisa bicara berkobar-kobar dan menjungkirbalikkan pandangan negatif menjadi positif. Kalau tidak terdapat di lingkungan diplomat konvesional, kita punya orang seperti Hasnan Habib, Dr Roeslan Abdulgani dan tentu ada yang lain. Bahkan kitapun yakin Menlu Ali Alatas bisa berdiplomasi lebih tangkas asal pemerintah bisa sedikit "menghapusnya" untuk itu. Saat ini ada Komisi HAM PBB bersidang di Jenewa yang mengirim kita ke sudut jerat sebagai bangsa yang tidak berprikemanusiaan, dan akan ada lagi forum-forum lain mengenai Timtim. Inilah kesempatan kita untuk tidak hanya membela diri, tapi menyadarkan dunia bahwa memang ada suatu priode dalam diri bangsa Indonesia terjadi kesalahan-kesalahan. Tapi kesalahan itu akan diperbaiki dan bangsa Indonesia bakal bisa lebih berperikemanusiaan dari bangsa manapun yang pernah menjajah bangsa lain. Terutama Portugal yang setelah menindas Timtim, meninggalkan begitu saja kawasan itu secara tidak bertanggung jawab. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Sep 1999 jam 06:26:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
