----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 26 September 1999

PBB Mungkin Main Strong Action

JAKARTA, Rakyat Merdeka
Menhankam/Panglima TNI Jenderal TNI Wiranto menyatakan, Panglima
Keadaan Darurat di Timor Timur (Timtim) akan segera menyerahkan
tanggungjawab keamanan kepada interfet dalam pekan ini. Nantinya,
pasukan TNI di Timtim hanya Satuan Tugas Timor Timur yang akan
tergabung dalam join security consultatitve group dengan Interfet.

"Jadi pasukan itu secukupnya, tapi satuan itu tidak akan
berkeliaran di lapangan. Supaya tidak ada miskomunikasi atau dua
tanggung jawab yang berbeda dengan Interfet," kata
Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto.

Menurut Wiranto, fungsi pasukan TNI di Timtim memberikan saran,
masukan, dan informasi kepada pasukan multinasional. "Kita juga
meninggalkan satuan-satuan untuk mengamankan obyek-obyek penting
di sana. Misalnya, Pertamina, lapangan terbang, pelabuhan, kantor
pemerintah daerah, yang sifatnya statis mengamankan milik negara,"
papar Wiranto.

Lebih jauh dijelaskan, sebenarnya sejak kedatangan pasukan
Interfet yang dipimpin Australia, sudah dilakukan serah terima
keamanan di Timtim kepada Interfet.

Serah terima awal itu, dilakukan komandan unit per unit. "Mereka
menyerahkan di kelompok kecil, makin besar, makin besar dan
terakhir finish-nya di tingkat komanda Interfet menerima dari
Panglima kita," ujar Wiranto lagi sebelum acara silaturrahmi
Presiden Habibie dengan anggota DPR di Istana Merdeka Jakarta,
Jumat (24/9) lalu.

Menyinggung situasi di Timtim sejak diberlakukan tertib sipil,
Wiranto mengaku sudah berangsur-angsur baik. Walaupun diakuinya
pula masih ada pembakaran dan tindakan kekerasan dalam batas
normal. Karena situasi berangsur aman, sambung Wiranto, maka
pasukan TNI akan dikumpulkan di tempat-tempat embarkasi untuk
ditarik dikembalikan ke kesatuan masing-masing.

Menanggapi ulah pasukan Interfet yang berlaku keras dalam
menertibkan milisi pro integrasi, Wiranto menjelaskan, disitulah
perbedaan pengamanan pasukan Interfet dan TNI. "Standar yang ingin
dilakukan PBB barangkali strong action. Kalau ada kesalahan,
ditindak tegas, bahkan kalau perlu tembak," kata Wiranto.

TNI, masih kata Wiranto, telah menjelaskan kepada Interfet
mengenai situasi terakhir di Timtim. "Jadi kalau Interfet sekarang
melaksanakan kegiatannya, sama sekali di luar tanggung jawab kita,
" ujarnya.

Karena itu, jika terjadi complain dari masyarakat internasional,
silakan dialamatkan  kepada Interfet. "Seperti kita sekarang ini
di-complain dunia internasional mengenai perlakuan terhadap
masyarakat Timtim. Kita fair saja, kalau kita dianggap melanggar
diekspos, kalau pihak lain dibiarkan. Itu, kan tidak
proporsional," cetus Wiranto.

TNI, tambah Wiranto lagi, memiliki hambatan psikologis dan sulit
menembak rakyat Timtim yang merupakan para pejuang integarasi.
"Kalau kita (TNI) mengamankan Timtim dengan cara soft dan melalui
pendekatan. Kita panggil pemimpin dan tokohnya, kita jelaskan
supaya jangan mengangkat senjata, karena tidak ada gunanya dan
sebaiknya mengalihkan kepada gerak-gerakan politik untuk bisa
berpartisipasi pada negara baru," papar Wiranto. (FN)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 30 Sep 1999 jam 06:42:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke