----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


KORBAN-KORBAN PENINDASAN TNI DI "TRAGEDI SEMANGGI II"

        JAKARTA, (TNI Watch!, 1/10/99). Bentrokkan Semanggi meninggalkan
duka dan kegeraman. Pasukan TNI dengan membabibuta menindas demonstrasi yang
menentang dominasi militer itu. Beberapa korban kekerasan TNI dalam "Tragedi
Semanggi II"  misalnya diinjaki saat masih terlelap di malam hari di
kompleks kampus Universitas Katolik Atmajaya, ketika ratusan anggota TNI
menyerbu kompleks kampus itu. Yang lain warga sipil yang tidak tahu menahu,
namun menjadi korban kebrutalan TNI dalam "pertunjukan" yang dilakukan dalam
operasi subuh Jumat (24/9).

Beberapa korban dan saksi mata menceritakan pada TNI Wacht!.

        MOHAMAD PEMA FAISAN, mahasiswa Atma Jaya hingga saat ini masih
dirawat keluarganya di RS swasta di Jakarta Selatan. Menurut saksi mata,
Pema ditembak Kamis (23/9) malam sekitar pukul 20.00 Wib saat menuju Mapolda
Metro Jaya. Saat itu Pema akan pulang dan ketika terdengar suara tembakan,
Pema dan beberapa mahasiswa lainnya menunduk dan berjalan dengan
mengendap-endap di tengah rentetan tembakan. Saat itu Pema tertembak,
sebutir peluru tajam mengoyak rahang kanan mahasiswa angkatan 99 ini. Darah
membasahi baju kausnya. Hasil pemeriksaan awal menyebutkan, rahang kanan
Pema retak dan sepuluh buah giginya tanggal.

        ROBERT ANDERSON, saat itu hendak bersembunyi di teras markas Menwa
Atma Jaya. Namun sekitar delapan orang tentara dari kesatuan gabungan PHH
Kodam Jaya memergoki dan menyeretnya. Drama penganiayaan dimulai  dengan
injakan dan bogem mentah ke tubuh mahasiswa angkatan 99 itu. Jerit kesakitan
justru membuat aparat semakin brutal. Seraya mencengkeram batang leher
Robert, tentara itu meletuskan pistolnya dengan menempelkannya di atas lutut
kanan. Seorang saksi mengungkapkan saat itu Robert meraung kesakitan keras
sekali. Aparat yang lainnya makin bernafsu mendengar jeritan Robert dan
melayangkan pukulan dengan popor senjata di belakang kepala. Korban yang
sudah tidak bisa bergerak itu diseret aparat ke truk dan dibawa ke Mapolda
Jaya. Esok harinya darah berceceran masih terlihat di markas Menwa. Rabu
(29/9) korban ditemukan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto,
Jakarta. Dalam pemeriksaaan polisi, korban yang kesakitan dipaksa mengakui
bahwa ia membawa bom molotov untuk melawan TNI dan polisi.

        DIMAS, mahasiswa Unika Atma Jaya. Dimas sedang tidur pulas saat
diserbu pasukan TNI. Ia kemudian diinjak-injak dan dalam keadaan tidak
sadarkan diri ia diseret ke Mapolda Jaya. Dengan luka memar akibat injakan
dan seretan aparat Dimas dikenai tuduhan melanggar pasal 170 dan 124 KUHP,
yang diantaranya penyerangan pada aparat dan membawa senjata tajam. Itupun
masih ditambah bonus penjara selama empat hari tanpa prosedur yang jelas.
Menurut korban, ia terjebak tidak bisa keluar kampus dan tidak membawa
senjata apapun seperti yang dituduhkan aparat.

        TEJO SUKMONO, pemuda berusia 31 tahun. Saat serangan subuh sedang
siskamling. Kamis sore itu (23/9), tak jauh dari tempat tinggalnya situasi
unjuk rasa sedang memanas. Tak jauh dari lokasi amuk massa, malam itu, Tejo
melakukan tugasnya di pos siskamling di wilayah RT 003/RW 02 Kelurahan
Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hingga dini hari,
piket yang dijalaninya berlangsung mulus. Sarjana ekonomi lulusan STIE
Swadaya itu hampir menyelesaikan piket siskamlingnya ketika serentetan
tembakan terdengar berkali kali di kampus Atma Jaya.

        Ia bergegas menuju Masjid Al Mubarok. Dengan baju putih dan tasbih
di tangan, dia bermaksud melaksanakan salat subuh. Tejo yang sedang menuju
ke masjid bertemu dengan massa yang berlarian. Mereka dikejar-kejar aparat
keamanan. Melihat hal ini, Tejo pun berusaha kabur. Aparat keamanan terus
memburu mereka. Tiba-tiba doorrr... senjata api menyalak. Salah satu peluru
karet menghantam biji mata Tejo. Tubuh Tejo seketika limbung. Sembari
menyelamatkan diri dengan tergopoh-gopoh dan darah mengucur dari mata, ia
berlari menuju warung tongseng yang tak jauh dari lokasi kejadian. Pikirnya,
di sana akan ada orang menolongnya. Dugaan Tejo meleset. Tiga orang anggota
TNI berseragam PHH mengejarnya. Tanpa bertanya buk... buk... buk... Popor
senjata menghujani tubuh pemuda malang itu. Setelah puas melampiaskan
kemarahannya, aparat itu pergi begitu saja. Dengan tubuh bermandikan darah
dan sempoyongan karena pusing, dia berusaha keluar dari warung tongseng.
Rupanya rasa sakit tak tertahankan lagi. Tubuh pemuda itu akhirnya ambruk di
depan warung.

        Tejo dibawa ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Angkatan Laut
Mintohardjo. Menurut Asmita, Ketua RT 003/RW 03 Kelurahan Bendungan Hilir,
korban yang sudah terkulai lemas dengan bermandikan darah, ditolak petugas
rumah sakit.
        Tak ada jalan lain, untuk menyelamatkan nyawa Tejo, warga membawa ke
RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Keluarga Tejo hingga kemarin sudah
menghabiskan uang Rp 2,5 juta di luar pembayaran uang muka gawat darurat.
Untungnya warga Kelurahan Bendungan Hilir masih memiliki rasa solidaritas
terhadap sesama warga sipil, dengan mengumpulkan uang untuk membantu korban.
Uang yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 1.250.000. Namun, sebelah mata
Tejo kini buta, karena bijih matanya pecah.

        Suyatno, 60 tahun, dan Marlia, 58 tahun, orang tua Tejo, hanya bisa
menitikkan air mata saat menerima sumbangan dari warga. Suyatno kini tak
bisa apa-apa. Pensiunan PT Samudra itu mengidap penyakit jantung. Kerabat
dan warga sekitar geram akan kebrutalan aparat TNI yang semena-mena itu.

MOBIL DITEMBUSI PELURU
        Sekitar 30 mobil berlubang ditembusi peluru. Sebuah Jeep Wrangler
warna merah ditembusi paling tidak delapan buah peluru tajam. Mobil buatan
Amerika yang berbody tebal itu tampak bolong karena ditembusi peluru. Banyak
mobil yang dirusak aparat di pelataran parkir Atma Jaya hilang tape
mobilnya. Sejumlah saksi mata mengatakan, aparat TNI yang mengambilnya. Para
prijurit yang kalap itu ternyata tak hanya ingin membunuh mahasiwa namun
juga punya agenda lain: menjarah barang-barang milik mahasiswa. ***

_____________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Oct 1999 jam 23:26:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke