---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Okelah..sesuai dengan janji tempo hari, ini saya tuliskan laporan perjalanan saya dan bini selama 4 hari menjelajah Iowa dan Illinois. Perjalanan ini mungkin tidak begitu penting dibaca, apalagi buat netter yang memang kebetulan tinggal di Amerika, tapi..buat netter domestik yang terpenjara di tanah air, yang cuma bisa melongo lantaran kurang duit, yang gagal ngambil visa di Kedubes Amerika ( ekcus mi ser, this card name, opss name card is ril..yu ken cek or calling to my ofis there ip yu dont belif mi- si bule di loket visa tetap menggeleng menolak dan uang setengah juta andapun lenyap... ) jelas adalah satu hiburan yang murah meriah.. MOBIL BARU Sabtu itu saya tidak jadi beli Mazda 626 tahun 93 lantaran kami menemukan Dodge Stratus 97 di American Auto dealer yang menjual dengan harga terjangkau ( $ 7200 plus tax ) harga ini jauh dibawah pasaran,selain milagenya masih rendah, mobil ini juga memiliki garansi 3 bulan, jadi tanpa menunggu lama, kami langsung memberikan uang muka ( oi inget bleh..gue bukan orang kaya..lu pikir gue sanggup beli mobil kontan ?) dan setelah urusan surat menyurat selesai kami langsung bawa itu mobil sedan medium size bermesin 2.4 liter dengan 24 katup,ac dingin , bekas tante ? opss bukan.. bekas seorang salesman, berbody mulus dan asoy.. he he Seperti layaknya anak udik, Sabtu seharian saya muter muter mencoba mobil baru ini, you orang mesti ngerti dong.. saya memang anak udik, walaupun sudah ngamerika..mental udik masih tetap bertahan lama di balik ini dada. MINGGU. Di tengah mendung siang, kami cabut..but..but.. Di pertengahan highway 13 menuju Kansas, saya sempat heran..kok naik mobil ini badan saya rasanya tidak pernah capek ? Mungkin karena kelamaan make itu misubitshi tua yang mesinnya hobby menderik seperti jangkrik, membuat mobil baru ini serasa seperti sebuah surga empuk tempat pantat saya bisa istirahat sambil menikmati suara halus mesin dan stereo yang mendesah desah...ah saya merasa begitu kaya ( well at least saya merasa kaya sampai cicilan mobil mulai berdatangan bulan depan ) Sore jam 6, kami sampai di tempat Aunt Geneva. Bibi bule ini nampak begitu riang menyambut kedatangan kami, rambutnya yang mensalju itu membuat parasnya makin rupawan. Dibandingkan dengan Tuty Alawiyah, Aunt Geneva yang berumur lebih dari 70 tahun masih nampak seperti model covergirl, sedang si Tuty adalah perek tua bermuka kulit kutil yang kerutnya tidak mempan disetrika. SENIN. Setelah menginap semalam di Kansas City, kami meneruskan perjalanan ke Iowa memakai interstate 35. Mendung tetap saja menjajah cuaca., Sepagi ini freeway menuju utara itu masih lenggang. Menjelang kota kecil bernama Cameron, hujan turun dengan deras membuat jiwa udik saya bangkit kembali atas nostalgia lama, ketika sang proletar kecil bermain bola plastik di lapangan becek di lapangan Merah, Pejompongan. Dibawah hujan deras itu Proletar untuk pertama kali dalam hidup, setelah bermain bola puluhan kali menciptakan goal bak Maradonna, setelah si Anong sang penjaga gawang tim sendiri meleng nggak ngeliat bahwa saya mengumpan bola padanya.Goal pertama itu adalah goal ter akhir bagi saya, sejak itu jelas saya tidak pernah di ajak kembali untuk bermain dengan tim alap-alap -tim kebanggan gang saya itu ( well anyway, kalo main juga, proletar jarang dibagi bola..) Hujan terus mengguyur kami sampai keperbatasan Iowa, Pemandangan mulai terasa berbeda, Negara bagian yang berbentuk petak persegi ini kelihatan lebih teratur dan bersih. Pepohonan lebih berwarna warni, mungkin lantaran musim gugur datang lebih cepat di sini, Des Moines, kota terbesar di Iowa juga nampak lenggang dan mengundang. Rumah dan apartemen di sini nampak masih begitu baru dan teratur. Down Town kota ini juga kelihatan ramah, gedung Capitol yang sedang di pugar kubahnya juga penuh dengan detail art yang memikat. Des Moines sangat cocok untuk tinggal dan belajar. dan lebih dari cocok untuk seorang penulis mencari inspirasi. Seperti Lincoln City di Oregon, Monterey di California, Seatle di Washington, dan sederetan kota kecil di New England. Tapi Des Moines kami tinggali, karena waktu yang mepet dan banyak urusan yang mesti dikelari di Chicago nanti. Berbelok di interstate 80 menuju timur ( interstate di Amerika selalu diberikan nomor genap dan ganjil, nomor genap adalah freeway yang melintang dari barat ke timur, nomor ganjil melintang dari utara ke selatan ) Tidak ada yang menarik untuk diceritakan karena di sepanjang jalan, yang kami lihat cuma ratusan peternakan dan ribuan lembu dan domba yang sibuk mengunyah rumput between ratusan ranch yang bertebaran bagai permadani. Davenport adalah kota di pesisir Missisipi River,kota ini juga kecil dan apik.Tapi sebalnya sekali lagi, kami tidak punya waktu untuk singgah berlama lama. Melesat menghujam negara bagian Illinois,kami langsung berbelok di Freeway 88 yang di penggal beberapa kali oleh toll road menuju Chicago. Setelah membayar 35 sen 3 kali di tiga gerbang, kami sampai dan terjebak macet di kota Aurora ( sekitar 30 miles dari Chicago) Aurora adalah sebuah industrial complex yang sangat booming, Lusinan gedung baru nampak sedang dibangun. Suasana canggih begitu mendominan, puluhan corporation raksasa mempunyai head quarter di sini. Gedung kaca dan metal berarsitek modern, post modern, millenium style,2001 Kubricks influence bertebaran di sana sini. ( eh saya mau masak dulu..laporan akan diteruskan di tulisan berikutnya...gile laper gue nih, lu kira ngoceh beginian ngga ngabisin enersi ape ? ) Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Oct 1999 jam 17:48:35 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
