---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Dari Aurora, mobil kami merangkak menuju down town Chicago. Samar-samar Sears Tower ( gedung yang sebenarnya 150 feet lebih tinggi dari Petronas, tapi kalah kampanye untuk mempertahankan gelar tertinggi di dunia lantaran arsitek gedung di Kuala Lumpur itu secara licin menaruh tiang besi di puncaknya) nampak menjulang ke angkasa. Tapi jelas saya tidak tertarik dengan segala sesuatu yang ter..( terbesar , termegah, tertua, terpendek dan terbotak seperti Habibie, terlicik seperti Rais, tergila seperti Gus Dur terspilis seperti Wiranto, teridiot seperti ratusan mahasiswa Gunadarma- sebuah kampus tidak berguna dan tidak pernah berdarma selain memeras duit orang tua mahasiswa -yang mendemo kedubes Australia baru baru ini..). 2 tahun yang lalu saya pernah naik ke puncak Sears Tower, apa yang istimewa dari ngeker ngeker di atas sana..? Apa bangganya pernah naik di Sears Tower, Eifel, Monas, Stratosphire tower? Kebanggaan semu ini cuma dimiliki sama orang-orang norak yang kebanyakan beli oleh-oleh seperti rombongan ibi ibu mentri dan Dharma wanita.... Adalah rasa lapar yang membuat kami berbelok kanan di State Street menuju Chinatown. Dan ini pesan bagi anda wahai para anticina, wahai muslim cupet, wahai para habib yang hobby ngomong soal bahaya orang kafir, wahai simpatisan KISDI yang sok very pribumi.. " Ketika anda berada di luar negri, ketika anda jalan-jalan ke Amerika sini, anda bakalan susah dan mungkin mati kelaparan karena tidak bisa menemukan nasi selain di RESTAURANT CINA atau restaurant milik ORANG CINA " Anda boleh melolong sok alim , anda boleh bersikeras ketika jalan jalan di great prairie di Montana, anda boleh muter muter Las Vegas, Ketika perut anda nyap-nyap minta diisi nasi dan menu asia yang pedas dan nyaman, anda tidak punya pilihan untuk tidak singgah di restaurant bernama " Peking House " atau " Golden Temple Restaurant " atau " Bamboo Inn " atau " Shang-Hai Restaurant " . Karena Restaurant Indonesia hampir tidak anda temukan di semua kota besar di Amerika kecuali di New York, Los Angeles, San Francisco. Dan bila anda datangi restaurant indonesia itupun, pemiliknya hampir semua orang CINA..! Oh, oh anda bilang, " gue bisa makan di Thai Restaurant atau Malaysia Restaurant " ha ha anda bakalan kecele juga, sebab lagi lagi pemilik restaurant itu kebanyakan juga cina-thai dan cina-malay..ho ho ho... Jelas , kami makan itu roast duck di sebuah restaurant cina dengan lahap. Bukan saja harganya murah ($3.95) tapi masakannya memang lezat, dan teh cina yang panas membuat seluruh pori pori saya menghangat di antara udara mendung seperti ini. CERITA TENTANG MOTEL Matahari sudah lama hilang dari langit, gerimis terus saja menyapu permukaan bumi, setelah kenyang berbebek ria ( Damn, si Vicky juga tergila gila dengan bebek panggang mengikuti selera lakinya, dia campur duck saus yang manis beserta sedikit chili dan soy saus sebagai penyedap ) kami mencari Motel 6 atau Motel 8 atau Days Inn yang murah meriah untuk melepaskan lelah. Jelas untuk mencari yang murah kami harus menjauh dari Down Town ( hotel dan motel di sana rata rata diatas 150 dollar lebih harganya ) kami menyusur jalan demi jalan tapi hampir sejam lebih motel tidak kami temukan, kami susuri Interstate 55 menuju selatan, tapi sosok motel juga tidak nampak kelihatan. Frustasi lantaran capek dan pusing muter muter seperti ini,memang ada berkahnya..karena akhirnya walaupun kesasar kamu menemukan Hispanic Area , sebuah distrik tempat orang Amerika Latin tinggal dan berbisnis yang luar biasa luas dan gede di sebelah barat Chicago. Saya tidak membayangkan menemukan kawasan besar yang bisa menyaingi East LA dan South Central seperti di Los Angeles sana, di Chicago sini. Tapi city tour tidak resmi ini cuma sebentar kami nikmati. Vicky mulai nampak begitu lelah setelah menyetir lebih dari 500 kilometer.Berbelok Cicero Avenue menuju kawasan Midway Airport, akhirnya kami menemukan deretan motel yang nampak murah meriah. Saya bersemangat untuk berhenti, tapi saya jengkel pada Vicky yang nggak mau nginap di motel sembarangan dan kelihatan dekil, kami mulai beragumen kembali seperti yang sudah sudah. " Well, kita ngga punya pilihan..mau istirahat di kamar atau nginep di mobil ? " " Well, I dont want to stay di motel berkecoa yang selimutnya rombeng dan bau iler " kata dia tegas.. Saya mulai marah... " Look...yang namanya tidur kan cuma sebentar.. Apa kita harus balik ke downtown dan ngabisin duit 175 dollar di Hollyday inn cuma buat ngorok ?" Dan mungkin lantaran puyeng, dia akhirnya mengalah, saya turun dengan gagah di sebuah motel kecil bernama Air Sky Motel untuk menanyakan kamar kosong. "Excuse me sir, masih ada kamar kosong ?" tanya saya pada seorang India yang menjaga front Ofiice yang mini dekil. " Mau makai short term atau long term ? " Tanyanya yakin " What ??" Saya nggak ngerti.. " Mau makai 4 jam atau semalaman penuh ?" si India mengulang kembali. Saya kaget setegah mati, ini motel adalah tempat orang main dengan pelacur, ini adalah motel kecoa, motel busuk yang pasti bau sperma.. " Look, I just want to sleep here..nggak nyari apa apa " Jawab saya lantaran tersinggung karena disamakan dengan cowok ngaceng yang cari kamar buat ngamar.'' " Its 85 dollar per night .." Jawabnya enteng. " Anjing loe..! " Jawab saya dalam bahasa Indonesia sambil begegas keluar sambil mikirian " Emangnya gue si Noer Muhammad Iskandar yang booking kamar buat main sama janda teman sendiri ? " Vicky tersenyum lega dan merasa menang lantaran kami tidak jadi nginap di motel busuk ini. Saya jelas tidak kecewa dan rela menghabiskan uang 100 dollar dari pada nginap di kerajaan penyakit seperti ini. Motel 6 yang bersih dan baik rata rata harganya 45 dollar, Best Western sekitar 60 dollar, lah motel mesum macam motel india tadi harganya benar benar edan. Setelah muter kesana kemari, setelah berhenti dan tanya di pomp bensin beberapa kali ( lagi lagi pemiliknya orang India ) kami menemukan Red Roof Inn di kota kecil bernama Willowbrook sekitar 20 miles di selatan Chicago. Menemukan motel yang new and clean ini, membuat kami lega...$65 dollar tarifnya kami bayar dengan enteng. Gerimis telah berubah menjadi hujan lebat, kami nyalakan TV , Vicky segera mandi air hangat, saya rebahan di pembaringan melepaskan penat. Hari pertama di Chicago... Kesan pertama yang saya temukan adalah mumet dan butek lantaran begitu susahnya cari motel.. Di San Francisco, Di Portland, Di Eugene, di Washington DC, di Boston bahkan di Los Angeles sekalipun mencari motel yang murah dan bersih alangkah gampangnya.. Tapi di sini...Yang pertama kali ketemu adalah motel cabul...secabul muka Baramuli... ( bersambung he he...) Hasan Basri October3,99 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Oct 1999 jam 19:38:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
