----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 30 September 1999

Howard Takut RI Boikot Australia

CANBERRA -- Reaksi pemerintah dan pengusaha Indonesia yang kompak
ingin memboikot perdagangan dengan Australia membuat takut PM John
Howard dan Menteri Perdagangan Mark Vaile.

Howard dalam wawancara dengan CNN, kemarin berbalik arah dengan
menyatakan Australia ingin tetap memelihara hubungan ekonomi kedua
negara meskipun ada ketegangan karena masalah Timor Timur.

Pernyataan Howard itu menyusul keputusan Menperindag Rahardi
Ramelan yang mendukung niat pengusaha RI menghentikan impor dari
Australia. Howard sebelumnya menyatakan, siap mengorbankan
hubungan dengan RI, demi kebijakan pemerintahnya mengenai Timtim.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Australia Mark Vaile juga akan
melobi Indonesia untuk membicarakan kembali keputusan pengalihan
impor RI dari Australia. Bahkan dalam jumpa pers di Canberra,
kemarin, Vaile mengatakan, pihaknya terus melakukan kontak tiap
hari dengan Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI.

PM John Howard menilai, masalah hubungan ekonomi kedua negara
telah dibesar-besarkan secara tidak proporsional. Howard mengaku,
tetap yakin bahwa kedua negara perlu memperkuat kembali hubungan
ekonominya.

''Masih terlalu cepat untuk membicarakan berapa kerugian dari
keputusan Indonesia untuk tidak lagi mengimpor dari Australia,''
katanya. Howard beralasan bahwa ketegangan hubungan Canberra-
Jakarta karena keputusan Australia dalam masalah Timtim.

Bagi pemerintah Howard dari Partai Liberal, jika aksi boikot
perdagangan itu berlanjut maka kemungkinan besar akan mempengaruhi
posisi politiknya di dalam negeri.

Howard dan pemerintahnya akan mendapat reaksi keras dan desakan
mundur dari para pengusaha dan petani gandum Australia yang akan
mengalami kerugian besar atas pengalihan impor Indonesia dari
Australia.

Sebelumnya, Menperindag/Kabulog Rahardi Ramelan mengatakan Menteri
Perdagangan Australia Mark Valle telah mengirim surat yang isinya
meminta waktu khusus untuk melakukan pertemuan bilateral di sela-
sela Sidang ke-13 Dewan AFTA di Singapura pada 30 September-2
Oktober 1999 di Singapura.

Pengajuan surat yang dilakukan oleh Australia menggambarkan bahwa
mereka memang lebih memiliki kepentingan, terutama bila aksi
boikot impor terus meluas.

Menurut Rahardi, Indonesia akan mudah mencari pasar alternatif
gandum, kapas, tekstil, gula, dan pulp yang selama ini dibeli dari
Australia.

Vaile mengaku akan bertolak ke Singapura untuk menghadiri
pertemuan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA). Di negara itu
dia telah mengajak Menperindag Rahardi Ramelan membicarakan
masalah hubungan perdagangan kedua negara. Namun ia belum bisa
memastikan apakah Rahardi Ramelan akan bersedia menerima
undangannya itu.

Namun demikian, Vaile tetap yakin bahwa pengusaha RI tidak akan
melakukan boikot seluruh impornya dari Australia. ''Kami terus
melobi mereka dan kami tidak berharap akan ada perkembangan
buruk,'' katanya.

Ia mengakui, ada keprihatinan dari pihak Indonesia mengenai
keamanan soal pengapalan barang dari Australia.

''Kami telah menekankan kembali ke Indonesia bahwa tidak ada
masalah yang menyangkut keamanan pengapalan gandum dari Australia
sebagaimana yang mereka khawatirkan,'' ujar Vaile.

Sementara itu dari Jakarta dilaporkan bahwa Pemerintah Indonesia
masih tetap menunjukkan sikap bersahabat yang baik dengan
Australia. Bahkan Mentamben Kuntoro Mangku subroto secara tegas
mengatakan bahwa Indonesia tetap akan menghormati kontrak-kontrak
bidang pertambangan dengan pengusaha Australia. Bahkan Pemerintah
Indonesia akan mengamankan investasi Australia meskipun hubungan
kedua negara memanas.

''Kita mengatakan investasi mereka kita hormati, kita amankan dan
tidak ada langkah yang konsepsional,'' tegas Kuntoro sebelum
mengikuti sidang Kabinet Bidang Polkam di Bina Graha, Jakarta,
kemarin.

Menurut Kuntoro hingga saat ini memang ada sejumlah perusahaan
Australia yang beroperasi di bidang pertambangan umum, yakni
Broken Hill Pty dan Rio Tinto.

Kuntoro berharap hubungan Indonesia dengan Australia kembali
normal dalam waktu dekat. Bahkan ia optimis ketegangan itu tidak
berlangsung lama. (ant/ris/dam)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Oct 1999 jam 05:22:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke