----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/2-8 Oktober 99
------------------------------

LUKA '65 MASIH MENGANGA

(POLITIK): Setelah 34 tahun, pembantaian massal 1965-1966 masih belum
dipertanggungjawabkan. Soeharto tetap tak tersentuh. Mestinya, MPR hasilkan
Tap tentang pengusutan crimes against humanity ini.

Gerbang milenium baru sudah di depan mata, namun masih bertumpuk `PR'
tersisa. Kegagalan pemerintahan Habibie menjalankan amanat TAP MPR Nomor XI
tahun 1998 tentang "Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme", khususnya untuk mengadili mantan Presiden Soeharto,
membuat beban negara semakin berat. Bagaimana tidak? Demi membangun kembali
reruntuhan ekonomi pasca krisis moneter, tak bisa tidak, mesti melalui
perombakan mendasar budaya KKN yang terlanjur mengakar. Dan karena kegagalan
ini, agenda-agenda lainnya pun terpaksa mengalami penjadwalan kembali -untuk
kemudian ditindaklanjuti oleh MPR RI periode 1999-2004. Padahal, persoalan
negara ini bukanlah ekonomi semata.

Masih ada lagi persoalan politik, hukum, sosial-budaya yang menunggu
diselesaikan. Ada pula tugas besar untuk meluruskan sejarah perjalanan
bangsa ini, yang telah berpuluh tahun dimanipulasi dan meninggalkan luka
menganga dalam jiwa rakyat Indonesia. Warisan 'kekerasan' yang tak pernah
terungkap tuntas ini, selalu menghantui bahkan masih dapat 'meledak'
sewaktu-waktu.

Upaya mengadili mantan presiden Soeharto misalnya, sebetulnya, tidak cukup
hanya dengan mengaitkannya dengan persoalan KKN. Sebagaimana halnya Augusto
Pinochet, Pol Pot atau Slobodan Milosevic yang dituduh melakukan crimes
against humanity, begitu pula kiranya dengan pengadilan terhadap Soeharto.
Besarnya uang yang diambil Soeharto selama berkuasa, masih lah belum
seberapa nilainya dengan jumlah nyawa manusia yang melayang pada periode
yang sama. "Jika uang yang dijarah dari negara anda terlalu besar, Anda
masih bisa mencari gantinya. Mintalah pengampunan utang," ujar seorang
wartawan Radio Nasional Swiss yang selalu memperhatikan masalah Indonesia.
"Tapi, jika satu saja jiwa melayang akibat pembantaian, Anda tak bisa
menggantinya," katanya lagi. "Apalagi jika sampai ribuan atau ratusan ribu."

Peristiwa pembantaian yang mengikuti pengambilalihan kekuasaan oleh militer
dari tangan Soekarno di tahun 1965, adalah sebuah tragedi kemanusiaan
terbesar dalam sejarah Indonesia. Bertrand Russell, filsuf besar asal
Inggris melukiskan kepedihan peristiwa itu pada tahun 1966: ".hanya dalam
empat bulan, jumlah orang yang terbunuh di Indonesia, lima kali lipat lebih
besar dibandingkan yang terjadi di Vietnam selama 12 tahun." The Washington
Post pada tahun yang sama memperkirakan angka kematian mencapai 500.000
jiwa. Sementara sumber-sumber lain, meyakini angka 600.000 hingga 1 juta
jiwa. Menurut para saksi mata, antara tahun 1965 hingga 1966, pembantaian
yang dilakukan terhadap para elit maupun kader Partai Komunis Indonesia,
dilakukan dengan sangat sadis. Dikatakan bahwa, sungai-sungai besar di Jawa
Tengah dan Jawa Timur berubah warna menjadi merah akibat darah manusia.

Mantan diplomat AS di Indonesia yang bekerja sebagai anggota US Embassy's
political section, Robert J. Martens, kepada Kathy Kadane dari State News
Service, mengakui telah menyuplai informasi tentang 5.000 nama pimpinan
teras maupun kader-kader PKI pada pihak angkatan darat Indonesia. "Informasi
itu sangat membantu angkatan darat," ungkapnya. "Mereka kemungkinan besar
telah membunuh banyak orang, dan tangan saya mungkin juga jadi berlumuran
darah karenanya." Menurut Martens lagi, informasi itu, selama beberapa bulan
diberikan secara teratur pada Tirta Kentjana ("Kim") Adhyatman, ajudan Adam
Malik. Dari Kim, informasi tersebut diberikan ke Adam Malik -yang kemudian
menjadi menteri luar negeri dan wakil presiden di era Soeharto-, yang kelak
meneruskannya ke Kostrad, markas Soeharto.

Mantan deputi CIA di Jakarta (1965), Joseph Lazarsky, mengakui, dari markas
Soeharto-lah, pihak AS mengetahui siapa saja orang-orang PKI yang telah
ditangkap dan dibunuh. "Kami mempunyai laporan yang cukup bagus di Jakarta
tentang siapa saja yang sudah 'diambil." Ungkapnya lagi, "Angkatan darat
mempunyai sebuah "daftar tembak" antara 4.000 hingga 5.000 orang." Lazarsky
juga mengaku tahu persis bagaimana perlakukan pada para tahanan yang
ditempatkan di rumah-rumah tahanan. "Kami tahu, beberapa di antaranya
(tadinya) akan dibiarkan tetap hidup, dan dihindarkan dari pengadilan.
Namun, Soeharto dan pembantu-pembantunya juga mengatakan, jika kamu
membiarkan mereka hidup, kamu harus memberi mereka makan."

Karena begitu banyaknya orang-orang PKI yang terbunuh, pada akhir Januari
1966, analis CIA di Washington mengambil kesimpulan bahwa "kepemimpinan PKI
telah berhasil dihancurkan." "Tak ada yang peduli, dengan pembantaian massal
itu, selama korbannya adalah orang-orang komunis," demikian kesimpulan
Howard Federspiel, yang pada tahun 1965 bekerja pada Biro Intelejen dan
Riset, Kementerian Luar Negeri AS.

Keterkaitan antara CIA dengan Soeharto pada pertengahan tahun 60-an itu,
dengan sendirinya menimbulkan dugaan kuat bahwa ia juga tersangkut dan
bertanggungjawab terhadap rencana 'pendongkelan' Presiden RI pertama,
Soekarno. AS seperti diakui oleh CIA sendiri, mempunyai kepentingan untuk
menjatuhkan Soekarno yang dianggap 'ancaman', karena kedekatannya dengan dua
kutub komunis dunia, China dan Uni Sovyet. Soeharto sendiri menurut San
Francisco Chronicle (edisi 24/9/83), sejak Mei 1965 telah mendapatkan
bantuan peralatan militer dari Angkatan Udara AS, melalui Lockheed. Secara
formalnya, yang terjadi adalah 'penjualan' senjata ke pihak Indonesia, namun
belakangan diketahui CIA membayar ganti rugi pada Lockheed lewat apa yang
disebut 'komisi' pada AU-AS (The Arms Bazaar, Anthony Sampson, 1977).

Ada banyak versi tentang peristiwa '65, termasuk versi angkatan darat yang
menuduh PKI sebagai satu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab. Namun,
tak satupun yang terang-terangan membantah keterlibatan militer di bawah
pimpinan Soeharto dalam pembantaian ratusan ribu nyawa manusia. Hingga kini,
tak ada pertanggungjawaban terhadap tragedi berdarah itu. Dan luka itu,
masih terus menganga.

Betapapun pedihnya, tragedi itu harus diungkap. Bukan karena dendam, tapi
karena kita mesti memberi pelajaran bahwa yang bersalah, harus mendapat
hukuman yang setimpal. Supaya kekerasan tidak lagi terulang, di Aceh, Timor
Timur, Tanjung Priok, Irian Jaya dan di Jalan Sudirman. Supaya kita pun tak
mencontoh jalan kekerasan setiap kali menghadapi masalah. Kiranya, anggota
baru MPR yang akan segera bersidang, tak melupakan soal ini. TAP MPR tentang
pengusutan dan pertanggungjawaban pembantaian massal tahun 1965-1966, mesti
bisa dihasilkan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Oct 1999 jam 08:23:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke