----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/2-8 Oktober 99
------------------------------

KEDOK HABIBIE DI BALONGAN

(EKONOMI): BJ Habibie menutup-nutupi kasus mark-up Proyek Exor Balongan,
lantaran menyangkut anak buahnya

Pada tanggal 21 Mei lalu, Jaksa Agung Andi M Ghalib SH, mengirim surat
rahasia kepada Presiden BJ Habibie. Surat bernomor R224/A/M/M.2/05/199,
dikirimkan dengan kop Burung Garuda Pancasila dan Jaksa Agung Republik
Indonesia. Surat tersebut berisikan Laporan Kasus Proyek Exor I Pertamina di
Balongan, Jawa Tengah, yang dimark-up sampai US$ 113.000.000

Selain berisikan uraian hasil penyelidikan Tim Penyelidik Kejaksaan Agung,
dan kesulitan timnya menembus misteri mark-up proyek tersebut, kroni Habibie
ini juga menunjuk dua nama yang dituduh terlibat dan sejumlah nama yang
harus diapnggil dan diklarifikasi ulang. Ghalib meminta agar Habibie segera
mengambil keputusan.

Nama yang terlibat adalah mantan Dirut Pertamina Drs Faisal Abda'oe dan
mantan Direktur Pengolahan dan Ketua Tim Negosiasi Dr H. Tabrani Ismail.
Sedangkan nama-nama yang harus dicurigai dan patut dipanggil untuk diperiksa
lagi adalah Mantan Pertambangan dan Energi (Mentamben) Soebroto, mantan
Dirut Pertamina AR. Ramly, dan mantan Mentamben Ir. Ginadjar Kartasasmita,
anak buahnya yang baru saja mengundurkan diri dari Menko Ekuin untuk menjadi
anggota Utusan Daerah (UD) Jawa Barat.

Bagi Habibie, laporan anakbuahnya ini memang sulit untuk diputuskan. Selain
bisa menampar wajahnya sendiri selaku pemegang mandat pemerintahan -yang
notabene atasan Ir. Ginanjar Kartasasmita- borok Habibie bisa bertambah.
Pasalnya, dalam salah satu uraian yang dilontarkan Andi M Ghalib adalah
keterlibatan Pro. Dr Ir. Kho, Staf ahli Menteri negara Riset dan Teknologi
periode BJ Habibie sendiri.

"Jadi, dapat dibayangkan bagaimana sulitnya Habibie mengambil sikap. Tak
heran kalau sampai sekarang Habibier belum juga mem-folow up kasus
tersebut," ujar seorang sumber Xpos di Kejaksaan Agung. Tim ini sendiri
dibentuk  berdasarkan Surat Perintah Kepala Pusat Operasi Intelijen Nomor
Prin 27/M/M.2/07/1998 tertanggal 23 Juli 1998.

Tak heran kalau sampai ini kasus tersebut belum juga dituntaskan. "Habibie
itu maunya rakyat lupa dan kasus ini hilang dengan sendirinya. Namun,
nyatanya tidak. Surat tersebut malah dikirimkan ke tempatnya Teten Masduki,
Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW)," ujar sumber Xpos.

Apa boleh buat kalau Teten kemudian menindak-lanjuti lagi Laporan Andi
Ghalib kepada presiden BJ Habibie, yaitu dengan cara mengirim surat ke BJ
Habibie dengan lampiran Surat Rahasia Andi M Ghalib tersebut. Teten kemudian
mengirimkan tembusannya ke berbagai media massa. Nah, sejak itulah kasus
Proyek Exor Balongan rame lagi di media massa.

Dalam suratnya bernomor 190/SK/ICW/IX/1999, Teten menanyakan sejauh mana
komitmen BJ Habibie menjalankan reformasi hukum sebagaimana diamanatkan
dalam Tap MPR-RI No. XI Tahun 1998 tentang Penyelenggarana Negara yang
bersih dari praktek KKN.

Teten juga menanyakan sejauhmana keseriusan BJ Habibie menangani kasus ini.
"Apakah hal itu merupakan kebijakan Bapak Presiden untuk mengehntikannya?"
Yang membuat Habibie kelabakan adalah Surat Pribadi Andi Ghalib yang bisa
bocor ke ICW. Terutama menjelang Sidang Umum MPR, yang pekan lalu, baru saja
dimulai dan sangat mempetaruhkan nama Habibie.

"Jelas ini sangat merugikan Habibie menjelang pemilihan presiden dalam
SU-MPR nanti. Karena citra Habibie, kalau tidak  segera menjawab surat ICW
atau mengambil keputusan untuk segera menuntaskana Balongan, akan jatuh dan
terpuruk lagi," jelasnya sumber tersebut.

Sampai saat ini, memang sejumlah kasus menghambat Habibie, untuk memperbaiki
citra dirinya yang kadung hancur-hancuran. Sebut saja dari kasus cessie Bank
Bali, yang membuat Habibie mengeluarkan duit pribadi untuk menutupi uang
yang sudah mengalir ke mana-mana. Kasus mantan Presiden Soeharto, kasus
Timor Timur, yang membuat  Habibie dilematis terhadap peranan Jenderal
Pembunuh Wiranto. Ada lagi kasus Bank Rakyat Indonesia dan setumpuk kasus
lainnya.

Kasus Proyek Exor sendiri berawal dari bantuan Pemerintah Inggeri, yang
waktu dibawah pimpinan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher, 1988.
Tujuannya, untuk meningkatkan nilai tambah  eksport produk kilang Indonesia
dan untuk memenuhi supply BBM dalam  negeri.

Dananya, semula dari bantuan Inggris US$938.600.000, yang dirinci berupa
grant sebesar US$60.000.000 dan soft loan sebesar  US$140.000.000. Sisanya
sebesar US$ 738.000.000 berupa loan dari  International Bank Syndicate.
Namun, pada perkembangannya, biaya  pembangunannya membengkak dua kali
lipatnya.

Apalagi setelah masuknya pihak luar, seperti Erry P Oudang, kemenakan
almarhum Ibu Tien Soeharto, Sigit Haryojudanto dan Bin Chintamani, yang
ikut-ikutan menekan dengan membawa nama mantan Presiden Seoharto. Maka,
diterimalah nilai proyek sebesar US$1.813.000.000 oleh Tabrani. Padahal,
menurut Andi Ghalib, angka itu membuat negara dirugikan sampai US$113.000.000.

Yang jelas, kasus ini telah menambah panjang daftar pekerjaan Habibie yang
tidak beres. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Oct 1999 jam 09:11:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke