---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 35/II/10-16 Oktober 99 ------------------------------ BERITA TERTUTUP KABUT NASIONALISME (POLITIK): Mengatasnamakan isu nasionalisme, pers Indonesia ramai-ramai menghujat Australia yang dianggap mencampuri Indonesia. Dampaknya, masyarakat membenarkan apa yang dilakukan oleh TNI di Timtim. Kedutaan Besar Australia di Jakarta setiap harinya harus menjelaskan operasi Interfet di Timtim kepada masyarakat Indonesia. Sebab hampir semua media massa di Indonesia "menyerang" posisi Australia. Berbagai isu dikemas oleh media massa Indonesia seolah Australia dan Interfet lah sumber malapetaka Timtim saat ini. Bersumber dari LKBN Antara, hampir semua media massa Indonesia secara serempak menuduh pasukan Interfet dari Australia membakar hidup-hidup seorang anggota milisi di Dili. Bahkan sejumlah koran, terutama Republika membalik berita ditemukannya sepuluh orang yang telah hangus dalam sebuah Kijang pick up di Tasi Tolu Dili Barat. Pembakaran yang diduga keras dilakukan para milisi pro Jakarta itu, dibalik oleh pers Indonesia menjadi pembakaran oleh pihak Interfet. Sebagai media corong pemerintah Habibie, Republika sangat berkepentingan mempropagandakan anti pasukan Interfet di Timtim. Hasil investigasi The Guardian (Inggris) tentang tidak terjadinya pembunuhan massal, dijadikan alat Republika sebagai argumentasi melawan Barat. Juga, tentang penangkapan 10 orang milisi oleh Interfet di wilayah perbatasan Timor Barat dengan Atambua. Republika menulis bahwa Interfet memperlakukan ke-10 milisi itu tidak manusiawi. "Saya pura-pura jatuh dan ketika dia mau mengangkat saya langsung menendangnya dan saya meloloskan diri sampai di Atambua," kata milisi itu seperti yang dikutip oleh Republika. Padahal, pernyataan milisi itu dinilai banyak orang sebagai pernyataan manipulatif. Sebab, secara logika tidak mungkin seseorang yang sudah terikat tangannya bisa meloloskan diri dengan (hanya) menendang seorang tentara Interfet yang memakai senjata lengkap dan siap tembak. "Berita-berita demikian merupakan kampanye sengaja untuk mendiskreditkan tentara Australia. Namun bantahan kami ini justru tidak dimuat oleh media massa Indonesia, sehingga seolah-olah masyarakat Indonesia berasumsi bahwa pemerintah Australia membenarkan tindakan-tindakan itu. Kami meminta agar media di Jakarta bersikap adil dan mendukung nilai-nilai demokrasi dengan memberikan hak jawab kepada kami," kata Duta Besar Australia John McCarthy. Perlakuan-perlakuan dari TNI, Polri dan milisi terhadap rakyat Timtim dibenarkan oleh media di Indonesia, karena demi rasa nasionalisme dan demi menjaga kedaulatan Indonesia dari intervensi dunia luar. Berita yang berkembang selama ini sangat beda jauh dengan apa sesungguhnya yang terjadi di Timtim. Sehingga opini yang terbentuk di kalangan masyarakat adalah isu nasionalisme, untuk melawan Australia. Seorang wartawan dari surat kabar Indonesia kepada Xpos beberapa waktu lalu mengatakan bahwa berita tentang pembakaran seorang milisi yang dilakukan oleh Interfet di Manatuto, tanggal 20 September lalu yang ditulis Kantor Berita Antara dan dikutip oleh Harian Pagi Surya (Surabaya), Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, Terbit, Rakyat Merdeka, TVRI, SCTV dan RRI adalah tidak benar. Menurut wartawan itu, bahwa dirinya pada saat itu masih berada di Dili dan meliput kedatangan Interfet ke Timtim. "Banyak berita-berita bohong yang di-cover oleh media massa kita. Padahal tanggal 20 itu Interfet belum tiba di Dili, dan pasukan Interfet masih berada di atas kapal dan kapal belum menurunkan Interfet. Bahkan operasi saja belum dilakukan oleh Interfet. Bagaimana Interfet bisa sampai di Manatuto, kalau di Dili saja mereka belum melakukan operasi," kata wartawan itu. Menurut wartawan itu, soal 10 mayat yang dituduhkan kepada Interfet yang membakarnya pun, juga merupakan berita propaganda dari media massa Indonesia. Karena ke-10 mayat itu justru ditemukan oleh Interfet ketika mereka melakukan operasi rutin di seluruh wilayah kota Dili. "Interfet yang menemukan mayat-mayat dan mengundang wartawan untuk meliputnya. Tapi oleh pers Indonesia justru dikesankan sebaliknya, Interfet dituduh membakar milisi di dalam mobil," tambahnya. Sebuah studi tentang media massa akhir-akhir ini, menyatakan bahwa hampir semua media Indonesia belakangan ini tidak mampu menyajikan berita tentang Timtim secara baik. Hal itu menurutnya karena wartawan Indonesia tidak mampu menembus lokasi sengketa dan lebih banyak berada di wilayah Indonesia. Selain karena tidak adanya perlindungan dari Interfet -mereka hanya melindungi wartawan yang mendapat akreditasi dari Darwin, juga lantaran medan sangat berbahaya jika berangkat sendiri. Karena itulah, mereka cenderung mempercayai begitu saja kesaksian dari para milisi pro integrasi, tanpa mengetahui fakta sebenarnya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, semua pers Indonesia beramai-ramai menjadikan laporan pala milisi pro Indonnesia itu sebagai sebuah kebenaran. Tanpa investigasi lebih lanjut. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Oct 1999 jam 08:43:00 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
