----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 35/II/10-16 Oktober 99
------------------------------

GINANDJAR & HASHIM 'KESTRUM' PAITON

(POLITIK): PLN ogah membeli listrik Paiton I. Ginanjar Kartasasmita dan
Hashim Djojohadikusumo bakal pusing.

Ini puncak kekesalahan PT PLN. Kamis, 7 Oktober lalu, perusahaan listrik
milik negara itu memutus kontrak dengan pemilik pembangkit listrik swasta
Paiton I, PT Paiton Energy. Di zaman Orde Baru, PT Paiton Energy adalah
salah satu dari 27 perusahaan listrik swasta milik keluarga dan kroni
Soeharto, yang menggerogoti PLN.

PT Paiton Energy dimiliki konsorsium yang terdiri dari Mitsui (32,5 persen),
Edison Mission (40 persen), General Electric (33,3 persen), PT Batu Hitam
Perkasa (15 persen). Akan halnya PT Batu Hitam Perkasa dimiliki PT Catur
Yasa/PT Wahanaputra Aluraya, perusahaan milik keluarga Ginandjar
Kartasasmita (33,3 persen), PT Tirtamas Maju Utama, milik Hashim
Djojohadikusumo (33,3 persen) dan PT Swabara Bumi (33,3 persen). Penyertaan
modal "pribumi" ini merupakan modal kosong berkat jasa keluarga Hashim dan
Ginandjar memperoleh proyek itu.

Ingin tahu keculasan PT Paiton Energy ini? Untuk mengeduk keuntungan
sebesar-besarnya Paiton Energy menjual listriknya dengan harga tinggi dan
dalam dolar. PLN harus membeli US$ 8,5 sen/kWh (sekitar Rp 900/kWh). Padahal
PLN bisa menjual listriknya sebesar Rp 223/kWh (US$ 3,2 sen). Kalau PLN
harus menjual lagi listrik Paiton ke konsumennya tetap sebesar Rp 223/kWh
maka ya harus nombok. Padahal PLN masih harus memelihara instalasi-instalasi
mereka yang digunakan untuk menyalurkan listrik Paiton.

Sampai Agustus lalu, Paiton menagih PLN untuk listrik yang belum digunakan
PLN, sebesar US$ 49 juta. Dengan harga per kWh yang mahal itu, setahunnya
PLN harus membayar Paiton sebesar US$ 598 juta. Nah, dana untuk membayar
listik Paiton selama dua tahun saja, sebenarnya bisa dipakai PLN untuk
membangun sebuah pembangkit listrik setara dengan Paiton I (kapasitas 2 x
615 MW). Begitu seterusnya, sehingga setiap dua tahun uang yang dibayarkan
PLN bisa dipakai untuk membangun pembangkit lagi. Jelas, ini pemerasan.
Dalam lima tahun, Paiton sudah untung. Kemudian tahun-tahun berikutnya,
Paiton I jadi tambang emas. Bayangkan, mulai tahun keenam, setidaknya para
pemilik Paiton Energy akan meraup keuntungan sedikitnya US$ 500 juta (atau
Rp 3,5 triliun).

Keuntungan karena keculasan, Paiton Energy lainnya, adalah cara mereka
memasok batubara untuk proyek listrik tenaga uap itu. Batubara itu dipasok
oleh PT Batu Hitam Perkasa (Hashim dan Ginandjar), dengan harga US$39,72 per
ton. Harga ini terlalu mahal, karena harga batubara Banjarmasin hanya
sebesar US$22 per ton. Sementara harga batubara Asia  sebesar US$24 per ton.
PLN sendiri membeli batubara untuk pembangkitnya yang juga di Paiton hanya
sebesar Rp173 ribu per ton (US$24). Batubara yang dipasok Batu Hitam Perkasa
dibeli dari PT Adaro Indonesia. Ingin tahu siapa salah satu pemilik PT
Idaro? Tak lain adalah Hashim sendiri dan Siti Hediyati Prabowo (ipar Hashim
yang juga anak perempuan Soeharto). Siapa yang paling untung? Ya Hashim yang
ikut andil di PT Paiton Energy, PT PT Batu Hitam Perkasa dan PT Adaro Indonesia.

Karena "pemerasan" ini, PLN membatalkan perjanjian jual beli listrik dengan
PT Paiton Energy. Direktur PLN, Adhi Satriya mengatakan, perjanjian yang
dilakukan Direktur Utama PLN terdahulu (Ir Zuhal, kini Ketua BPPT), yang
menyetujui harga penjualan itu dibuat dengan terpaksa karena tekanan dari
Presiden Soeharto. Karena dibuat dengan terpaksa, maka sesuai hukum perdata
Indonesia, pihak yang merasa ditekan berhak membatalkan perjanjian itu. "PLN
membatalkan perjanjian itu atas nama rakyat, karena kalau PLN meneruskan
perjanjian itu, rakyatlah yang harus menanggung harga listrik PT Paiton
Energy yang mahal itu," ujar Adhi.

PLN sebenarnya sudah mengajukan penawaran ke PT Paiton Energy, untuk
memperbaiki perjanjian terdahulu. Penawaran baru itu dinilai menguntungkan
semua pihak, baik PT Paiton Energy, PLN maupun konsumen. Namun, penawaran
PLN itu ditampik PT Paiton Energy yang ngotot agar perjanjian terdahulu
dilanjutkan, kendati membebani PLN dan rakyat Indonesia.

Kalau PLN tak mau membeli listrik PT Paiton Energy, jelas konsursium ini
akan bangkrut. Soalnya, untuk memasarkan sendiri produknya langsung ke
konsumen, PT Paiton Energy harus menambah investasinya lagi, dan ini akan
memakan modal yang besar. Modal baru ini untuk membangun jaringan listrik
dan instalasi-instalasinya di seluruh paling tidak Jawa Timur di mana
pembangkit itu berada. Ini jelas tak ekonomis, apalagi PT Paiton Energy
harus bersaing dengan PLN yang sudah memiliki jaringan yang akan
tertandingi. Apalagi, PT Paiton Energy harus mengantungi ijin untuk menjual
listrik yang oleh peraturan hukum Indonesia hanya boleh dilakukan PLN. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Oct 1999 jam 11:07:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke