----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

BOROS PERTAMINA TURUN JADI Rp 16,040 TRILIUN

        JAKARTA, (SiaR, 12/10/99). Pemborosan di Pertamina senilai Rp 16,040
triliun, bukan lagi Rp 43 triliun seperti pernah dilansir PwC sebelumnya.
Sedangkan Bulog inefisiensinya (menggunakan kurs Rp 3.500-Rp 4.000 per
dollar AS) Rp 6,7 triliun.

        Demikian hasil audit Pertamina dan Bulog, yang diumumkan Menteri Keuangan
Bambang Subianto, di kantor Menko Wasbang/PAN Jl. Senopati, Jakarta Selatan,
Senin (11/10). Selain Bambang, hadir dalam acara itu Dirut Pertamina,
Martiono dan Dirut PLN, Adi Satria.

        Menurut Menkeu Bambang Subianto, audit Pricewaterhouse & Coopers (PwC) yang
sudah direvisi di Pertamina akhirnya hanya menyimpulkan bahwa inefisiensi di
BUMN itu sebesar 2,005 miliar dollar AS atau dengan kurs Rp 8.000 totalnya
sebesar Rp 16,040 trilun dalam jangka waktu 1 April 1996 hingga 31 Maret
1998. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan angka yang pernah
disebutkan PWC beberapa waktu lalu. Perlu diketahui, sebelum ini PwC
melanansir temuannya bahwa inefisiensi Pertamina mencapai Rp 43 triliun.

        Menurut Bambang Subianto, dari Rp 16 triliun tersebut, inefisien terbesar
berasal dari kantor pusat sebesar Rp 13,050 triliun. Lalu BPPKA (Badan
Pembinaan Pengusahaan Kontraktor Asing) Rp 928 miliar, Eksplorasi dan
Produksi Rp 296 miliar, Pengolahan Rp 504 miliar, Pembekalan dan Pemasaran
Dalam Negeri Rp 252 miliar dan Perkapalan, Kebandaran dan Komunikasi Rp 720
miliar.

        Dari Rp 16 triliun tadi, menurut PwC sebenarnya bisa dihemat 1,268 miliar
dollar hingga 1,968 miliar dollar AS atau  Rp 9,114 triliun sampai Rp 15,744
triliun, tergantung pada asumsi biaya penemuan atau finding cost/barel
minyak, dan dengan kemungkinan beban kewajiban sekitar 721 juta dolar AS.

        Dirut Pertamina Martiono Hadinato sendiri mengakui bahwa inefisiensi
Pertamina dipengaruhi oleh apa yang disebut dengan P3 (Putera-puteri
presiden). "Lagi pula, 159 proyek berindikasi KKN di Pertamina memang
diakibatkan oleh the strongest related party [pihak yang berhubungan dengan
orang terkuat]," ujarnya.

        Sementara itu  audit oleh Arthur Andersen di Bulog periode Januari-Juli
1999 diperoleh angka infisiensi sebesar 2,0 miliar dollar AS. Dalam
rupiahnya disebutkan Rp 6,7 triliun. Tiga sumber utama inefisiensi yang
berasal dari operasi Bulog adalah persyaratan dagang yang tidak
menguntungkan sebesar Rp 2,6 triliun, praktik yang tidak diperkenankan
sejumlah Rp 1,8 triliun dan sistem pengawasan yang lemah sebesar Rp 2,3
triliun.

        Akibat persyaratan perdagangan yang tidak menguntungkan di bidang pengadaan
Bulog mengalami kerugian sebesar Rp 2,1 triliun, pengolahan Rp 200 miliar
dan transportasi senilai Rp 100 miliar. Karena sistem dan pengawasan yang
lemah di pergudangan terjadi kelebihan stok beras senilai Rp 750 miliar dan
jasa pendukung senilai Rp 1,3 triliun. Sedangkan akibat praktik yang tidak
diperkenankan dalam distribusi dan penjualan, khususnya komoditi beras dan
gula diperkirakan sebesar Rp 1,8 triliun. Termasuk didalamnya pembayaran
yang tidak resmi dan biaya perantara yang diperkirakan sebesar Rp 704
miliar. Dalam hal distribusi dan penjualan, sebagai akibat sistem dan
pengawasan yang lemah terjadi kerugian sebesar Rp 346 miliar.

        Sementara inefisiensi yang berkaitan dengan pengelolaan dana Bulog selama
periode 1993-1998, terdiri dari, dana KLBI yang dialokasikan pemerintah
kepada Bulog tetapi kurang dimanfaatkan oleh Bulog, sehingga menciptakan
inefisiensi sebesar Rp 191 miliar. Dan, dana-dana yang dapat dipakai untuk
melunasi pinjaman KLBI tetapi ditempatkan pada deposito berjangka yang
menghasilkan bunga sekitar Rp 118 miliar.

        "Angka [temuan] kebocoran itu sangat luar biasa. Karena itu, wajib dan
perlu sifatnya diberikan pertanggungjawaban yuridis pada para pelaku yang
menyebabkan kerugian negara di Bulog dan Pertamina," ujar Didik J. Rachbini,
Direktur Institute for Development, Economic and Finance (Indef). ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Oct 1999 jam 12:10:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke