---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk CATATAN PERJALANAN DI BUMI LORO SA'E (11) Dear Joko dan Riri, Apa komentar kalian setelah membaca profil pendukung pro otonomi yang aku ceritakan dalam suratku kemarin? "Mereka itu sampah sejarah," kata salah seorang teman. Aku masih ingat lagak lagu Eurico ketika ia mondar-mandir di depan Hotel Mahkota. Duh, dengan senjata otomatis lengkap dan granat di pundaknya seperti hanya dia yang memiliki dunia ini. Selama ini aku nggak pernah mendengar kepongahan Eurico, bahwa dia dan anak buahnya akan menantang pasukan multi-nasional, Interfet untuk berperang demi mempertahankan Bumi Lorosae. Aku masih akan menceritakan sosok pendukung otonomi yang lain lagi. Tahu 'kan kalau aku semakin kangen ngobrol dan kemudian "berantem" dengan teman-temanku. Di mana ya kira-kira Manuel, Jose dan Ronaldo berada. Aku juga belum tahu kapan aku bisa pergi ke Bumi Lorosae. Ri, begitu aku tiba di Dili aku pasti akan mencari Tia Flora dan Eliza. Firasatku sih mengatakan, mereka masih hidup. Semoga Tuhan mengabulkan doaku, agar aku bisa bertemu lagi dengan mereka. Dear Riri dan Joko, Tokoh lain yang dikenal sebagai pendukung fanatik pro otonomi adalah Nazario Vital de Cortereal. Ia lahir di Hato Udo Kab. Ainaro. Pada zaman Portugis, Nazario hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SMP. Pada awal invasi tahun 1976, ia pindah ke Same Kab. Manufahi bersama ibundanya. Di Same ia menjadi pegawai pemerintahan dan menduduki beberapa jabatan resmi. Antara lain, sebagai anggota DPRD TK II Manufahi yang kemudian menjadi kepala bagian di Sekretariat Pemerintah Daerah TK II Manuifahi. Tujuh tahun silam ia diangkat menjadi Assisten I Bidang Pemerintahan (Tata Praja) Setwilda Manufahi. Pada tahun 1997, ia menjadi kandidat Bupati Manufahi bersama dengan Nazario Tilman de Andrade (bupati Manufahi sebelum Timor Lorosae porak poranda). Nazario gagal dalam pemilihan itu karena ia tidak didukung oleh ABRI. Menyusul kegagalan dalam pemilihan bupati, Nazario lalu dimutasikan menjadi Assisten II Bidang Administrasi dan Keuangan di Setwilda TK II Manufahi. Sejak saat itulah, ia aktif sebagai anggota SGI di Manufahi dan terlibat langsung dalam kegiatan intelijen TNI. Pasca kebijakan dua opsi, Nazario dengan dukungan SGI dan Kopassus mendirikan kelompok milisi ABLAI (singkatannya keren: Aku Berjuang Lestarikan Amanat Integrasi). Dan atas dukungkan materi dan persenjataan dari SGI dan Kopassus ia kemudian mendirikan cabang ABLAI di berbagai kecamatan. Lewat aktivitas ABLAI Nazario bersama SGI, Kopassus, dan Polri selalu melancarkan teror dan intimidasi terhadap penduduk sipil di kabupaten Manufahi. Kalian pasti bertanya-tanya, tak adakah kelakuan yang terpuji dari para tokoh ini. Mungkin saja ada tapi aku mau menunjukkan pada kalian, beginilah sosok manusia pendukung pro otonomi. Semoga dengan paparan mereka itu kalian tak mudah terkecoh dengan propaganda yang selama ini dilakukan oleh sejumlah tokoh pro Jakarta. Suatu hari nanti aku pasti akan menceritakan pula para tokoh pendukung kemerdekaan. Aduh, sudah berapa janjiku pada kalian? Tolong ingatkan aku, bagian apa saja yang belum aku ceritakan. Maklum, akhir-akhir ini aku jadi semakin pikun. Manuel de Sousa tentu saja tak ada hubungan darah dengan Manuel sahabatku itu. Ia pernah menjadi anggota DPRD Liquica dari PDI pada 1992-1997. Sebagaimana tokoh pro otonomi yang lain ia juga aktif terlibat dalam kegiatan intelijen bersama SGI dan Kopassus sejak tak lagi menjadi anggota DPRD. Menyusul pengumuman dua opsi Habibie, Manuel bersama Bupati Liquica, Leoneto Martins dengan dukungan SGI dan TNI membentuk kelompok milisi Besi Merah Putih (BMP). Joko dan Riri, aku tak mendramatisir bagaimana keterlibatan TNI dalam upaya mengacaukan Timor Lorosae. Dari aktivitas sejumlah tokoh yang aku paparkan ini jelas sangat transparan, bagaimana keterlibatan TNI, SGI, polisi dan sejumlah tokoh dari Jakarta. Teror dan intimidasi selama ini pasti dilakukan bersama antara BMP dan TNI. Pembantaian Liquica yang terjadi pada 5-6 April 1999, yang menelan puluhan korban (sekitar 50-an) jiwa dan 100 orang dinyatakan hilang di Gereja Liquica hanyalah satu contoh kekejaman BMP yang diorganisir oleh militer Indonesia. Milisi BMP ini dikenal sangat kejam dan sadis . BMP tidak hanya melakukan kegiatannya di Liquica, tapi juga merambah sampai ke Dili, Maliana, Suai dan Oekusi. Milisi ini sangat aktif terlibat dalam pembumihangusan Timor Lorosae bersama-sama dengan Aitarak. Soal penyerbuan dan pembantaian di Gereja Liquica ternyata aku lupa menceritakan pada kalian. Leoneto Martins dikenal pula sebagai salah seorang penasihat Manuel Sousa, pimpinan BMP di Liquica. Dalam kapasitasnya sebagai Bupati KDH. TK. II Liquica, Leoneto mempunyai hubungan yang sangat baik dengan militer. Atas koordinasi dengan SGI dan Kopassus, Leonito mempercayakan pimpinan milisi BMP kepada Manuel Sousa. Ia pun terlibat secara aktif dalam merancang kegiatan-kegiatan milisi BMP di Liquica maupun di luar wilayah Kab. Liquica. Sebelum menjabat sebagai bupati, ia pernah duduk sebagai camat di Kec. Maubara. Ia menyelesaikan pendidikan menengah pada zaman Portugis kemudian melanjutkan pendidikannya ke APDN di Jakarta. Begitu selesai kuliah ia segera kembali ke Timor Lorosae dan langsung diberi jabatan sebagai camat. Leoneto dikenal sebagai seorang camat yang memiliki reputasi sebagai koruptor. Kebiasaan korupsi ini berlanjut tatkala ia menjabat sebagai bupati. Selama proses referendum, Leoneto semakin beringas dalam melakukan korupsi demi "menghidupkan" kegiatan milisi BMP. Bersama anggota FPDK lainnya, mereka melakukan "tour otonomi" pada bulan Mei dan Juni 1999. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menggalang opini demi memenangkan otonomi, di kalangan masyarakat Indonesia. Selain menjadi penasehat BMP, Leoneto juga aktif berkampanye otonomi. Jika akhir-akhir ini kalian sering menonton televisi pasti akan melihat tampang Joao da Silva Tavares. Dalam berbagai kesempatan ia berencana menggalang milisi dari Timor Barat dan NTT untuk mempertahankan wilayah Bumi Lorosare untuk tetap bergabung dengan Indonesia. Tavares dikenal sebagai kolaborator militer Indonesia semenjak awal invasi. Sejak awal invasi, Tavares diberi jabatan sebagai bupati Maliana selama dua periode. Jabatan lain yang diembannya adalah sebagai komandan kelompok paramiliter yang dikenal sebagai Halilintar, atas kepercayaan dari militer Indonesia. Pasukan Halilintar memiliki peralatan senapan antara lain M-16, pistol dan tentu saja senjata tradisional. Jauh-jauh hari sebelum diumumkannya kebijakan dua opsi oleh Habibie milisi Halilintar dengan dukungan ABRI telah membunuhi sejumlah penduduk sipil. Salah satu rekor Halilintar adalah melakukan pembunuhan lima warga sipil di Kecamatan Atabae, pada awal tahun 1998. Saat itu, Tavares dibantu oleh adiknya, Jorge Tavares yang saat ini menjabat sebagai ketua DPRD TK. II Maliana. Mereka menangkap kelima penduduk desa Aidabalete, Atabae yang diduga sebagai simpatisan Falintil. Kasus ini pernah dilaporkan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, yang kemudian mengunjungi tempat kejadian dan menemui saksi-saksi. Namun hingga kini tidak ada tindak lanjutnya. Selain melakukan teror, intimidasi dan pembunuhan, Tavares dikenal pula sebagai bupati yang melakukan korupsi secara besar-besaran. Dari hasil korupsi tersebut, ia berhasil membangun rumah mewah di berbagai tempat. Ia dikenal memiliki rumah mewah di Atambua, Maliana, Atabae dan Dili. Selain memiliki sejumlah rumah atas namanya sendiri, Tavares juga membangun rumah yang diberikan untuk "istri-istri" simpanannya. Dengan jabatan, harta dan dengan bedil yang dimilikinya, Tavares tentu tak sulit memaksa dan kemudian memperkosa sejumlah anak gadis, yang kemudian dijadikan sebagai istri simpanannya. Hampir di enam kecamatan di Maliana, Tavares rata-rata memiliki dua orang istri simpanan. Selain di Maliana, Tavares juga memiliki istri simpanan di tempat lain, seperti di Dili dan Ermera. Ia juga dikenal sebagai seorang tukang judi kelas kakap di antara para penjudi di Timor Lorosae, yang notabene kebanyakan adalah para pejabat pemerintah. Pasca pengumuman referendum, Tavares dengan restu militer dan Deplu diangkat sebagai panglima perang pro integrasi. Restu dari Deplu itu diperoleh lewat lobby anaknya, Jose da Silva Tavares, diplomat muda binaan Deplu yang juga aktif di FPDK. Konon, pasca referendum Tavares bersama sejumlah pimpinan kelompok milisi diundang ke Jakarta untuk bertemu secara khusus dengan Zacky Anwar Makarim, untuk merancang berbagai kegiatan kejahatan di seluruh Timor Lorosae. Selain bertemu Zacky, Tavares juga melakukan konsultasi dengan pihak Deplu yang difasilitasi oleh anaknya. Selain memimpin Halilintar, Tavares juga membentuk kelompok milisi di Maliana yang dikenal dengan nama Dadurus Merah Putih (DMP). Ia secara langsung terlibat dalam pembantaian ratusan manusia pasca referendum, terutama di Maliana dan pembantaian pengungsi yang menyeberang ke Atambua. Joko dan Riri, terus terang aku sakit kepala ketika menulis kejahatan manusia-manusia ini. Bagaimana mungkin seseorang bisa berubah menjadi sangat kejam dan biadab seperti itu, ya. Atau, mungkin saja mereka memang dilahirkan sebagai manusia yang haus darah, pangkat, dan kekayaan. Tokoh lain yang bernama Ir. Natalino Monteiro, MP. adalah seorang intelektual muda yang kemudian memilih menjadi pimpinan milisi. Natalino menyelesaikan pendidikannya pada Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Setelah menyelesaikan kuliah, ia kembali ke Timor Lorosae dan bekerja pada Kandep Pertanian sambil mengajar di Fakultas Pertanian, Universitas Timor Timur [Untim]. Selama mengajar di Untim, Natalino berambisi pula untuk menduduki jabatan sebagai rektor. Untuk itu, setelah mengadakan pendekatan dengan ABRI, ia mengikuti Kursus Lemhanas di Jakarta, pada tahun 1996. Tapi karena banyak pihak tidak setuju, cita-cita Natalino sebagai rektor gagal total. Gagal menjadi rektor, Natalino mendapat beasiswa untuk melanjutkan program magister pertanian di UGM. Sekembalinya dari Yogyakarta ia diangkat menjadi Pembantu Rektor III di Untim. Meskipun menjabat sebagai pembantu rektor tapi reputasinya sebagai pembunuh lebih melejit dibandingkan keberhasilannya mendidik mahasiswanya. Semenjak memangku jabatan sebagai pembantu rektor ia juga aktif menjalin hubungan dengan SGI. Pasca pengumuman dua opsi, bersama Joao Tavares ia mendidirikan milisi Dadurus Merah Putih (DMP) yang beroperasi di Kabupaten Maliana, yang bermarkas di Desa Ritabou, wilayah tempat tinggalnya. Selain sebagai komandan DMP, ia pun menjabat sebagai ketua FPDK cabang Maliana. Ia bahkan memfasilitasi kegiatan milisi dengan mobil kijang dan mikrolet yang dimilikinya. Teror, intimidasi, penjarahan harta, dan pembunuhan dilakukan oleh DMP dibawah perintah Natalino dan Joao Tavares. Selama menjalankan tugasnya dalam proses referendum, Natalino dikawal oleh sejumlah orang dengan senjata lengkap. Ulah dan sepak terjang Natalino semakin mengganas setelah referendum usai dilakukan. Ia bersama Joao dan pimpinan milisi yang lain dengan dukungan militer membakar, merusak, menjarah dan membunuh penduduk sipil di Maliana. Salah satu korbannya adalah Pastor Francisco Tavares, Pastor Paroki Maliana. Kali ini aku cerita tentang Mario Vieira yang menjadi anak binaan Prabowo semenjak tahun 80-an. Ia dibawa ke Jakarta dan disekolahkan hingga menyelesaikan kuliah. Karena pada saat Prabowo bertugas di Timor Loroae menantu Soeharto itu banyak dibantu oleh ayah Mario, Claudio Vieira yang menjabat sebagai bupati Lospalos. Selesai menyelesaikan kuliah di Jakarta, atas biaya dan lobby Prabowo, Mario melanjutkan pendidikan masternya di Amerika Serikat. Sekembalinya dari Negeri Paman Sam, Mario bekerja pada kantor Bappeda Tk. I Timor Timur dan menjadi penasehat Gubernur Abilio Soares. Ia dipersiapkan oleh Prabowo menjadi Gubernur Timor Timur. Kalian tahu, selama ini ia dikenal sebagai seorang informan SGI dan Kopassus. Kegiatannya tentu saja sejalan dengan kegiatan ayahnya, Claudio yang sering terlibat dalam operasi-operasi militer di Bumi Lorosae. Memasuki proses referendum, Mario pun aktif dalam kegiatan FPDK. Ia bersama Basilio menjadi juru bicara FPDK. Hampir setiap hari, Mario mengeluarkan pernyataan lewat STT dan Timor Romansa, tabloid FPDK yang mengencam dan menghasut masyarakat agar melakukan berbagai tindak kekerasan. Karena itu tak heran jika FPDK diubah singkatan oleh anak-anak muda di Timor Lorosae: Forum Pencari Duit dan Kekuasaan. Kalian masih ingat, 'kan? Seperti halnya Mario, Castro da Silva adalah seorang intelektual muda pro otonomi. Pada waktu invasi, Castro bergerilya di hutan. Ia bahkan pernah menjadi pembantu dekat Xanana selama berada di hutan. Setelah "menyerah" dari hutan, ia sempat bekerja pada kantor gubernur. Kemudian atas biaya Pemda Timor Timur ia bisa melanjutkan studi di UGM. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan kembali bekerja di kantor Gubernur Timor Timur. Sejak saat itu, ia dipakai sebagai salah seorang think thank oleh kelompok pro integrasi, terutama FPDK hingga memasuki proses referendum. Sebagaimana halnya Basilio, Castro juga tak menginginkan referendum dilaksanakan di Timor Lorosae. Alasannya, rakyat Timor Lorosae cukup diberi kesempatan untuk berdiskusi untuk kemudian menerima paket otonomi yang disetujui antara Pemerintah Indonesia, Portugal dan PBB. Rakyat tidak perlu diberi kesempatan memilih alternatif kedua, yakni merdeka. Sejak saat itulah, segala fasilitas diterima Castro, antara mendapat mobil dan dompetnya pun semakin tebal. Dan sebagai pengasuh tavloid Romansa tentu saja Castro semakin aktif mengkampanyekan ide-ide kelompok pro otonomi. Kalian pasti sedih membaca tabloid Romansa. Sebab, isinya cuma propaganda dan propaganda pro otonomi. Ia juga banyak memberi masukan berbagai kegiatan milisi pro otonomi, terutama di Dili. Riri, aku lupa cerita pada kamu. Beberapa waktu lalu ketika aku mampir di Jakarta aku ditraktir Ita bersama Sisca dan Nasir, dan tentu saja aku minum es cendol. Ternyata minuman yang aku impikan selama aku berada di Bumi Lorosae itu tak senikmat yang aku bayangkan selama aku berada di sana. Jangan ngomongin makanan melulu ah, karena aku jadi semakin gendut selama aku kembali dari Dili. Kamu tahu 'kan, kalau aku stres dan senewen aku pasti jadi doyan makan. Aku lanjutkan suratku kali ini agar kalian mengenal Ir. Filomeno de Jesus Hornay. Ia juga dikenal sebagai intelektual pro otonomi yang aktif dalam FPDK. Ia menyelesaikan pendidikan pada SPMA Bogor ketika zaman invasi. Setelah itu ia bekerja sebagai pegawai negeri pada Kantor Dinas Pertanian Tk. II Maliana. Ketika Universitas Timor Timur dibuka pada tahun 1986, ia melanjutkan pendidikan pada Fakultas Pertanian. Setelah menyelesaikan kuliah, ia mengajar pada almamaternya. Saat menjadi dosen di Untim itulah Filomeno bersua dengan Natalino yang kemudian menjadi sahabat karibnya. Semasa kuliah Filiomena pernah memimpin demonstrasi menentang kunjungan Kapal Lusitania Expreso, yang saat itu membawa penumpang dari Portugal dan Australia untuk menabur bunga di Santa Cruz sebagai wujud duka atas terjadinya pembantaian yang menelan ratusan korban jiwa dan luka-luka. Sejak saat itu, ia mulai membangun kontak dengan SGI. Atas bantuan Pemda Timor Timur dan militer, Filomeno lolos seleksi melanjutkan kuliah di Selandia Baru. Ia berhasil memperoleh gelar magister pertanian pada salah satu universitas di Negeri Kiwi itu. Sekembalinya ke Timor Lorosae, ia bekerja pada Kanwil Pertanian Tk. I Timor Timur dan tetap mengajar di Untim. Bersama sejumlah tokoh integrasi ia pernah memberi testimoni di Komite Dekolonisasi PBB pada 1998. Sebelum Bumi Lorosae dihanguskan, Filomeno menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian Untim. Selain itu, ia menjabat pula sebagai Direktur STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi), di Dili, tempat Eurico Guterres kuliah. Filomeno bersama Natalino menjadi musuh besar mahasiswa Untim dan STIE, karena kegiatan intelijen yang mereka lakukan bersama SGI. Sebagaimana tokoh lainnya, sebelum proses referendum ia aktif berkampanye mendukung pro otonomi bersama FDPK. Ia pun aktif membantu Natalino dalam kegiatan DMP di Maliana. Sebagai diplomat muda Jose da Silva Tavares menjadi pembantu setia Francisco Lopes untuk propaganda tentang Timor Lorosae di luar negeri. Ia juga berhasil menyelesaikan pendidikan menengah pada zaman Portugis. Setelah invasi, ia melanjutkan pendidikan pada Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Padjajaran Bandung. Setelah itu, atas biaya pemerintah Jakarta, ia melanjutkan kuliah pasca sarjana pada salah satu universitas di Australia. Sekembalinya dari Negeri Kanguru, ia bekerja di Departemen Luar Negeri. Kemudian ditugaskan di Kedutaan Besar RI di Belgia. Sejak saat itulah ia membantu Lopes da Cruz dalam berbagai forum internasional. Ia dijadikan alat oleh Jakarta untuk propaganda mengenai masalah Timor Lorosae. Menyusul kebijakan dua opsi, Jose pun kembali ke Dili bersama Lopes da Cruz dan kemudian bergabung dengan FPDK. Seperti halnya kawan-kawannya, Jose Tavares pun sejak awal melancarkan propaganda menolak referendum di Bumi Lorosae. Selain aktif di FPDK, ia juga membantu ayahnya, Joao Tavares mengatur kegiatan Dadurus Merah Putih (DMP) di Maliana. Mobilitas diplomat muda ini cukup tinggi selama proses refendum. Ia melakukan propaganda di Jakarta, mengurus kegiatan FPDK di Dili, dan membantu kegiatan DMP di Maliana. Menjelang proses referendum Martinho Fernandez seperti mendapat durian runtuh. Ia diangkat sebagai Bupati Viqueque menggantikan saingannya, I Ketut Lunca. Ia tenu saja bahagia karena ambisinya terkabul. Karena sejak lima tahun lalu, ketika pencalonan bupati Viqueque ia sudah berambisi untuk menduduki posisi tersebut. Tapi ia gagal karena saingannya itu berasal dari militer. Masyarakat luas mengenal Martinho sebagai seorang anggota kehormatan Kopassus. Untuk itu ia diberi senjata dan mendapat "lisensi" membunuh siapa saja yang dianggap menentang integrasi. Ia aktif dalam berbagai operasi penangkapan dan pembunuhan aktivis pro kemerdekaan. Salah satunya adalah keterlibatannya bersama Armindo Mariano, pimpinan Aliansi Pro Otonomi dalam upaya membunuh Uskup Belo beberapa tahun lalu. Memasuki proses referendum, Martinho banyak bermain di belakang layar dalam mendukung kegiatan milisi pro otonomi, terutama kelompok 59/75 Junior di Viqueque. Jok, milisi ini bukan barang baru. Herminio da Silva selain bekerja sebagai pegawai negeri juga menjabat sebagai Ketua Pusat KUD Timor Timur. Jangan kaget, ia dikenal pula sebagai tokoh garis keras pendukung otonomi. Berbagai ancaman lewat pernyataan-pernyataannya hampir setiap hari menjadi headline STT dan Tabloid Romansa. Dalam jajaran pro otonomi, Herminio ditunjuk menjadi Kepala Staf Pasukan Integrasi. Selain di Dili, Herminio juga bersama rombongan FPDK gencar melakukan kampanye di Jakarta setelah diumumkannya kebijakan dua opsi itu. Dalam melakukan berbagai tindak kekerasan, ia selalu melakukan koordinasi dengan Joao Tavares, Eurico. pimpinan politik pro otonomi lainnya dan pimpinan SGI serta Kopassus. Joko dan Riri, jika kalian mendengar bantahan sejumlah petinggi TNI jangan menunjukkan bukti-bukti ini pada mereka. Mereka pasti mengetahui dengan baik bagaimana keterlibatan TNI dalam aktivitas milisi yang selama ini membunuhi rakyat sipil. Bukan karena memang selama ini mereka gemar membohongi rakyat dan seolah-olah tindakan mereka itu bersih, tapi sejumlah jenderal akhir-akhir ini menjadi sangat senewen. Apa sebab? Kalian tahu, Komisi Pencari Fakta (KPF) PBB akan menyelidiki kejahatan terhadap kemanusiaan di Bumi Lorosae pasca referendum. Tim ini akan melakukan investigasi permulaan terhadap laporan-laporan tentang pembantaian yang dilakukan oleh milisi, TNI dan Polri terhadap warga sipil di sana. Tim yang terdiri dari pakar hukum termuka di dunia itu akan mengadakan dialog dengan Komnas HAM, bertemu dengan beberapa tokoh pemerintahan dan TNI untuk menerima masukan sebelum mereka berangkat menuju Timor Lorosae. Kedatangan komisi tersebut pasti membuat sejumlah jenderal yang terlibat dalam aksi pembantaian di Timor Lorosae tak nyenyak tidur. Sebab, sebelum mereka ke Jakarta para anggota komisi itu sudah menerima warning dari lembaga-lembaga dunia yang punya data konkrit soal pembantaian tersebut. Bahkan beberapa jenderal namanya sudah diinventarisir oleh komisi itu sebagai dalang dan pembuat skenario pembantaian di Bumi Lorosae. Kita tentu malu karena dikenal sebagai bangsa pembunuh. Ya, mau apa lagi. Biarkan Tim Pencari Fakta dari PBB ini bekerja dengan tenang untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan para jenderal itu. Dan aku amat setuju jika kelak mereka dihukum sesuai dengan tindakannya yang brutal dan sadis itu. Apa komentar kalian? Joko dan Riri, mungkin aku agak lama tak menulis surat untuk kalian. Aku diajak piknik keluarganya Manda. Mereka akan bepergian ke Pantai Carita. Setelah itu aku akan melanjutkan menulis hasil penelitianku yang selalu saja tertunda. Sampai di surat mendatang. Bogor, 11 Oktober 1999 Salam kangen, Pratiwi ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Oct 1999 jam 15:22:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
