---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk GUS DUR PRESIDEN, HARAPAN PRABOWO DIREHABILITASI JAKARTA, (TNI Watch!, 13/10/99). Baru-baru ini adik Letjen TNI Purn Prabowo Subianto, pengusaha Hashim Djojo Hadikusumo berencana menggugat pemerintah, atas tindakan pemecatan dari dinas ketentaraan atas diri Prabowo. Menurut Hashim ini adalah soal nama baik, bukan hanya bagi Prabowo, tetapi juga seluruh keluarga besar Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo. Keluarga Prabowo tampak begitu bernafsu menggugat pemerintah (Habibie). Sebenarnya mereka tidak perlu emosional terhadap Habibie, toh usia rezim Habibie tinggal beberapa hari saja. Mungkin keluarga Prabowo ingin memburu waktu, mumpung Habibie sedang berkuasa, gugatan harus segera diluncurkan. Karena bila pemerintahan baru terbentuk, yang tidak lagi dipimpin Habibie, gugatan itu tidak lagi relevan. Tampaknya Hashim paham, pemecatan Prabowo dari dinas ketentaraan sekitar setahun lalu, adalah keputusan bernuansa politis, bukan persoalan teknis militer semata. Memang telah ada niatan dari kelompok Habibie saat itu untuk menyingkirkan Prabowo. Bagi kelompok Habibie, keberadaan Prabowo ibarat duri dalam daging. Pertentangan antara Habibie (dan Wiranto) di satu pihak, dengan Prabowo di pihak lain, adalah pertentangan terbuka, di mana masyarakat telah mengetahuinya. Sebagaimana kita tahu, Prabowo akhirnya menjadi pecundang. Karena berada di pihak yang kalah, alhasil seluruh tindak kriminal aparat militer, seperti penculikan, pembunuhan hingga soal dalang "Kerusuhan Mei 1998", ditimpakan pada Prabowo. Khusus pertentangan dalam tubuh TNI, kekuatan antara Wiranto dan Prabowo sebenarnya berimbang, hanya sayang, Prabowo kurang mampu meredam "darah muda"-nya, hingga harus rela tersingkir. Dari kejadian itu tampak sekali, Prabowo ternyata kurang matang dalam politik. Dia berpikir, segala keinginannya akan tercapai dengan sekali gebrak. Bila dalam pemilihan Presiden nanti, Habibie tak lagi terpilih, terbuka harapan bagi rehabilitasi Prabowo. Taruhlah yang terpilih Gus Dur, Prabowo boleh berharap, bintang tiga yang dulu melayang, akan kembali bertengger di pundaknya yang bidang itu. Semua orang sudah tahu, kalau Prabowo sangat respek pada Gus Dur. Mungkin hanya Gus Dur yang bisa meluluhkan perangai Prabowo yang temperamental dan arogan itu. Gus Dur pula yang menyarankan Prabowo, agar jangan dulu pulang ke tanah air. "Nanti Prabowo bisa dihabisi preman Cengkareng, begitu mendarat," demikian kata Gus Dur waktu itu. Dan lagi kalau Gus Dur menjadi Presiden, Prabowo bisa lebih tenang, karena Prabowo telah menempatkan teman dekatnya di lingkaran pertama Gus Dur, yaitu Ibu Ratih Harjono, mantan wartawati Kompas. Sebagaimana kita tahu, sejak tiga bulan terakhir ini Gus Dur selalu ditempel Ibu Ratih, yang jabatan resminya adalah semacam press officer bagi Gus Dur. Melalui Ibu Ratih, lobi-lobi Prabowo terhadap Gus Dur akan berjalan mulus. Namun satu hal yang harus diingat Prabowo. Bila nanti Prabowo telah direhabilitasi, hendaknya jangan terlalu tamak, misalnya berharap jabatan Pangkostrad akan dikembalikan kepadanya. Prabowo harus bersikap legowo, untuk bersedia berada di bawah pimpinan Lejen TNI Susilo Bambang Yudhoyono, yang di masa lalu sempat menjadi pesaingnya. Prabowo hendaknya jangan mengikuti perilaku Jenderal Nasution, meski Prabowo adalah pengagum Nasution, yang diwujudkan dengan penganugerahan anggota kehormatan Korps Baret Merah bagi Nasution. Dulu Nasution yang sempat berhenti dari dinas Angkatan Darat, oleh Bung Karno direhabilitasi, dengan mendudukan Nasution kembali sebagai KSAD (1955). Namun di kemudian hari Nasution berkonspirasi dengan Suharto, untuk mendongkel Sukarno, bak bunyi pepatah "air susu dibalas air tuba". Kalau ingin meniru senior, tirulah Kol Inf Alex Evert Kawilarang, pendiri Korps Baret Merah, kesatuan tempat di mana Prabowo dibesarkan. Meski hanya berpangkat Kolonel, namun integritas pribadinya melebihi para jenderal. Kita belum pernah mendengar ceritanya Kol Kawilarang bermain uang. Bagi Gus Dur, memelihara Prabowo kelak akan banyak gunanya, Prabowo bisa dijadikan "tukang pukul". Tenaga Prabowo bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu, siapa tahu ketika berkuasa nanti, ternyata Gus Dur memiliki potensi otoriter, sebagaimana lazimnya orang yang sedang berkuasa. *** _______________ TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI, dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Oct 1999 jam 16:52:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
