----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

ANGGOTA FRAKSI TNI-POLRI AKAN PEROLEH KPLB

        JAKARTA, (TNI Watch!, 13/10/99). Salah satu kebanggaan menjadi
anggota TNI, adalah ketika memperoleh KPLB (Kenaikan Pangkat Luar Biasa).
KPLB biasanya diberikan kepada prajurit yang berjasa besar dalam medan
perang, misalnya tetap memberikan perlawanan gigih, walaupun dalam posisi
terdesak. Atau dalam kondisi sulit, tetap berusaha menyelamatkan
kawan-kawannya yang luka.

        Oleh karenanya keputusan KPLB hanya dikeluarkan dengan pertimbangan
khusus. Contohnya adalah tim yang membebaskan sandera di Mapnduma (Mei 1996)
lalu, seluruh anggota tim memperoleh KPLB, seperti (dengan pangkat baru) Kol
Inf Chairawan (Komandan Yon 22 Grup 2 Kopassus) dan Letkol Inf Musa Bangun
(Danyon Linud 328/Kostrad).

        Satu hal yang pasti, KPLB itu sangat selektif, tidak asal beri alias
diobral. Soal KPLB yang bakal diobral itulah yang mengundang keprihatinan
kita. Ceritanya begini, untuk memuluskan duet Habibie-Wiranto, perlu
mendapat dukungan seluas-luasnya dari anggota DPR. Selain dari Golkar, duet
Habibie-Wiranto mengharapkan dukungan penuh dari anggota Fraksi TNI-Polri,
yang berjumlah 38 orang. Sebagai balas jasa atas dukungan penuh terhadap
Habibie-Wiranto itulah, seluruh anggota Fraksi TNI-Polri akan memperoleh
kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi.

        Bukan hanya kalangan awam, kalangan TNI pun akan sedih mendengar
rencana "obral" pangkat tersebut. Seperti Letjen TNI Purn Kemal Idris, yang
pernah mencak-mencak, ketika Suharto dan AH Nasution diberi pangkat Jenderal
Besar (bintang lima). "Kenaikan pangkat setelah orang pensiun, itu tidak ada
aturannya," kata Kemal Idris kesal.

        Kalau KPLB jadi diberikan kepada anggota Fraksi TNI-Polri, maka
kelak seluruh anggota Fraksi TNI-Polri berpangkat jenderal. Perlu diketahui,
pangkat terendah yang disandang anggota Fraksi TNI-Polri adalah kolonel
(empat orang). Dengan "obral" KPLB, berarti mereka telah bertindak double
memalukan. Tindak memalukan pertama adalah, mereka duduk DPR tanpa melalui
pemilu, tetapi ditunjuk. Ini sangatlah bertentangan dengan prinsip demokrasi
di mana pun. Tindak memalukan kedua, mereka naik pangkat dan menjadi
jenderal (bagi yang kolonel), dengan cara yang sangat mudah, ibaratnya tanpa
keluar keringat setetes pun (apalagi darah). Itu tidak sesuai dengan tradisi
KPLB, yang mensyaratkan pengorbanan (setidaknya prestasi) yang meyakinkan
dari yang bersangkutan.

        Kalau para anggota Fraksi TNI-Polri masih memiliki harga diri,
sebaiknya mereka menolak saja obralan KPLB tersebut. Tapi adakah orang yang
percaya, mereka memiliki keberanian moral untuk menolak pangkat yang sudah
melambai-lambai di depan mata.

        Setelah sekian hari Sidang Umum MPR berlangsung, semakin terasa
kerancuan keberadaan TNI di Parlemen. Kini aspirasi yang berkembang untuk
pemilihan presiden, adalah mekanisme "satu orang satu suara" (one man one
vote), tidak lagi berdasar musyawarah atau suara tiap fraksi seperti masa
lalu. Dengan sistem "one man one vote", anggota Fraksi TNI-Polri pasti akan
kikuk, karena dia tidak menyalurkan suara berdasar hati nurani, tapi harus
sesuai perintah atasannya, sesuai dengan asas "komando", yang juga berlaku
bagi anggota TNI di legislatif. Jadi mekanisme "one man one vote" akan
sia-sia, bila diterapkan pada anggota Fraksi TNI-Polri, yang terbiasa dengan
garis komando. Misalnya begini, hati nuraninya mungkin memilih Megawati
(sebagaimana yang diperlihatkan oleh Mayjen TNI Tayo Tarmadi), namun karena
perintahnya adalah harus memilih Habibie, terpaksalah ia harus mengingkari
suara hatinya.

        Karena Wiranto sudah resmi digandeng Habibie sebagai Calon Wakil
Presiden dari Partai Golkar, maka kita layak menyimpan kekhawatiran, bahwa
suara Fraksi TNI-Polri pasti akan disalurkan sepenuhnya demi kemenangan
Habibie. Sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, kalau TNI sudah memiliki
kehendak, segala cara akan mereka lakukan, asal tujuan tercapai. Bisa dengan
cara yang sangat halus, misalnya membeli suara (money politic), atau cara
yang kasar, seperti menteror atau memberlakukan kondisi "Siaga Satu",
sebagaimana yang kini terjadi.

        Kalau cara yang halus dan yang kasar, biasanya diperuntukkan untuk
kalangan di luar TNI. Maka kini mereka mempraktikkan cara baru dalam
mencapai tujuan, yang ditujukan untuk kalangan TNI sendiri, demi mudahnya,
untuk sementara praktik baru ini sebut saja "rank politic" (politik
pangkat). ***

_______________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Oct 1999 jam 17:13:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke