----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------
Precedence: bulk
FUAD BAWAZIER SUAP DPRD DIY
JAKARTA, (SiaR, 14/10/99). Anggota DPRD I DIY sedang digoyang isu
santer. Lolosnya Fuad Bawazier, anggota PAN dan salah satu "operator" Poros
Tengah, jadi utusan daerah DIY diduga keras berkat penyuapan terhadap para
anggota DPRD setempat. Sebuah sumber di DPRD Yogyakarta menyebutkan bahwa
anggota DPRD DIY menerima uang suap Rp 5 juta-Rp 10 juta setiap orang untuk
meloloskan Fuad Bawazier. Indikasi itu diakui anggota Fraksi Kebangkitan
Bangsa (F-KB) dan Fraksi Persatuan (F-P) DPRD DIY. Keduanya membenarkan
adanya dugaan praktek politik uang di DPRD DIY dalam pemilihan anggota MPR
RI Utusan Daerah DIY periode 1999-2004.
Menurut anggota DPRD PKB Hj Zanatul Mafruchah SH, money politics pemilihan
Utusan Daerah MPR memang mengarah terjadinya jual beli suara. Zanatul
menyatakan mendapat tawaran uang, namun menolak menerimanya. "Anggota F-KB
DPRD DIY tidak menerima uang suap, tapi benar ada indikasi untuk ditawari
uang suap namun ditolak. Untuk apa menerima uang suap, karena itu jelas
merupakan pengkhianatan aspirasi rakyat," katanya.
Sementara Wakil Ketua DPRD DIY dari Fraksi Amanat Nasional (F-AN) H Totok
Daryanto SE dan Drs Emawan Wahyudi dari F-AN membantah keras telah terjadi
praktek tercela di lembaga terhormat itu. Namun Imawan tidak menampik bahwa
sebelum pemilihan anggota MPR RI utusan DIY, banyak telepon yang masuk ke
F-AN yang isinya titip pesan agar F-FAN mendukung Fuad Bawazier. "Tapi tidak
jelas siapa yang menelepon titip pesan tersebut," kata Imawan.
F-AN DIY, kata mereka tidak melakukan praktik money politics untuk
meloloskan Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan di kabinet terakhir
Soeharto itu, sebagai anggota MPR RI. "Kalau ada yang menuduh F-AN melakukan
money politics, jelas itu fitnah," katanya, seraya menambahkan dalam
meloloskan Fuad, anggota F-AN melakukan lobi-lobi dengan fraksi lain yakni
F-KB, F-P dan F-TNI/Polri.
Kehadiran Fuad menjadi utusan daerah DIY di MPR sempat mengagetkan sejumlah
kalangan. Apalagi, tiketnya dari PAN, partai yang paling keras bicara anti
status quo. Kekagetan tersebut disebabkan karena Fuad merupakan sosok bekas
menteri yang dekat dengan keluarga Cendana. "Selama menjadi Dirjen Pajak
hingga menjadi Menteri Keuangan, Fuad paling senang memberikan kemudahan
penumpukan harta keluarga Cendana," kata sebuah sumber di Jakarta.
Karena kedekatannya dengan keluarga Cendana itulah, karir birokrasi Fuad
Bawazier cepat menanjak. Tidak puas menjabat Dirjen Pajak, ia berambisi
menjadi Menkeu dengan jalan melobi Cendana yang hasilnya: Mari'e Muhamad
tersingkir. Sebelum menjadi Menteri Keuangan, oleh Soeharto, Fuad juga
pernah diminta menjadi menjadi Wakil Sekjen dalam Dewan Pemantapan Ketahanan
Ekonomi dan Keuangan (DPKEK) - sebuah lembaga yang dibentuk setelah
ditekennya kesepakatan dengan IMF.
Fuad Bawazier memang tak akan sebersih dan hidup sederhana seperti Mari'e
Muhamad. Fuad Bawazier memiliki rumah di Silver SpringS, Maryland,
Washington, DC seharga US$ 800 ribu yang dibayarnya dengan kontan. Mula-mula
di sana tinggal tiga anaknya; tetapi yang satu pergi, jadi tinggal dua orang
yang di sana. Mereka hidup mewah, dengan mengoleksi mobil Lexus seharga US
$80 ribu, Landrover seharga US$ 68 ribu, dan Nissan seharga US$ 40.000.
Semua dibayar kontan.
Ia meniti karir di Direktorat Jenderal Pajak sejak 1974. Pria kelahiran
Tegal, Jawa Tengah, 22 Agustus 1949 itu, sejak 93 menempati pos Dirjen
Pajak, sebelum akhirnya menggantikan Mari'e jadi Menkeu di periode akhir
Soeharto. Bekas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada itu pernah
menjabat Komisaris Utama PT Bursa Efek Jakarta, untuk periode 1996-1998. Ia
juga merangkap komisaris utama PT Satelindo dan komisaris di Bank Bumi Daya.
Pada saat menjadi birokrat, Fuad banyak sekali merekomendasi bisnis
keluarga dan kroni Cendana. Ketika menjadi Dirjen Pajak, Doktor Ekonomi dari
University of Maryland tahun 1988 ini mengabulkan permintaan pembebasan
pajak mobil Timor milik Tommy. Atas kerjasamanya itulah, Tommy minta kepada
bapaknya menjadikan Fuad sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet VII.
Namun, karena katrolan, saat menjabat Menteri Keuangan, Fuad
membuat keputusan yang hanya berumur beberapa jam. Keputusan pemungutan
pajak 5 persen dari setiap pembelian valuta asing, akhirnya dicabut beberapa
jam kemudian. Dia juga yang menetapkan besarnya fiskal Rp 1 juta per orang.
Ketika Soeharto kesulitan karena krisis moneter yang makin buruk, sebagai
Menkeu, bersama Titik Prabowo, Mbak Tutut dan Peter Gontha (seorang kroni
Soeharto), Fuad mendatangkan "dukun ekonomi" dari AS, Prof Steve Henke.
Steve kemudian menjadi penasehat ekonomi Soeharto untuk menerapkan Currency
Board System (CBS) sistem moneter yang sarat dengan perjudian.
Berkat "prestasi" Fuad Bawazier dekat dan ikut membesarkan anak-anak
Soeharto dan keluarganya itulah, maka orang patut curiga, kenapa Amien
sekarang dekat dengan Fuad Bawazier. "Bukan menuduh Amien telah dibayar
Cendana, tapi harus dijelaskan kenapa PAN mengangkat Fuad Bawazier menjadi
anggota MPR utusan daerah DIY," kata sebuah sumber.
Sumber yang bisa dipercaya menuturkan kepada SiaR, bahwa Fuad lah yang
mendorong lahirnya Poros Tengah ke Amien Rais. Fuad, kata sumber itu
memperoleh order membentuk Poros Tengah dari Mbak Tutut, salah satu anak
Soeharto. Fuad, kata sumber itu dipasok uang yang jumlahnya hampir Rp 1
triliun untuk menggolkan rencana Poros Tengah mencalonkan Gus Dur jadi
presiden untuk menjegal Megawati. Kalau Gus Dur jadi presiden, apalagi
dengan manuver ini, Habibie terpilih kembali, Mbak Tutut berharap, keluarga
besar Soeharto tak akan diusik lagi. ***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Oct 1999 jam 13:23:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++