----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, 9 Oktober 1999

SU-MPR dan Timor Timur

ANGGOTA MPR YANG mulai bersidang sejak 1 Oktober 1999, akan
mencabut Tap MPR atas Integrasi Timor Timur ke Dalam Negara
Kesatuan RI. Tetapi dengan syarat kecurangan-kecurangan Unamet
harus segera diusut. Dan PBB segera menyelenggarakan pemilu, untuk
terbentuknya pemerintahan Timtim yang demokratis. Demi meredam
pertikaian antarkelompok di tanah Loro Sae itu, sehingga rakyat
Timtim bisa melakukan rekonsiliasi atau kerukunan untuk mencapai
musyawarah mufakat. Sebab data yang diumumkan Unamet, 78,5%
prokemerdekaan dan 21,5% prointegrasi, sungguh tidak masuk akal
dan jelas penuh kecurangan.

Sebab kalau dilihat rakyat Timtim yang mengungsi ke NTT sudah
mencapai 250.000 orang. Ditambah sekitar 50.000 yang mengungsi ke
NTT, Bali, Jawa, Sulawesi, dan lain-lain. Plus sekitar 50.000 pula
anggota perlawanan prointegrasi Aitarak/BMP/Mahidi dan lain-lain,
yang masih tinggal di Timtim. Jumlah sekitar 150.000 ditambah yang
mengungsi ke NTT 250.000 plus yang mengungsi di luar NTT 50.000.
Jadi jumlah seluruhnya 450.000 dari jumlah rakyat Timtim sekitar
850.000. Dengan demikian yang prointegrasi sebenarnya lebih 50%.
Posisi kenyataan tersebut berbalik dengan yang diumumkan Unamet,
membuat rakyat prointegrasi mengamuk dan menyebabkan pelanggaran
HAM. Jadi siapa pemicu HAM. PBB harus bertanggung jawab atas ulah
oknum-oknum Unamet yang dibentuknya.

Kalau SU-MPR telah memutuskan Timtim lepas dari RI, maka
perlawanan prointegrasi Aitarak/BMP/Mahidi dan lain-lain akan
menghambat menuntut haknya. Untuk itu demi kedamaian rakyat
Timtim, kecurangan Unamet perlu didudukkan pada proporsi yang
sebenarnya. Bukan lagi mencari kemenangan prointegrasi. Sebab
dengan posisi 21,55 berbanding 78,5% prokemerdekaan, tak mungkin
akan ada rekonsiliasi. Prokemerdekaan berarti menang telak. Tak
mungkin mereka mau bertemu, sebab yang kalah terpojokkan dan
pemenang semu tetap melecehkan. Tak mungkin ada rekonsiliasi dan
tak mungkin ada sharing dalam pemerintahan Timtim yang merdeka.
Kalau kecurangan sekitar 40% berbanding 60% untuk prokemerdekaan,
yang pro dan anti integrasi akan masih mungkin untuk melakukan
rekonsiliasi demi kedamaian abadi rakyat Timtim.

Dan kemenangan prokemerdekaan bukan berarti Timtim segera merdeka.
Untuk itu PBB perlu segera mengembalikan pengungsi dan
menyelenggarakan pemilu, demi terbentuknya pemerintahan demokrasi.
Sehingga semua pihak senang, rakyat Indonesia gembira dan veteran
Seroja pun akan rela. Bumi Loro Sae merdeka dengan damai.

MOELYONO
Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Oct 1999 jam 10:32:36 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke