----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Denny Kusnira <[EMAIL PROTECTED]>:

Prihatin atas Gaya Pemberitaan Harian Umum "Rakyat Merdeka"

Sebagai pemerhati, pengkaji, dan pecinta pers, kami tidak pernah terlewatkan
untuk terus memantau berbagai penerbitan pers, mulai dari tata letak,
keredaksian, segmentasi pasar, sampai visi dan misi pers bersangkutan. Salah
satunya yang paling kami kritisi adalah harian Rakyat Merdeka. Mengapa ?
Harian yang beredar dengan motto reformasi total untuk rakyat ini, memiliki
benyak keunikan yang membedakannya dengan harian lainnya. Tentunya kekhasan
ini patut membuat bangga segenap awak Rakyat Merdeka. Lagipula di era
reformasi dan demokratisasi ini, kebebasan pers dijamin oleh Undang-undang.

Sayangnya, ciri khas yang dimiliki Rakyat Merdeka, menurut kajian kami,
lebih banyak bersifat negatif daripada positifnya. Terutama bila mencermati
hal-hal sebagai berikut :

Pertama, pilihan kata (diksi) dalam penulisan berita atau analisisnya,
didominasi oleh kata-kata kasar yang cenderung sarkastis dan berbau hujatan.
Sebagai contoh, headline Rakyat Merdeka edisi Kamis 14 Oktober 1999,
tertulis "Golkar Ndablek dan Rakus". Terlepas dari benar tidaknya substansi
beritanya, penggunaan kata "ndablek" dan "rakus" jelas lebih bermakna
hujatan dan cemoohan ketimbang kritik atau saran. Apakah tidak ada kata lain
yang lebih santun dan beradab tapi cukup  pedas untuk menyampaikan kritik
selain kedua kata itu yang lebih pantas diucapkan oleh preman ketimbang
jurnalis ? Contoh ini, merupakan bukti bahwa kebijakan keredaksian harian
yang pilihan warnanya didominasi warna merah darah ini tidak mengindahkan
aspek intelektualitas dan moralitas pers yang beradab.

Kedua, selain bernada cemoohan atau hujatan, judul-judul beritanya banyak
yang bertendensi provokasi dan merangsang pembaca untuk berbuat anarkhis dan
menghina lembaga peradilan. Salah satu contoh, judul berita halaman pertama
edisi Rabu, 31 Oktober 1999. Dengan warna merah menyala, tertulis"Seret
Jaksa Agung, Adili di Depan Rakyat." Membaca judulnya saja, bisa membuat
miris orang yang pikiran dan hati nuraninya masih jernih. Terlepas dari puas
atau tidak, setuju atau tidak dengan Jaksa Agung, judul demikian merangsang
orang untuk melecehkan lembaga peradilan dan berbuat anarkhis. Istilah
"seret", itu hanya pantas diberikan untuk hewan ternak yang mau di jagal,
dan "Adili di Depan Rakyat" sama artinya dengan memprovokasi rakyat untuk
main hakim sendiri. Hal itu tentu saja tidak mendidik rakyat agar melihat
demokrasi secara benar, sebaliknya membodohi rakyat seraya mengajari untuk
berbuat kekerasan yang mengarah kepada anarkhi, kalau bukan revolusi.

Kedua contoh di atas, hanya sebagian kecil saja dari sekian banyak
pemberitaan Rakyat Merdeka. Kata-kata kasar yang banyak mendominasi
judul-judul beritanya, lebih pantas dipakai oleh para demonstran untuk
menulis poster, pamflet, atau selebaran gelap ketimbang judul berita harian
yang bermartabat dan beradab.

Kenyataan ini juga mengarahkan penilaian kami akan citra pers Rakyat Merdeka
sebagai representasi pers "kuning" penyebar isu, ketimbang pers profesional
yang sarat fakta dan kental analisis.

Citra pers kuning dan kacangan itu, diperkuat dengan rubrik khas dihalaman
muka baris terbawah yang memuat profil-profil artis dengan pose "syuur" dan
judul merangsang imajinasi dan hasrat hewani pembaca, utamanya para pria.
Adanya rubrik esek-esek ini, amat kontradiktif dengan kesan "sok" idealis
dari rubrik-rubrik lainnya.

Lantas, yang menjadi pertanyaan kami, apa untungnya secara bisnis dan apa
manfaatnya secara politis dengan tampilan Rakyat Merdeka seperti itu? Bila
hitung-hitungannya semata-mata bisnis, menurut amatan kami tidak begitu
signifikan mendongkrak oplah Rakyat Merdeka, ketimbang harian lain yang
lebih serius dan santun.

Kemudian dari aspek kepentingan politis, menurut penilaian kami justru bisa
menjadi kontra produktif bagi pencapaian target politik tertentu. Sebagai
korannya massa pro-Mega, gaya pemberitaan ala Rakyat Merdeka ini justru bisa
kontra produktif bagi kepentingan Megawati sendiri. Bahkan bisa merusak
citra Mega sebagai figur capres PDI-P. Disatu pihak Mega dicitrakan sebagai
figur keibuan yang seakan santun lantaran banyak diamnya, dipihak lain
"Rakyat Merdeka" tercitrakan bombastis, sarkastis, provokatif, dan
mengeksploitasi lekuk-lekuk tubuh kaum hawa, kaumnya mbak Mega.

Denny Kusnira Kasih

Tanjung Barat-Jakarta Selatan
No. KTP. 09.5309.521074.0434

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Oct 1999 jam 14:45:24 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke