---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- From: Siswa Rizali Data dalam Pidato Habibie: Menjawab Kebohongan dengan Kebohongan Semuanya sedang semangat membahas tentang pidato pertanggungjawaban Habibie yang penuh dengan data-data kuantitatif yang dimanipulasi guna menunjukkan keberhasilan kebijakan-kebijakan ekonomi dalam masa 16 bulan pemerintahannya. Sayangnya mereka yang menyebut dirinya ekonom atau digelar pengamat ekonomi oleh masyarakat ternyata juga membongkar kebohongan Habibie dengan kebohongan baru. Melihat putar ulang debat pertanggungjawaban Habibie dan tanggapan anggota dewan di televisi maka satu hal yang jelas: para ahli/anggota dewan/pengamat tersebut hanya mampu berdebat tentang kesahihan data yang ada, melemparkan data baru yang belum tentu juga sahih, dan kemudian kembali cakar-cakaran tentang kebohongan-kebohongan yang terkandung dalam data tsb. Celakanya tidak ada yang punya visi atau penjelasan tentang kebijakan alternatif yang seharusnya ditempuh oleh Habibie atau presiden RI yang akan datang guna memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia. Artinya memang sudah menjadi ciri khas pengamat, kritikus, dan analis di Indonesia yang hanya menjawab kebohongan pemerintah dengan menyampaikan kebohongan baru kepada rakyat. Akhirnya rakyat hanya bingung sendiri karena sepanjang hidupnya terus diombang-ambing kebohongan dari berbagai pihak elit yang saling berebut kekuasaan, rezeki, dan popularitas. Data dan Akurasinya Permasalahan utama dalam membahas ekonomi negara sedang berkembang seperti Idnoesia adalah bagaimana caranya memperoleh data yang akurat dengan rincian yang bisa dipercaya. Ketika para ahli, seperti Sjahrir, Sri Mulyani, Anggito, dll, mempertanyakan ketepatan data-data yang dilaporkan Habibie mereka memberikan kesan bahwa semua data yang ada ditangan Habibie adalah bohong. Lalu para ahli tsb memberikan data alternatif yang nilainya sangat ekstrim dibandingkan dengan data dari Habibie dan yang dianggap lebih benar. Saya jadi bertanya-tanya: 1. apakah ekonom tsb tidak pernah melakukan penelitian dan menemukan kenyataan betapa sulitnya memperoleh data yang baik untuk negara sedang berkembang seperti Indonesia???? 2. apakah data tandingan yang diberikan tsb juga merupakan suatu data rekayasa yang berguna untuk menjual dagangan para analis, pengamat, yang berpolitik tsb??? Contoh-contoh berikut akan memperjelas: 1. Data Produk Domestik Bruto mengalami revisi berulang kali. Mengacu ke simbol BPS, mulai dari yang berbintang empat (****) dengan arti "data yang sangat-sangat-sangat-awal" (very-very-very preliminary data) sampai bintang satu (*= "data awal" = preliminary data), sedangkan yang menjadi revisi terakhir biasanya bertanda R. Jangka waktu antara data yang berbintang empat sampai menjadi kode 'R' bisa memerlukan waktu 2-3 tahun. Jadi wajar saja bila ada yang bilang PDB Indonesia konstraksi 13 % sampai 15% untuk tahun 1998, tidak masalah 13,2 atau 13,4 persen sebagaimana yang dipertanyakan Anggito. 2. Coba anda bandingkan data ekspor-impor bulanan versi BI dan BPS, keduanya akan menunjukkan angka yang berbeda untuk waktu yang sama. Mungkin data tahunannya pun berbeda. Hal ini dikarenakan metode hitung yang berbeda. 3. Menghitung data pengangguran atau kemiskinan lebih sulit lagi. Sementara BPS memperkirakan 80 juta penduduk miskin, World Bank memperkirakan 40 juta jiwa untuk tahun 1998/1999. Tapi Arsjad Anwar (mantan Dekan FEUI dan dan sekarang pejabat Bappenas) memperkirakan 60 juta jiwa penduduk miskin di Indonesia. Jadi mana yang benar??? Sedangkan data pengangguran yang dikeluarkan BPS, untuk seri sensus yang berbeda akan memberikan hasil yang juga tidak konsisten. Tidak percaya? Coba cek data SUSENAS, SENSUS PENDUDUK, dan Survey Tenaga Kerja. Maka akan anda lihat fluktuasi angka pengangguran yang "aneh", padahal datanya sama-sama dikeluarkan BPS. 4. Data hutang LN. Meskipun HLN pemerintah atau HLN jangka panjang relatif lebih mudah diestimasi, data HLN jangka pendek sulit sekali diprediksi. Karena itu wajar saja bila HLN Indonesia versi World Bank, Bank International for Settlement, dan lembaga keuangan internasional lainnya (seperti JP MOrgan dan Goldman Sachs) akan berbeda-beda nilainya, mulai US$ 150 milyar sampai US$180 milyar. Mana yang benar??? Namun tindakan Kwik Kian Gie yang memanipulasi metode perhitungan rasio HLN per PDB dalam tulisannya di Kompas pada akhir tahun 1998 juga tidak bisa dibenarkan, lalu mengapa ekonom/pengamat tidak mempertanyakannya?? 5. Akhirnya coba anda pergi ke konsultan internasional yang ternama, saya yakin tidak ada yang dengan akurat bisa "memperkirakan" biaya rekapitalisasi perbankan, kredit macet, dan data-data keuangan lainnya. Biasanya mereka hanya membuat "perkiraan" dalam suatu interval seperti: kredit macet sekitar 40-60 persen total aset perbankan atau biaya rekapitalisasi sekitar 50-70 persen PDB. Jadi seandainya si Rijanto (yang pengamat perbankan itu) bilang kredit macet perbankan sekitar 80 persen dari total aset bank, data dari mana???? 6. terakhir, setiap pengamat/oposan Habibie, dari Kwik Kian Gie sampai Sjahrir, selalu berkata: "Hutang dengan IMF membengkak tiba-tiba sejak tahun 1997 menjadi US$ 43 milyar". Data dari mana bung??? Sebagai pengamat/politisi seharusnya anda bisa membedakan hal yang sederhana antara KOMITMEN PINJAMAN (Debt Commitment) dan PENCAIRAN PINJAMAN (Debt Disbursement). Memang benar Komitmen Pinjaman yang disediakan IMF US$ 43 miliar, tapi yang baru di cairkan tidak sampai US$ 15 miliar. Coba saja lihat dalam IMF International Financial Statistic, bagian Indonesia, data Balance of Payment, line 79dcd-Use of Fund Credit and Loans : data pencairan pinjaman adalah: 1997 ==> US$ 3825 millions; 1998 ===> US$ 5782 millions (total US$ 8907 millions). Jadi pengamat/ekonom/politisi yang bilang hutang ke IMF sejak tahun 1997 meningkat US$ 43 Miliar ada dua kemungkinan: kalau nggak BODOH ya PENIPU. Semua contoh diatas hanya sebagian kecil gambaran betapa membingungkannya data-data yang ada di Indonesia. Semua data tergantung kepada siapa yang menyatakan, bagaimana mengestimasinya, dan sejauh mana telah direvisi berdasarkan informasi terbaru. Dan yang lebih penting adalah: apa tujuan menyebut data tsb???? Karena itu setiap orang dapat mengeluarkan berbagai versi data yang sebenarnya semua akan menyesatkan dan memperbodoh rakyat bila tidak dijelaskan bagaimana data tersebut dliperoleh atau sumbernya dari mana. (Catatan: Di negara maju pun hasil penelitian ekonomi kadangkala bisa berubah atau diperdebatkan terkait dengan masalah datanya. Coba lihat sebuah artikel terbaru David E. Runkle -ahli data Fed. Reserve Bank of Minneapolis- "Revisionist History: How Data Revisions Distort Economic Policy Research" Quarterly Review Fed. Reserve Bank of Minneapolis, Fall 1998) Sekarang ini yang sebenarnya diperlukan adalah bagaimana para politisi, pengamat, analis, dan akademisi menjalankan tanggung-jawab masing-masing untuk mencerdaskan rakyat memahami data-data tsb. Bukannya sibuk berdebat dan saling mencaci-maki untuk mempromosikan diri sebagai yang terhebat, terpintar, dan terbaik. Karena sebenarnya semua mereka telah sama-sama membingungkan rakyat ketika mereka mencari rezeki masing-masing yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan rakyat. Penutup Rakyat sudah bosan menonton semua hiburan-hiburan yang penuh dengan kebohongan. Baik itu kebohongan yang disampaikan oleh Habibie tentang "betapa baiknya kondisi perekonomian Indonesia" maupun kebohongan yang disampaikan pengamat ekonomi/politisi oposan mengenai "betapa buruknya kondisi perekonomian Indonesia". Menjawab kebohongan data Habibie dengan kebohongan data alternatif hanya akan menambah jumlah kebohongan yang sudah 50 tahun lebih terakumulasi di Indonesia. Masalah ekonomi Indonesia tetap tidak selesai, yang terjadi malahan rakyat semakin menderita karena kaum terpelajar, penguasa, analis, dll ribut tidak menentu tanpa pernah berakhir. Buat para pejabat dan pengamat maka perlu disadari bahwa yang dibutuhkan rakyat sekarang ini adalah orang-orang yang bisa berdebat, meramu, dan memberikan kebijakan alternatif bagi penyelamatan ekonomi Indonesia. Bukan sekedar jadi selebritis yang saling memperdebatkan baik-buruknya kondisi ekonomi dengan data-data yang dimanipulasi tanpa ada tujuan atau kesimpulan yang bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat. Buat para akademisi: tugas anda lah untuk mendidik dan membimbing rakyat agar tidak mudah ditipu oleh penguasa maupun komentator di media massa yang menganggap rakyat hanya pasar yang harus digarap demi proses akumulasi kekuasaan, popularitas, dan kekayaan masing-masing. Khusus untuk rakyat Aceh yang sering dicatut namanya dalam Sidang Umum MPR saya mau mengingatkan: dulu generasi kakek kita- seperti Tgk Daud Beureeuh - ditipu Soekarno (Bapaknya si Mega nih), generasi bapak kita ditipu Soeharto, generasi kita tertipu oleh Habibie. Maka saya bertanya: sampai kapan lagi rakyat Aceh mau terus diperbodoh oleh penguasa Fasis yang berpusat di Jakarta??? ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Oct 1999 jam 17:27:59 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
