---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- From: Harri Daryanto Catatan salah satu kegagalan habibi di mata petani dan masyarakat koperasi Menjelang akhir pertanggungan jawaban persiden Habibi pada tanggal 14 Oktober lalu, ternyata di bidang pangan dan pertanian ada kekurangan yang sangat mencolok, meskipun dari pertanggungan jawab tersebut Bulog menjadi andalan Habibi..? Hal ini terungkap sejak 3 bulan lalu, hampir sebagian besar hasil panen padi para petani di Indonesia selain tidak mampu diserap oleh pengadaan pangan yang seperti biasanya dilakukan oleh Bulog, serta pihak koperasi menjadi permainan pemerintah. Hal Ini terbukti dari beras yang dimasukan oleh KUD untuk pengadaan pangan sejak 3 bulan lalu ternyata hingga saat ini tidak dibayar oleh Bulog. Hingga tanggal 16 Oktober beras pengadaan pangan untuk P Jawa yang belum dibayar oleh Bulog tercatat 300 milyar rupiah, ( sebagai rincian adalah Dolog Jabar sekitar 90 milyar, Dolog Jateng sekitar 85 milyar sedang sisanya adalah nyangkut di Dolog Jatim) uang sebayak ini bagi petani dam masyrakat koperasi, sangatlah amat besar (karena sebagian besar pemasok adalah petani kecil, yang mengandalkan hidupnya dari hasil bertani mereka.) Yang lucunya diungkapan pihak Dolog bahwa tak terbayarnya uang KUD dan masyarakat itu, adalah diakibatkan beras oplosan (dioplos beras local dan Impor) yang ditemukan di Jateng . padahal seperti diungkapkan Kadolog Jateng Muslimin Siregar 14 Oktober waktu lalu di depan wartawan, "bahwa beras yang tak teroplospun tidak bisa dibayar kemungkinan dibayarpun nanti menunggu kabinet baru seusai SU MPR." Dari pernyataan Muslimin Siregar ini jelas pemerintah membohongi rakyat dengan alasan beras oplosan padahal pemerintah tidak punya uang untuk membayar beras yang telah ditumpuknya digudang-gudang Dolog sejak beberapa bulan lalu. Yang sangat dirugikan akibat perlakukan ini adalah petani. Bias dibayangkan para petani di Jawa yang rata-rata mempunyailahankecil dan mengandalkan hidup langsung dari bertani ini, juga sebagian besar penduduk Jawa ini adalah petani. Selain Petani yang dirugikan adalah KUD (Koperasi Unit Desa) sebagai tangan lanjutan dari petani ke Dolog mereka terpaksa merugi cukup banyak, karena sebagian uang untuk pengolahan gabah milik petani tersebut dipinjami oleh Bank melalui BRI, yang jelas-jelas uang pinjaman ini berbunga. Dengan mecetnya uang di Dolog ini maka mereka harus bayar bunga tanpa bisa mendapatkan penghasilan dari uang yang diinvest kepengolahan gabah tadi, karena hasilnya belum dibayar oleh Dolog. Diperkirakan tiap bulan KUD merugi ratusan juta rupiah untukbayar bunga di Bank. Dampak yang paling mengenaskan adalah akibat tidak mampunya pemerintah membayar beras milik petani, saat ini para petani gagal panen akibat kekeringan, mengakibatkan sawah mereka tak menghasilkan, sedang beras dipasaran bukannya naik malah anjlok. hal ini diakibatkan banjirnya beras yang ditarik oleh para supplier dari gudang DOLOG dilempar kepasaran, sebagai contoh hari ini 16/Oktober tercatat harga dipasar beras Widasari Indramayu untuk IR 64 yaitu Rp 2.100,-/Kg harga ini dibawah harga pasar, sedang harga patokan yang ditetapkan oleh pemerintah adalah Rp 2.315,-/Kg. Maka yang paling parah menderita saat ini adalah petani dan KUD, beras yang dipanen 4 bulan lalu diutang nggak dibayar, saat diambil lagi beras mereka ternyata harga jatuh terpuruk, sementara beras merekapun kualitasnya sudah berkurang akibat sudah tersimpan lama. Kesalahan terbesar yang merugikan petani dan Koperasi Unit Desa ini adalah salah satu faktor terberat dari kebijakan Habibi yang saat perlu dipertimbangkan oleh para anggota dewan terhormat untuk pertanggungan jawabnya. Diharapkan dengan salah data ini para wakil rakyat yang saat ini sedang bersidang agar bisa menolak pertanggunganjawaban Habibi dalam sidang tersebut........... Ammminnnnnnnnnn Orang kampung ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Oct 1999 jam 17:28:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
