----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA:
COUP MILITER DI PAKISTAN . . . .
Asal saja tidak ada yang latah di Jakarta
13 Oktober 1999
i). Panglima Tentara Pakistan Jendral Pervaiz Musharraf (56), dengan
alasan �tidak ada kemungkinan lain' telah melakukan perebutan kekuasaan
pada malam tanggal 12 Okrtober kemarin. Sebegitu jauh belum ada laporan
telah jatuh korban. Ini bukan perebutan kekua
saan yang pertama kalinya yang dilakukan oleh tentara. Sejak Pakistan
merdeka pada tahun 1947, dengan coup kali ini sudah keempat kalinya
tentara merebut kekuasaan negara. Konflik antara sipil dan milier
tampaknya sudah menjadi semacam �ritual' di Pakistan. Sebentar rezim
militer, sebentar demokrasi parlementer, silih berganti. Dalam 4 kali
coup, tentara paling tidak,  telah menguasai Pakistan selama kurang
lebih 25 tahun.

Ketika ia naik panggung pemerintahan, Nawaz Sharif berjanji akan
memberikan perhatian terutama pada masalah pemulihan ekonomi negeri yang
memang sudah morat-marit. Tetapi  yang dikerjakannya, tampaknya,
mengambil langkah-langkah untuk memperbesar kekuasaannya sendiri dan
melestarikannya. Ia telah memecat Hakim Agung Negeri dan memaksa
presiden  mengundurkan diri. Yang paling krusial ialah bahwa dalam
langkah-langkahnya, terutama dalam menangani �krisis Kargil', ia telah
memperbesar konfliknya dengan fihak militer. Dalam ambisinya untuk
bercokol di kekuasaan, ia telah bertindak bertentangan dengan konstitusi
. Mantan PM Pakistan, Benazir Bhutto mengatakan bahwa PM Sharif sendiri
yang telah memprovosir tentara untuk mengambil alih kekuasaan.
Dikatakannya bahwa Sharif telah memperpolitisir tentara dan  sedang
mengubah Pakistan menjadi suatu negara polisi.

Apapun alasan tentara untuk merebut kekuasaan, apa yang dilakukannya itu
adalah suatu coup d'etat, suatu perebutan kekuasaan negara melalui
kekerasan militer. Ini bertentangandengan konstitusi. Dengan demikian
secara formal telah mengakhiri kehidupan demokrasi di negeri itu. Namun,
harus juga ditekankan bahwa apa yang dilakukan oleh mantan PM Sharif
selama berkuasa, juga tidak ada bau-baunya kehidupan demokratis. Maka
tidak heran sebuah s.k. Swis mengatakan bahwa tidak benar bila
mengatakan bahwa mantan PM Sharif adalah  korban dari suatu tindakan
coup.

II)  Mengikuti berita coup di Pakistan, orang tidak bisa tidak, ingat
pada apa yang dilakukan
oleh Jendral Suharto 34 tahun yang lalu, Oktober 1965 . Juga, terkilas
di fikiran, apa tidak ada sementara jendral di Jakarta, yang latah,
gatal-gatal tangannya ,lalu mau mengikuti jejak Jendral Pervaiz
Musharraf. Sebelum coba-coba untuk coup, kiranya para jendral Indonesia,
memikirkan baik-baik, bahwa, sesudah mengalami serentetan �setbacks' di
bidang keamanan dan pertahanan, seperti kasus Aceh, Maluku, Kalimantan,
dan terakhir Timor Timur. TNI sudah tidak sekompak dulu lagi. Tambahan
pula, �nama baik' TNI sudah lama terpuruk.  Karena  bertahun-tahun
lamanya dibawah naungan �Dwifungsi ABRI' TNI ikut ber-KKN dan
seleluasa-luasanya melanggar HAM.
Faktor lainnya, yang membikin sulit TNI melakukan coup militer, ialah
timbulnya elemen-elemen muda TNI/Polri yang berfikiran cerah. Mereka
masih belum tergelimang dengan birokrasi, koruposi dan penyalahgunaan
kekuasaan. Mereka juga mulai melihat bahwa telah tiba  waktunya tentara
kembali ke barak dan tidak lagi ngeloni dan terlibat dalam politik dan
kegiatan non-militer lainnya. Golongan di dalam TNI tsb juga
berkeinginan memberikan sumbangannya sendiri demi usaha Reformasi dan
Demokratisasi, demi tegaknya Republik Indonesia sebagai suatu negara
hukum. Dan jangan lupa, bahwa di Indonesia, beda dengan Pakistan, sedang
bergulir gerakan untuk Reformasi dan Demokrasi. Sedikit banyak
mahasiswa, kaum muda, kaum cendekiawan, pers  dan lapisan luas
masyarakat sudah meningkat kesadaran politiknya. Juga keberanian
berjuang demi keadilan, demokrasi dan HAM boleh dibanggakan..

Waktu Jendral Suharto merebut kekuasaan dari Presiden Sukarno, ia tidak
berani berterus-terang seperti halnya  Jendral Musharraf, yang
mengatakan secara blak-blakan  bahwa ia telah �menyuruh pulang'
pemerintah mantan perdana menteri Nawaz Sharif . Pemerintah Sharif
dikatakan telah �menghancurkan' lembaga-lembaga negara . Lagipula,
katanya,  mantan PM Sharif mencoba untuk �mendestabilisasi' angkatan
darat. Menurut berita,  mantan PM Pakistan itu telah dikenakan tahanan
rumah. Jelas alasan yang dikemukakan untuk menngambil alih kekuasaan
dari pemerintah sipil. Suharto tidak ngomong begitu.  Suharto memilih
jalan �creeping coup' , suatu �kup merangkak'. Tindakan pertamanya
adalah membangkang terhadap keputusan  Presiden Pangti ABRI Ir. Sukarno.
Ia menyabot pengangkatan Jendral Pranoto Reksosamudro sebagai
penanggungjawab angkatan darat. Lalu Suharto menyatakan bahwa  ia �untuk
sementara' sudah mengambil alih pimpinan AD. Yang dikatakannya �untuk
sementara itu' ternyata berlangsung 32 tahun lamanya.

III). Sejak terjadi sengketa bersenjata di Kashmir belum lama ini,
kongkritnya sejak  �krisis Kargil', dimana India <menurut versinya
sendiri> menemukan ratusan infiltran bersenjata Muslim dari Pakistan di
sekitar Kargil, suatu zone yang merupakan bagian yang diadministrasi
oleh India dari daerah Kashmir. Menurut India, diantara kaum infiltran
Muslim itu terdapat anggota-anggota tentara Pakistan. Sejak lahirnya
India dan Pakistan sebagai negara merdeka, Kashmir merupakan masalah
konflik antara India dan Pakistan. Dari waktu ke waktu konflik tsb
menjadi amat �panas' hingga meletus  menjadi sengketa bersenjata ,
seperti yang terjadi baru-baru ini di sekitar Kargil. Tetangga-tetangga
Pakistan dan India dan juga  masyarakat internasional, khususnya AS,
khawatir �krisis Kargil' bisa meledak menjadi perang sungguhan antara
India dan Pakistan. Hal mana akan  menjadi lebih rumit dan berbahaya,
karena kedua negeri dewasa ini sudah mampu untuk membikin senjata atom
sendiri.
Maka AS menekan Pakistan, yang dianggap memulai konflik tsb, agar
menarik infltran yang diselundupkannya ke Kashmir. PM Sharif  dianggap
telah �berkapitulasi', karena telah tunduk pada tekanan  fihak luar.
Terutama tentara yang dianggap ada di belakang �krisis Kargil' sangat
tidak puas dan marah pada kebijaksanaan mantan PM Sharif. Juga oposisi
yang  tergabung dalam �Aliansi Besar untuk Demokrasi' di mana tercakup
19 parpol dan kelompok-kelompok Islam, dan massa mereka,  menuntut PM
Sharif untuk mundur. Di tengah keadaan yang tidak stabil ini mantan PM
Sharif telah mengambil keputusan menggeser panglima tentara, justru
ketika ia masih berkunjung ke Sri Langka. Sedang dinas luar
dipecat!Sebelum pemecatan itu menjadi kenyataan Jendral Pervaiz
Musharraf bertindak lebih dulu.

Menanggapi peristiwa coup di Pakistan itu, tidak ada satupun suara di
dunia internasional yang membenarkan tindakan coup Jendral Musharraf,
apapun alasannya. Ini suatu pertanda bahwa konsep demokrasi lebih
populer dan lebih didukung oleh mayoritas negeri di dunia ini ketimbang
suatu pemerintahan militer. Pemerintahan militer tidak populer, tidak
didukung rakyat di dalam  maupun di luar negeri.

Maka betapapun gatalnya tangan itu, janganlah ambil risoko untuk
coba-coba mengadakan   kup militer di Indonesia. Akan terisolasi kalian,
percayalah! * * * * *

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Oct 1999 jam 17:39:58 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke