---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Tidak adil rasanya bila saya cuma melampirkan surat Atun di sini tanpa menghadirkan jawabannya. Karena bila didiamkan, ada point-point di surat Atun yang salah paham terhadap beberapa tulisan Proletar. Tapi seperti yang selalu saya sebut lusinan kali, kritik itu selalu lebih bermanfaat dari pujian. Setiap kali saya masuk di website : http://proletar.8m.com/ dan mengetahui hampir 3000 hit yang masuk dalam 45 hari, jelas saya merasa gembira, dan tidak munafik, saya juga menikmati lebih dari seratus komentar yang masuk di guest book yang kebanyakan penuh berisi dukungan, sanjungan, dengan perasaan senang, saya merasa kaya dan cukup dikenal... Tapi sumpah mampus, Di antara email itu justru email seperti: Name:hasan keat Email:------ Comments: setan loe ! October 15, 99 15:26:06 (GMT Time) ini yang membuat saya gembira, karena saya tahu manusia ( apalagi manusia timur) selalu punya kecenderungan untuk hilang kontrol dan kepribadiannya binasa setiap kali dilimpahi segala macam obralan kata-kata manis. Baiklah untuk lebih ringkasnya, saya balas forward balasan surat Atun di sini, supaya saya nggak perlu bertele-tele menerangi ini itu mirip Habibie yang nggak sadar-sadar kalau kemampuan untuk memimpin negara nol, klawitas negarawannya nol, dan niat baiknya untuk membersihkan Indonesia dari para korup minus jauh dibawah nol.. Subj: Pagi Untuk Atun Date: 10/16/99 9:00:40 AM From: [EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED] Dear Zaitun , Thanks atas emailnya, saya mengerti kenapa Atun begitu gedek membaca cerita jalan-jalan saya selama ini, dan saya ngaku deh... tulisan itu memang norak, sok travelling, sok turis, sok Chicago,dan sok ngamerika.. Tapi saya harus jelaskan, satu satunya hiburan yang paling saya senangi di sini selain dari jalan- jalan itu nulis..dengan menulis kesepian saya bisa berkurang sejenak, dengan menulis segala kegelisahan dan kemarahan ini punya jalan keluar membuat hati saya enteng. Barangkali cuma ini saja yang bisa saya perbuat sementara untuk membantu perjuangan kawan-kawan kita yang masih perduli pada nasib manusia kecil yang terinjak dan dinistai terus menerus di tanah air. Bahwa Atun menganggap saya sebagai orang yang masih punya perhatian dan selalu punya rasa kasihan pada nasib orang kecil saya anggap adalah kesimpulan yang salah.. Saya nggak senang dilabeli julukan demikian, Pertama karena kalimat Atun itu adalah kalimat klise yang selalu dipakai berulang ulang oleh para pejabat, kuroptor, bajingan, politisi tukang tipu, tukang peras, ulama sundel, ketua partai germo dan perwira TNI tukang bantai dengan lagak yang memuakkan. Kedua paham " Mengasihini " ini adalah cara-cara keratonan, yang sok humble para tuan tanah, para priyayi,para Raden terhadap budak, babu, bawahan, dan semua golongan kasta melata lainnya. Atun, Orang kecil dan miskin itu tidak perlu dikasihani, tapi diberikan haknya. Orang miskin tidak perlu rasa iba, tapi gaji yang layak. Orang miskin tidak butuh zakat tapi akses untuk bisa hidup secara layak.Orang miskin tidak perlu khutbah agama dan ayat-ayat hiburan ,tapi pekerjaan dan kondisi makanan yang baik dan bergizi. Karena bila kita mau merenungi sedikit lebih jauh problem yang menjangkiti negara terbelakang seperti negara kita , adalah orang melupakan fakta bahwa kemajuan ekonomi yang selama era Suharto selalu dibangga-banggakan kemana-mana adalah hasil ekploitasi,merampok, menekan, menjambret, menodong, menghisap, menekan,merampas hak orang miskin di tanah mereka sendiri, sambil menggadaikan, menjual , memperbudak mereka pada sejumlah corporate asing. Bukan lantaran kehandalan para ekonom, para pengusaha dan CEO , yang selama ini juga mencari profitnya dengan berlindung dibalik ketiak birokrat dan kolusi, bukan dengan persaingan bebas. Jadi bila Jakarta kelihatan maju,konglomerat bisa masuk daftar orang kaya Fortune Magazine , Suharto beserta keluarga dan Habibie beserta para mentri mentrinya bisa demikian kaya itu karena kemajuan itu berbanding terbalik dengan kemiskinan permanen di Aceh, Riau, Irian , Kalimantan dan Timor-Timur, karena memang cuma orang miskin diperdaya, dibiarkan bodo...sehingga mereka tidak mengetahui hak-haknya sendiri,setelah para begundal itu menyikat lumbung mereka , yang mereka tinggali adalah taik kering dan sejumlah slogan tentang nasionalisme dan persatuan Indonesia. Itulah sebabnya Tun, saya berpendapat pada setiap orang berharta di Indonesia selalu terdapat hak orang kecil. Kadang saya berandai-andai, bila Indonesia bisa diatur dan di manaje oleh konsultan asing, atau meniru pemerintahan di Amerika, maka..... Masyarakat Aceh akan semakmur orang di Alaska. Yang tahun ini negara bagiannya memberikan bonus $1700 lebih pada setiap penduduknya dari bayi sampai manusia renta, dari penduduk kota sampai eskimo yang tinggal dalam iglo karena surplus income dari minyak. Irian akan semakmur Texas, dengan jalan bebas melintang di sana sini, manusianya tidak lagi berkoteka dan malah sanggup travel keliling dunia. Riau akan menjadi California, penghasilan rata-rata manusianya tinggi,perlente dan santai..Pakanbaru tidak akan dijajah motor bebek dan dikepung manusia berdebu dan berminyak lagi.. Begitu juga Kalimantan bahkan Jawa bila bisa diolah dengan sopan dan benar, tanahnya akan selalu bisa mensubsidi manusianya. Selama ini kan Tun, di Indonesia yang kita jumpai kan adalah ratusan mulut berbusa di pidato tentang peduli rakyat, cintai rakyat, suara rakyat, bla..bla..bla...sambil memamer kan angka-angka statistik yang tidak bermakna. Semua itu cuma show off, pameran gula gula yang tidak berguna.... Kembali saya ulang, Saya bukanlah pejuang orang kecil. saya juga bukan sok berkasihan kasihan serta berhiba-hiba pada persoalan mereka. Walaupun tulisan ini tidak bisa merubah banyak hal. Saya Tun, sebenarnya cuma seorang anak gang yang mencoba menyadari orang-orang seperti kamu dan manusia-manusia yang mencoba ingin mengerti bahwa " Sudah waktunya kita menuntut Hak " bukan meminta belas kasihan seperti para pengemis malas yang bertaburan di semua mesjid setiap kali lebaran tiba.. Pada dasarnya Tun, Dalam hidup yang begini pendek... Kita semua punya hak untuk bisa hidup nikmat. Hasan Basri October 17, 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Oct 1999 jam 20:41:45 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
