---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 37/II/17-23 Oktober 99 ------------------------------ KISAH "SUKSES" MANTAN KRONI (PERISTIWA): Fuad Bawazier, kroni Soeharto, kembali tampil. Dari anggota biasa PAN mampu menyodok menjadi Utusan Golongan dari DIY. Namanya Fuad Bawazeir, mantan Menteri Keuangan di kabinet terakhir Soeharto. Nama Fuad tenggelam seiring dengan tenggelamnya pamor Soeharto. Namun, tiba-tiba namanya muncul lagi seiring dengan munculnya Poros Tengah, poros ciptaan Amin Rais dan partai-partai kanan. Kemunculan kembali Fuad cukup unik. Tiba-tiba saja, ia ngomong keras soal korupsi di sebuah seminar. Media massa kemudian rame-rame mewawancarainya soal korupsi dan ia tampil bak pejabat yang bersih dari korupsi. Seiring dengan kritiknya terhadap korupsi itu, ia tiba-tiba muncul bersama-sama Amien Rais, ke sana ke mari mencari dukungan untuk pendirian Poros Tengah. Fuad di PAN, adalah anggota biasa. Namun, belakangan ia dipercaya Amien, termasuk mewakili mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadyah itu, bersama-sama dengan Gus Dur, menemui kiai-kiai Nahdlatul Ulama di Langitan, Jawa Timur, meminta restu pencalonan Gus Dur oleh Poros Tengah. Fuad inilah, bersama-sama Alwi Sihab, salah satu Ketua PKB, yang menyodorkan gagasan Poros Tengah ke Amien Rais. Di tengah "blunder" yang membayangi benak Amien, karena partainya hanya meraih suara tujuh persen, gagasan itu disambar begitu saja oleh Ketua Umum PAN itu. Apa motif Fuad terjun lagi di politik? Ini yang jadi pertanyaan banyak orang. Namun sejumlah sumber kuat Xpos mengatakan, Fuad membawa misi keluarga Cendana untuk menggolkan Gus Dur sebagai Presiden, agar keluarga Cendana diampuni oleh kiai yang pernah dekat dengan Mbak Tutut itu. Fuad tak hanya datang ke Amien dengan gagasan, namun juga uang. Kata sumber tadi, uang yang dibawa Fuad dari keluarga Cendana jumlahnya ratusan miliar rupiah. "Mbak Tutut pernah meminta bantuan Benny Moerdani, menawarkan uang hampir Rp1 triliun agar Benny mau membantu menyelamatkan keluarga Cendana. Namun Benny menolak. Lalu, Fuad punya ide Poros Tengah, alternatif lain yang bisa menyelamatkan Soeharto dan anak-anaknya" ujar sumber tadi. Kedekatan Fuad dengan anak-anak Soeharto bukan rahasia lagi. Selama menjadi Dirjen Pajak hingga menjadi Menteri Keuangan, Fuad banyak memberikan fasilitas bagi bisnis keluarga Cendana. Karenanya kedekatannya, karir Fuad cepat menanjak. Selepas Dirjen Pajak, ia berambisi menjadi Menkeu, mendiskreditkan Mari'e Muhamad, Menkeu saat itu, dan dia berjasil. Sebelum menjadi Menteri Keuangan, oleh Soeharto, Fuad juga pernah diminta menjadi menjadi Wakil Sekjen dalam Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan (DPKEK) -sebuah lembaga yang sangat berkuasa, yang dibentuk Soeharto untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia. Sebagai pejabat keuangan Orde Baru, jelas Fuad tak bersih. Fuad memiliki rumah di Silver Springs, Maryland, Washington, DC seharga US$800 ribu yang dibayarnya dengan kontan. Mula-mula di sana tinggal tiga anaknya; tetapi yang satu pergi, jadi tinggal dua orang yang di sana. Mereka hidup mewah, dengan mengoleksi mobil Lexus seharga US $80 ribu, Landrover seharga US$ 68 ribu, dan Nissan seharga US$ 40.000. Semua dibayar kontan. Kesuksesan Fuad tak hanya di Poros Tengah, namun juga sukses menjadi anggota utusan golongan dari DIY, atas prakarsa PAN. Dasar kroni Soeharto, ia lolos ke Senayan karena menyuap para anggota DPRD. Sebuah sumber di DPRD Yogyakarta menyebutkan bahwa anggota DPRD DIY menerima uang suap Rp5 juta-Rp10 juta setiap orang untuk meloloskan Fuad. Menurut anggota DPRD PKB Hj Zanatul Mafruchah, menyatakan mendapat tawaran uang, namun menolak menerimanya, untuk meloloskan seseorang jadi utusan daerah. Namun, wakil Ketua DPRD DIY dari Fraksi Amanat Nasional (F-AN) Totok Daryanto dan Emawan Wahyudi dari F-AN membantah telah terjadi suap-menyuap. Namun Imawan tidak menampik bahwa sebelum pemilihan anggota MPR RI utusan DIY, banyak telepon yang masuk ke F-AN yang isinya titip pesan agar F-AN mendukung Fuad. Siapa para penelpon itu? Tak jelas. Namun siapapun mereka, Fuad bukan orang sembarang. Ia tidak tampil begitu saja di pangggung politik tanpa beking dari kekuatan yang cukup solid. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Oct 1999 jam 06:44:21 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
