----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 37/II/17-23 Oktober 99
------------------------------

MUSHARRAF

(LUGAS): Tiba-tiba saja namanya menjadi terkenal. Kudeta militer memang
sudah biasa terjadi di negara-negara dunia ketiga. Tapi, di era globalisasi
ini? Sulit diterima akal sehat.

Sebagian dari kita sudah terlanjur percaya, menjelang milenium baru,
kehidupan demokrasi dunia sudah makin matang. Kesalingtergantungan ekonomi
antar negara telah terjalin erat, sehingga, bila timbul persoalan di satu
negara akan berdampak ke negara lainnya. Syarat memperkokoh pola hubungan
dunia semacam itu adalah; pemerintahan bersih dan demokratis, yang
memungkinkan penciptaan stabilitas dalam jangka panjang. Kudeta, dianggap
ketinggalan jaman -lagipula, dimusuhi pasar.

Namun, apa yang dilakukan Panglima AD Pakistan Jenderal Pervaiz Musharraf
terhadap PM Nawaz Sharif, Selasa lalu (12/10), benar-benar memutarbalikkan
asumsi tadi. Kendati masih memiliki milyaran dolar AS utang luar negeri
-yang kebanyakan digunakan untuk mengatasi kemiskinan- Musharraf nekat
melakukan kudeta. Pembenarannya, "mencegah Pakistan menjadi reruntuhan"
-sebuah kalimat lain bermaksud sama dengan 'atas nama stabilitas' yang
biasanya jadi alasan kudeta militer, semisal di Chile, Bolivia, Venezuela,
Guatemala dan Brazil.

Musharraf memang tak menerapkan "keadaan darurat militer", sebagaimana biasa
diberlakukan dalam kudeta. Toh, ia telah menutup beberapa kementerian,
termasuk Kementerian Perencanaan dan Keuangan. Sejumlah menteri pun
dikabarkan telah menjadi tahanan militer.

Apa artinya peristiwa ini bagi Indonesia? Jelas, ini adalah peringatan bahwa
ancaman kudeta militer, sama sekali belum hilang dari hadapan kita. Di
tengah panasnya suhu politik menjelang pemilihan presiden dalam SU-MPR,
khususnya antara para pendukung Megawati dan Habibie, terbuka peluang
militer untuk mengambilalih situasi. Penetapan UU Pengendalian Keadaan
Bahaya -meskipun hingga saat ini masih ditangguhkan pemberlakuannya- bisa
memperlebar jalan ke arah ini.

Karena itu, bersama-sama kita mesti menciptakan situasi yang dapat
memperkuat "posisi tawar" (bargaining position) masyarakat sipil. Hal ini
bisa dilakukan dengan mendukung terpilihnya pemimpin yang punya komitmen
pada nilai-nilai demokrasi. Bisa pula dengan mencegah berkembangnya situasi
chaos yang justru mengundang masuknya junta militer.

Kalau di Pakistan, Musharraf tak memberlakukan keadaan "darurat militer"
-dan konon memberi kesempatan dibentuknya pemerintahan sipil-, sungguh tak
ada jaminan, junta militer di sini punya hati lebih mulia. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Oct 1999 jam 06:25:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke