---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk RENY JAYUSMAN DAN PETINGGI TNI REKRUT MILISI DARI JAKARTA JAKARTA, (MateBEAN, 19/10/99). Mungkin karena bosan menjadi penyanyi dan pemain drama, Renny Jayusman sekarang mencari petualangan baru. Sejak Juli lalu, ia aktif menghimpun pemuda asal Timor Lorosae dan NTT yang akan dikirim menjadi milisi pro-integrasi. Rumahnya di kompleks Polri, Cilandak, Jakarta Selatan setiap hari dipenuhi para pemuda yang akan direkrut, dilatih dan nantinya diberi senjata. Diam-diam sejak pertengahan September lalu ia sudah menyandang jabatan baru, Ketua Front Persatuan Bangsa, yang merupakan gabungan beberapa organisasi pro-integrasi dan mantan veteran TNI yang pernah bertugas di Timor Lorosae. Keluarganya pun tidak segan-segan ia ajak untuk bergabung. Rani, seorang putrinya sekarang menjabat sebagai bendahara Front Persatuan Bangsa. Entah apa alasan Renny, sehingga ia begitu bersemangat membela milisi pro-integrasi yang sejak setahun terakhir hanya dikenal karena kejahatannya, seperti membunuh perempuan dan anak-anak, membakar dan menjarah rumah-rumah. Memang sebelumnya Renny pernah berkunjung ke Timor Lorosae dan mengaku 'langsung jatuh cinta' dan belakangan di seputar jajak pendapat, ia terlihat amat mesra dengan Komandan Milisi Aitarak, Eurico Gutteres. Renny mengungkapkan cinta itu dengan membantu pembentukan, mobilisasi dan pengiriman pasukan yang akan kembali melakukan pembunuhan, penculikan, perkosaan, penyiksaan dan berbagai tindak kekerasan lainnya terhadap rakyat Timor Lorosae. Reny juga membantu mencari uang, dan bahkan terlibat dalam pembicaraan tentang strategi penyerangan dan pembentukan pasukan. Keterlibatan Renny ini membawanya bergaul dengan para perwira militer TNI, seperti Mayjen TNI Zacky Anwar. "Pikiran saya sekarang hanya satu, bagaimana caranya merebut kembali Timor Timur," ujar Renny kepada sumber MateBEAN. Entah siapa yang meniupkan gagasan itu ke benaknya, tapi yang jelas untuk tujuan itu ia rela mengorbankan karir seninya. Beberapa orang yang semula dekat dengannya mulai menjauh setelah ia terus-menerus memaksa mereka untuk bergabung dengannya. "Kami nggak mau kena getahnya nanti, apalagi sebentar lagi ada penyelidikan oleh Komnas HAM. Kami nggak mau tersangkut urusan begitu," ujar seorang kawan dekat Renny. Hari-hari belakangan ini Renny nampak akrab bergaul dengan para veteran Operasi Seroja dan beberapa pemuda yang menjadi pimpinan milisi pro-integrasi, seperti Domingos Soares (karyawan PT Kanindotex), Filomeno Neno, Armindo Logu, dan Domingos Tanesi. Mereka umumnya berasal dari Kabupaten Ambeno. Banyak juga pemuda asal Atambua dan Kefamenanu (NTT) yang berhasil ia rekrut bersama kelompoknya. Mereka umumnya adalah bekas preman di tempat masing-masing yang lari ke Jakarta karena punya masalah di tempat asalnya. Para mantan preman ini mengaku beruntung bisa bergabung dengan Renny. "Kami jadi sering ketemu dengan orang penting, padahal di kampung sendiri kami tidak dihargai," kata Maximus yang berasal dari Atambua. Gerombolan calon milisi pro-integrasi ini juga kena disiplin ketat. Pukul sembilan malam semuanya sudah harus kembali ke 'markas' yang tidak lain adalah kediaman Renny. Anggota Komnas HAM Benjamin Mangkoedilaga yang tinggal di kawasan yang sama mengaku gerah dengan kehadiran anggota milisi di kompleks tersebut. Beberapa warga juga sudah mulai mengeluh, karena beberapa kali para pemuda itu membuat onar dengan warga sekitar. "Mungkin mereka mengira dapat backing dari militer, jadi seolah tidak kenal takut," kata seorang warga. Bukan hanya rekan-rekannya yang heran melihat kelakuan Renny. Seorang staf Dephankam yang pernah bertugas di Timor Lorosae juga mengaku heran melihat aktivitasnya. "Saya saja yang tentara nggak mau disuruh membantu mereka. Kok ada artis yang mau? Sudahlah, mereka itu sudah kalah. Kita ini dibohongi oleh mereka, katanya pendukung integrasi itu banyak. Buktinya sekarang mereka kalah hanya dapat 21,5%," ujarnya. Dari staf Dephankam itu yang kebetulan bertugas memantau kegiatan pemuda Timor Lorosae di Jawa dan Bali, diketahui bahwa bukan hanya Renny Jayusman yang terlibat dalam kegiatan ini. "Pelawak Dono (Wahyu Sardono, anggota Warkop -red) itu juga sempat ikut. Rumahnya jadi salah satu tempat transit para calon milisi. Kami tahu semua itu, tapi perintah dari atas kan hanya memonitor perkembangan. Jadi kami biarkan saja," tambahnya. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 03:22:32 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
