----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Stockholm, 20 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

KEKUASAAN ATAU AMANAH
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk Capres Gus Dur, Capres Akbar Tanjung dan Capres
Megawati.

Pagi ini, Rabu, 20 Oktober, pukul 6.00 pagi bertepatan dengan pukul
12.00 WIB, ketika tulisan ini dibuat, BJ Habibie capres dari Golkar
digantikan secara resmi oleh Akbar Tanjung dan sekaligus ikut bersaing
untuk merebut kekuasaan di Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang
sekuler dengan capres lainnya, Gus Dur yang tetap tidak mundur satu
langkahpun dan capres Megawati yang sudah hampir tersenyum karena
kegirangan melihat lawan utamanya BJ Habibie telah tersungkur karena
"ditolak Pidato Pertanggungjawaban-nya (PPJ) Oleh MPR dengan 355 suara
menolak dan 322 suara menerima, selisihnya hanya 33 suara" (
http://www.detik.com/berita/199910/19991020-0035.htm ).

Sekarang, habislah kekuasaan BJ Habibie.

Memang, kalau hanya melihat dari sudut pandang kekuasaan, maka dengan
ditolaknya Pidato Pertanggungjawaban BJ Habibie oleh MPR, habislah
kepercayaan dari sekitar 47,5% anggota legislatif yang duduk di MPR
kepada BJ Habibie untuk meneruskan dan dipilih kembali menjadi Presdien
Daulah Pancasila. Walaupun 43,5% dari seluruh anggota MPR masih menerima
Pidato Pertanggungjawaban BJ Habibie, tetapi karena musyawarah/mufakat
tidak bisa berhasil dilaksanakan, maka jalan terakhir voting-lah yang
berlaku. Dan ini memang suatu jalan keluar yang telah diajarkan oleh
sistem demokrasi barat yang sekuler. Apabila tidak berhasil mencapai
suatu kesepakatan bersama, maka jalan keluarnya adalah melalui
pemungutan suara, walaupun hanya beda satu suara, maka jumlah suara yang
lebih itu menjadi pemenang.

Tetapi, benarkah BJ Habibie habis kekuasaannya? Tentu saja tidak, beliau
yang mempunyai pengalaman yang begitu banyak, lebih dari 20 tahun
bersama Regim Diktator Militer Soeharto yang telah dibebaskan dari kasus
korupsi, kolusi, dan nepotisme dengan dikeluarkannya Surat Perintah
Penghentian Penyidikan (SP3) oleh Jaksa Agung dengan persetujuan
presiden BJ Habibie (ketika masih berkuasa), akan memberikan pelajaran
berharga mengenai kkn kepada para pelaksana lembaga eksekutif yang akan
datang (apakah eksekutif di bawah Gus Dur, Akbar Tanjung atau Mega bukan
masalah) bahwa, kkn (korupsi, kolusi, dan nepotisme) merupakan biang
keladi kehancuran rakyat dan daulah pancasila serta kehancuran kekuasaan
dirinya sendiri. Tentu saja, pengalaman berharga BJ Habibie ini akan
dijadikan sumber referensi bagi penerus pemegang kekuasaan eksekutif
yang akan datang, yang ingin membawa bahtera Daulah Pancasila dengan UUD
1945-nya yang sekuler ke atas permukaan air kembali.

Nah sekarang, yang terpenting menurut pemikiran saya adalah bukan
masalah merebut kekuasaan, melainkan bagaimana melaksanakan dan
menjalankan amanah rakyat dengan adil, bijaksana dan dengan melalui
perdamaian.

Siapapun yang akan menjadi Presiden Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya
yang sekuler, apakah Akbar Tandjung yang telah dipilih oleh Golkar
sebagai capres alternatif pengganti BJ Habibie yang telah dimasukkan ke
kandangnya kembali.

Atau Gus Dur capres dari poros tengah ciptaan Amien Rais, yang Amien
sendiri siap maju, apabila Gus Dur tidak berani menghadapi Mega kawan
akrabnya, tetapi masing-masing ingin kursi presiden.

Atau capres Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, yang dalam
wawancara politiknya mengatakan: "ada tiga faktor tantangan yang harus
dijawab siapa pun calon presiden. Ia harus dapat menjamin tuntutan dunia
internasional, tantangan pasar, dan tuntutan stabilitas keamanan.
Bagaimana cara menjawabnya. Yang paling utama sebelum menyelesaikan yang
dua hal lagi, adalah kemampuan menstabilkan keadaan. Sekarang saya
tanya, bagaimana mau stabil kalau peserta pemilu yang jumlah suaranya
mencapai 35 persen itu merasa tetap diamputasi, dijegal di sana-sini.
Mereka seolah tidak boleh bersuara. Mereka harus mengikuti keputusan di
dalam ruangan-ruangan sidang itu, apa pun yang terjadi, karena
pengumpulan jumlah suara itu secara proses konstitusional tidak
mencukupi. Lalu yang dimaksud rakyat dalam Majelis Permusyawaratan
Rakyat itu rakyat yang mana?" (
http://www.kompas.com/kompas-cetak/9910/19/UTAMA/opti01.htm ). Padahal
menurut pemikiran saya, justru ketidakstabilan adalah dicptakan sendiri,
baik oleh para pengikut PDI-P yang ingin menggolkan ketua umumnya
sebagai presiden, maupun dari pihak yang anti PDI-P yang tidak ingin
ketua umumnya menjadi presiden ke-4 Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya
yang sekuler.

Kalau mereka capres-capres tersebut yang kemungkinan salah satunya akan
menjadi Presiden Daulah Pancasila masih tetap memperjuangkan untuk
meraih kekuasaan (terlepas dari tiga tuntutan yang dikemukakan oleh Mega
diatas) bukan memperjuangkan untuk kesejahteraan rakyat dan persatuan
dengan dasar keadilan, amanah dan perdamaian dengan tujuan untuk
beribadah, bertaqwa dan mencari ridha Allah swt, maka tetap saja rakyat
di Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang sekuler akan tetap berada
dalam keadaan yang merawankan dan menjurus kepada tenggelamnya bahtera
Daulah Pancasila.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk Capres Gus Dur, Capres Akbar
Tanjung  dan Capres Megawati.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 06:26:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke