---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Soal Timtim Selesai, Semua Fraksi MPR Setuju Tap VI/MPR/1978 Dicabut JAKARTA -- Sebelas fraksi di MPR sepakat untuk menerima hasil kerja Komisi A (GBHN), Komisi B (Non-GBHN), dan Komisi C (Amandemen UUD 1945). Mengenai Timtim yang dibahas di Komisi B semua fraksi sepakat untuk mencabut Tap MPR IV/1978 mengenai Integrasi Timtim. Namun ada beberapa syarat untuk pencabutan Tap MPR soal Timtim tersebut. Yakni, dalam waktu yang bersamaan Portugal juga harus mencabut salah satu artikel dalam konstitusinya. Pasalnya, sebagai bekas penjajah Timtim selama hampir lima abad, Portugal hingga kini masih menyebutkan Timtim sebagai wilayah mereka. Sementara itu, keterlibatan Australia yang begitu ngotot dalam pasukan multinasional untuk Timtim (Interfet), ternyata tak dilakukannya secara gratis. Kemarin, para pengusaha Australia mulai menghitung keuntungan bisnis apa saja yang bisa mereka petik dari Timtim. Menteri Perdagangan Australia Mark Veile kemarin mengumpulkan 450 pengusaha negeri itu di Canberra. Mereka mendengarkan penjelasan mengenai peluang-peluang bisnis yang bisa dipetik dari pembangunan kembali Timtim, seperti dilaporkan Australian Broadcasting Corp (ABC), kemarin. Dengan informasi yang disediakan para wakil PBB dan Bank Dunia, para pelaku bisnis Australia disiapkan untuk ikut menggarap program rekonstruksi Timtim. Menteri Veile mengemukakan, seusai pertemuan, para utusan PBB dan Bank Dunia tersebut pekan ini juga akan langsung mengunjungi Timtim dan mengkaji bidang-bidang pembangunan yang akan segera dilaksanakan. ''Seperti kesiapan Australia memberi kontribusi untuk pasukan internasional di Timtim (Interfet), kami harus pula dengan baik siap memberi bantuan pada upaya internasional untuk pembangunan kembali Timtim,'' kata Veil. Data PBB menunjukkan proyek rekonstruksi untuk Timtim nantinya akan menyertakan dana sekitar 1,3 miliar dolar AS, jauh melampaui biaya yang dikucurkan untuk proyek yang sama di Kosovo. Dari jumlah itu, Jepang sudah menyiapkan dana segar 100 juta dolar AS. Selain bersiap berkiprah di proyek pemulihan di Timtim, Australia juga ingin melebarkan pengaruhnya di bidang politik. Menlu Australia Alexander Downer kemarin mengumumkan kesediaan negaranya memimpin Pemerintah Transisi PBB di Timtim (UNTAD) selain yang sudah dijalani selaku pimpinan Interfet. Downer menyatakan Australia siap melaksanakan tugas tersebut bila Sekjen PBB melakukan pendekatan terhadap Canberra dan meminta Australia untuk memimpin UNTAD. ''Australia siap untuk memimpin satuan tugas tersebut,'' ujar Downer. Tentang masa depan peta politik Asia-Pasifik, Downer menyebutkan kawasan Asia harus belajar menanggung beban keamanannya sendiri ketimbang meminta bantuan luar negeri pada negara seperti Amerika Serikat (AS). Menurut Downer, Australia sebagai bagian dari kawasan ini, bersedia menanggung sebagian beban tersebut. Pernyataan ini disampaikan Downer di Bangkok, setelah bertemu dengan pemerintah PM Chuan Lekpai dan para petinggi militer Thailand. Dalam pertemuan tersebut, mereka membicarakan masalah Timtim. ''Yang saya pikirkan, kawasan tersebut (Asia) perlu mengerti bahwa ketika terjadi krisis keamanan regional, ada saatnya ketika Anda dapat meminta kekuatan besar dari bagian lain dunia, seperti AS. Maka, ketika terjadi seperti perang Vietnam, well, AS pun datang dan mencoba -- meski tidak berhasil -- untuk menyelesaikan masalah,'' tutur Downer di hadapan para wartawan. ''Zaman sekarang kita harus menyadari bahwa sebagai sebuah kawasan kita harus bekerja sama lebih untuk menyelesaikan masalah kita sendiri,'' sambungnya. Sebelumnya, Downer juga meminta negara-negara Asia Tenggara untuk lebih berperan dalam pasukan multinasional di Timtim. Ia memuji langkah Thailand yang bertindak sebagai model dalam hal rekanannya di kawasan ini. Menurut Downer, Australia sebagai pemimpin pasukan multinasional Interfet, berterima kasih atas bantuan Washington dan Jepang yang telah membantu dalam segi finansial operasi tersebut. Namun ia menekankan pentingnya berupaya mengatasi sendiri masalah regional yang muncul. Canberra, kata Downer, tak melihat adanya 'calon favorit' yang bisa menggantikan peran Australia dalam pasukan transisi di Timtim. Karenanya Canberra akan tetap bekerja sama dengan siapa pun yang kelak akan dipilih Sekjen PBB Kofi Annan. Downer sendiri tetap menekankan kesediaan Australia jika terpilih kembali untuk memimpin pasukan tersebut. ''Jika Sekjen meminta kami untuk memimpin maka kami tak akan membuat kesulitan bagi dia (Sekjen PBB) dan kami akan siap melaksanakannya. Namun jika ia mendekati negara lain, selama itu baik, maka kami akan cukup senang dengan hal itu,'' papar Downer. Namun, Downer mengakui bahwa para pemimpin prokemerdekaan Timtim tidak menyukai kepemimpinan dari salah satu anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Menurutnya, ASEAN dinilai mereka 'memaafkan' perlakukan Indonesia terhadap Timtim. ''Mereka lebih suka kepemimpinan operasi penjaga perdamaian datang dari luar ASEAN ketimbang dari dalam ASEAN sendiri,'' katanya. ''Pertanyaan mengenai siapa yang akan memimpin pasukan penjaga perdamaian bukanlah masalah bagi Pemerintah Thailand atau Australia -- atau untuk urusan ini -- (bukan) masalah Dr Mahathir,'' sambungnya mengkritik PM Malaysia Mahathir Mohammad. Mahathir memang dikenal gencar mengkritik Australia mengenai peran negeri kanguru ini dalam Interfet. Menurut Mahathir, propaganda Barat dan janji-janji yang diberikan kepada rakyat Timtim telah mendorong wilayah bekas jajahan Portugal ini melepaskan diri dari Indonesia. Senin lalu, Mahathir bahkan menyatakan agar tongkat kepemimpinan pasukan perdamaian di Timtim diserahkan kepada negara Asia dan Malaysia pun siap untuk posisi tersebut. Perkembangan terakhir di lapangan, kemarin pasukan Interfet mengaku untuk pertama kalinya menemukan kuburan massal terdiri atas sekurangnya 20 jasad. Jasad-jasad yang ditemukan pada Selasa ini berada dalam tiga kuburan terpisah yang berada di Liquisa. Ketiga tempat tersebut terletak dalam radius satu kilometer, terdiri atas sebuah tempat di tepi pantai, sungai kering, dan di sebuah rumah. Di antara mayat yang ditemukan, terdapat satu jasad wanita berusia 19 tahun dalam keadaan terpotong-potong. Namun juru bicara Interfet, Kolonel Mark Kelly, menolak memberikan keterangan rinci. Sejauh ini, Interfet sendiri belum pernah menemukan kuburan massal sebagaimana digembar-gemborkan mengenai adanya pembunuhan massal di Timtim oleh pasukan prointegrasi. Setelah jasad-jasad tersebut diidentifikasi, maka akan diadakan penguburan secara formal. Ketika dimintai konfirmasi bahwa penemuan kali ini termasuk penemuan terbesar Interfet, Kelly menjawab, ''Ya, dipastikan demikian!'' ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 06:58:36 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
