---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- http://www.republika.co.id/9910/20/28283.htm Bacharuddin Jusuf Habibie Kemungkinan dukungan suara dari anggota fraksi: FPG, FPPP, FPBB, F-Reformasi, FPDU, FUG Dibanding para calon presiden lainnya, ia adalah tokoh yang paling lengkap pengalamannya di dalam pemerintahan. Sejak 1978, namanya sudah tercantum dalam susunan kabinet sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi -- jabatan yang terus dipercayakan kepadanya hingga tahun 1997. Setelah menjadi menteri di empat kabinet berturut-turut, pada Sidang Umum MPR 1998 ia terpilih menjadi wakil presiden, mendampingi Presiden Soeharto. Dua bulan menjadi wakil presiden, ia kemudian dilantik menjadi presiden pada tanggal 22 Mei 1998, menyusul kemelut politik dan ketidakpercayaan publik yang meluas terhadap Presiden Soeharto. BJ Habibie, tokoh itu, lahir dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo, 25 Juni 1936. Masa kecil hingga remaja dihabiskan di kota kelahirannya, Pare-Pare. Pada akhir tahun 1950, BJ Habibie pindah ke Bandung. Di kota kembang itu ia melanjutkan pendidikan di jenjang SMP dan SMA. Bangku kuliah di ITB sempat pula dirasakannya walaupun hanya selama enam bulan, karena keburu beroleh kesempatan meneruskan pendidikan tingginya di luar negeri. Pada tahun 1955 BJ Habibie berangkat ke Aachen, Jerman Barat. Di sana ia mengambil jurusan konstruksi pesawat terbang, bidang yang memang sudah diminatinya sejak awal. Pilihan itu juga sesuai dengan anjuran Prof Mr Mochammad Yamin, Mendikbud saat itu. Dalam usia 24 tahun BJ Habibie berhasil meraih gelar Diplom Ing dengan nilai cum-laude pada jurusan konstruksi pesawat terbang di Technische Honchschule Aachen. Selama kuliah ia aktif juga berorganisasi, bahkan sempat terpilih dan diangkat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Aachen. Di samping itu, BJ Habibie tercatat sebagai pimpinan Ikatan Mahasiswa Unesco. Pada awal 1962 Diplm-Ing BJ Habibie pulang ke Indonesia. Saat 'pulang kampung' itulah BJ Habibie berkesempatan bertemu kembali dengan Hasri Ainun Besari, adik kelasnya semasa di SMA. Tak dinyana, pertemuan itu menumbuhkan perasaan cinta di antara keduanya. Setelah melalui proses pacaran yang relatif singkat, mereka menikah pada 12 Mei 1962. Setelah menikah Habibie kembali ke Jerman dengan memboyong istrinya. Sambil bekerja, ia kemudian meneruskan pendidikannya hingga pada tahun 1965 BJ Habibie mendapat gelar Dr Ingenieur. Pada tahun 1974, Habibie kembali ke Indonesia memenuhi 'panggilan' Presiden Soeharto. Sesampainya di tanah air, Habibie langsung ditugaskan membangun industri pesawat terbang di Bandung dan mengembangkan teknologi di Indonesia. Dalam waktu dua tahun, PT Nurtanio (kemudian berubah menjadi IPTN) sudah mulai beroperasi. Perjalanan hidup Habibie mengilhami sekelompok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang pada awal 1990 yang berniat membentuk Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) untuk menjatuhkan pilihan mereka terhadap sosok BJ Habibie sebagai calon ketua. Setelah melalui berbagai proses, termasuk keberhasilan panitia simposium mengumpulkan dukungan 49 orang cendekiawan Muslim, simposium tiga hari (6-8 Desember 1990) berhasil dilangsungkan dengan keputusan pembentukan ICMI sekaligus menetapkan BJ Habibie sebagai ketua umum-nya. Kehadiran ICMI memang fenomenal dalam politik Indonesia. Berbagai analisis menyebutkan pendirian ICMI semacam 'politik balas budi' Pemerintah terhadap umat Islam. Pendapat lain melihat ICMI sebagai langkah awal peran politik umat Islam yang selalu terpinggirkan. Sebagai calon presiden yang masih berkuasa, sosok dan kinerja Habibie merupakan sasaran empuk bagi lawan politiknya. Polemik mengenai substansi pertanggungjawabannya di MPR amat kental mengesankan hal itu. Sumbangan penting BJ Habibie dalam masa pemerintahannya yang hanya 512 hari, tidak bisa dinafikkan dalam bidang politik, hukum, ekonomi, dan demokratisasi. Jangan dilupakan, termasuk desakralisasi lembaga kepresidenan. Desakralisasi lembaga kepresidenan juga memiliki arti penting bagi berlangsungnya demokratisasi. Dengan terbukanya lembaga penguasa eksekutif ini, kontrol publik lebih terjaga. Apakah timbangan kinerja Habibie selama 512 hari pemerintahannya cukup membawanya meraih kembali kursi RI-1? ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 06:59:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
