---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Subject: Gur Dus, Figur Yang Paling Tepat Mempersatukan Indonesia Terpilihnya Gus Dur menjadi Presiden Indonesia mungkin telah memberikan iklim baru dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia, khususnya dalam proses pemilihan presiden. Tanpa mempersoalkan bahwa hanya putra bangsa yang terbaiklah yang layak memimpin rakyat Indonesia, Gus Dur memang sosok yang paling tepat dalam merekatkan perpecahan yang telah membayang-bayangi Indonesia sejak keluar dari kungkungan Orde Baru yang telah membelenggu demokrasi di Indonesia selama tigapuluh dua tahun. Selain resesi ekonomi yang sudah cukup parah melanda Indonesia adalah ancaman yang memerlukan penanganan yang seceptanya tetapi stabilitas politik bangsa yang telah mengarah kepada perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah masalah utama dan yang terpenting yang harus dibenahi secepatnya sebelum yang lainnya sebelum bangsa ini pecah berkeping-keping. Terpilihnya Gus Dur menjadi presiden ke-empat Indonesia mudah-mudahan menjadi moment yang akan mengembalikan bangsa Indonesia kepada visi dan konsep Indonesia Raya yang utuh. Mungkin Gus Dur bukanlah yang terbaik dari antara kira-kira dua ratus dua puluh juta rakyat Indonesia. Kunjungan Gus Dur ke putri sulung mantan presiden Suharto beberapa saat yang lalu mudah-mudahan bukan sebagai pertanda bahwa orang yang dipercaya memimpin era reformasi ini akan begitu saja melupakan kesalahan pemerintahan Orde Baru yang telah membawa Indonesia kepada kondisi perekonomian yang sangat buruk. Mudah-mudahan itu hanya sekedar simbol rasa cinta kasih di antara sesama. Semula saya berpikir kunjungan tersebut adalah pertanda dari Gus Dur yang harus diterjemahkan menjadi "jikalau anda reformist jangan pilih saya, tetapi pilihlah Mega, karena saya masih akrab dengan Cendana"?. Karena bagaimanapun pentingnya tali silaturahmi antara Gus Dur dengan keluarga Cendana, selayaknyalah dia mempertimbangkan situasi yang sedang berkembang. Selayaknya anggota MPR yang reformist harus cukup pintar membaca gerak Gus Dur tersebut?. Dengan kemenangan Gus Dur, benarkah kalau disebut sebagian besar anggota MPR tersebut bukanlah reformist? Tentunya diharapkan "kegigihan" Gus Dur untuk duduk bersama-sama dengan Mega dalam perebutan kursi presiden tidak mempunyai kepentingan lain selain kepentingan reformasi. Tentunya Gus Dur sadar dengan kekurangan pisiknya, tetapi tentunya sebagai putra bangsa yang sangat menginginkan keutuhan bangsa Indonesia dia menyadari betapa pentingnya dia berada di antara Mega dan Habibie. Mendinginkan suasana yang semakin memanas di antara kubu Habibie and Megawati. Dan ketika Habibie mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai calon presiden, Gus Dur masih terus bertahan dan bersaing dengan Mega. Kenapa?. Tidak ada yang tahu, mungkin Gus Dur memang berambisi jadi presiden, ini akan lebih baik daripada jika Gus Dur hanya ditempatkan oleh pihak-pihak tertentu saja untuk menyaingi Mega. Tetapi jika melihat keluhuran budi Gus Dur, terlepas dari ada tidaknya orang yang memanfaatkan Gus Dur, saya masih berpendapat Gus Dur bertahan menjadi pesaing Mega justru karena dia sedang mengantarkan ! Me! ! ga sebagai pemenang pemilu duduk di kursi kepresidenan. Siapa yang tahu?. Bagaimanapun jika sekiranya Mega menang, situasi akan tetap rawan karena kubu yang menolaknya pasti akan bergerak merusuh. Bagi sebagian besar orang, baik yang pro Mega atau pro Habibie atau yang tidak pro siapa-siapa tentunya Gus Dur bukanlah pilihan terbaik sebagai presiden. Para pemodal dan professional dan mahasiswa tentunya lebih menerima sosok seorang pemimpin yang gerakan politiknya tidak membingungkan. Sosok yang reformist sejak awalnya dan konsekwen dengan tuntutan reformasi yang dituntut oleh para mahasiswa. Tetapi untuk sementara waktu, untuk mendinginkan suasana panas antara pro Mega and anti-Mega sosok Gus Dur dapat diterima. Hanya satu harapan, mudah-mudahan Sidang Umum MPR dalam pemilihan presiden ini adalah kemenangan reformasi dan rakyat Indonesia, bukan sebuah rekayasa untuk memenangkan sebuah pertarungan arogansi di antara elit politik lewat Gus Dur!! atau sebuah rekayasa pertarungan hidup mati yang penting Megawati tidak jadi presiden. Jika ini yang terjadi tentunya Gus Dur akan sangat mengerti apa yang harus diperbuatnya. Pertanyaan saya kepada Gus Dur dan Sidang Umum MPR yang terhormat, sebagai partai pemenang Pemilu, posisi apakah yang pantas untuk wakil-wakil PDI-Perjuangan?. Bicaralah dengan hati nurani anda!!. Atau kita tunggu saja bagaimana Gus Dur mewujudnyatakan pendukungannya untuk mengantarkan Megawati menjadi presiden sebagaimana disebut-sebut selama ini. JunidJunie ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 16:25:32 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
