----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)
Sekretariat: Gg Waru no 7 Lenteng Agung Jakarta Selatan
Telp: (021) 7810426  E-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pernyataan Sikap Politik

Pertimbangan-Pertimbangan

1. Militer Indonesia sebenarnya tidak pernah berperan untuk melindungi
rakyat dari penindasan. Seringkali ia adalah penindas rakyat. Terlampau
banyak kasus-kasus yang membuktikan bahwa militer Indonesia adalah penjajah
dan pembantai  rakyat Indonesia. Kasus Nipah, Haur Koneng, Warsidi Lampung,
Tanjung Priok, Trisakti, Semanggi I, dan juga Semanggi II. Belum lagi
bentrokan-bentrokan antara massa mahasiswa dan rakyat dengan militer.
2. Militer Indonesia menjadi musuh rakyat karena ia memiliki kepentingan
akan kekuasaan dan modal. Sejak berdirinya Orde Baru, militer menjadi
kelompok yang paling mendominasi kehidupan sosial-politik-ekonomi masyarakat
Indonesia. Hampir semua struktur kekuasaan dan perekonomian negara
didominasi oleh militer. Perwira-perwira militer terlibat dalam birokrasi,
parlemen, perusahaan negara, kabinet, bahkan juga terlibat dalam komunitas
rakyat terkecil, RT dan RW.
3. Militer juga menggunakan struktur teritorial, Kodam, Korem, Kodim,
Koramil, dan aparatur Babinsa. Kegunaan dari struktur teritorial ini adalah
untuk menghadapi aksi-aksi massa rakyat yang menuntut hak-haknya yang
dirampas oleh militer, melakukan perampasan hak-hak rakyat (misal dalam
penggusuran tanah), dan untuk mengontrol rakyat. Struktur ini sebenarnya
adalah struktur penindasan langsung atau bisa dikatakan sebagai struktur
penjajahan yang dihadapi rakyat secara langsung. Selain itu, struktur ini
adalah alat penyebar isu penyesat yang paling efektif, karena memiliki akses
langsung ke lapisan masyarakat terendah.
4. Selain struktur teritorial, militer juga mendirikan lembaga-lembaga yang
memiliki wewenang yang luar biasa besarnya. Wewenang penangkapan hanya atas
dasar kecurigaan, wewenang untuk melakukan penculikan dan tindak-tindak
kriminal atas nama keselamatan negara, dan wewenang-wewenang lain yang
bahkan berada di luar jangkauan hukum yang sah (karenanya dinamakan lembaga
ekstra yudisial). Pemeriksaan ataupun penyelidikan atas tindakan yang
dilakukan atas dasar wewenang tadi tidak dapat dilakukan.
5. Untuk menjaga kesahan dan menciptakan dasar hukum dominasi militer dalam
sosial-politik-ekonomi Indonesia, militer memaksa untuk berada di dalam
parlemen. Sampai saat ini militer memiliki 10% total kursi di seluruh DPRD,
dan 38 kursi di MPR. Dapat dibayangkan produk-produk perundangan yang
diciptakan, jelas hanya menguntungkan militer.
6. Dan yang terakhir tetapi yang terpenting adalah militerlah sebenarnya
yang mendominasi perekonomian Indonesia. Militer memelihara
pengusaha-pengusaha perkoncoan (kroni-kroninya), yayasan-yayasan dengan
anak-anak perusahaan yang tidak pernah kena pajak, menguasai jabatan-jabatan
strategis BUMN-BUMN, dan bahkan juga memberi dukungan secara ilegal untuk
bentuk-bentuk tindak kriminal yang akan memberikan mereka keuntungan. Faktor
inilah yang menyebabkan militer akan terus mempertahankan Dwifungsi ABRI/TNI
ataupun segala bentuk pelaksanaannya. Tapi faktor ini jugalah yang menjadi
sumber permasalahan krisis ekonomi di Indonesia.
7. Pergantian Presiden Republik Indonesia tidak akan berpengaruh banyak
untuk kepentingan rakyat. Rakyat akan masih ditindas, ditekan upahnya,
dirampas tanahnya, dipecat dari pekerjaannya. Hal ini disebabkan karena
masih berlakunya sistem penindasan rakyat melalui Dwifungsi ABRI, dengan
menimbang poin 1 sampai 6.
8. Sekarang terlihat adanya upaya-upaya sisa-sisa rejim militeris Orde Baru
untuk menggunakan kedok agama, terutama agama Islam yang telah
diselewengkan, dalam mempertahankan kekuasaan mereka.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan di atas, kami Liga Mahasiswa Nasional
untuk Demokrasi (LMND) menyatakan beberapa hal yang harus diketahui oleh
masyarakat luas, terutama elemen-elemen rakyat tertindas yaitu buruh, tani,
dan kaum miskin kota.

I
Untuk menyelesaikan segala masalah sosial-ekonomi-politik Indonesia maka ada
keharusan untuk diakhirinya Dwifungsi ABRI/TNI. Sidang Umum MPR tidak akan
menghasilkan satupun perubahan jika SU MPR masih melibatkan militer dan
tidak mencabut Dwifungsi ABRI/TNInya.

Karena itu, kami juga mengajukan pencabutan Dwifungsi ABRI/TNI dengan
syarat:
1. Usir militer dari Sidang Umum MPR 1999 dan bersihkan MPR-DPR-DPRD dari
perwira-perwira militer dan pendukung-pendukungnya.
2. Bubarkan struktur teritorial militer KODAM-KOREM-KODIM-KORAMIL-BABINSA.
3. Bubarkan lembaga-lembaga ekstrayudisial BAKIN, BAIS, BAKORSTANAS,
BAKORSTANASDA.
4. Bersihkan birokrasi sipil (Kabinet, Departemen-departemen, BUMN, dan juga
pemerintahan daerah) dari perwira-perwira militer.
5. Sita aset-aset bisnis militer (yayasan-yayasan dan koperasi-koperasi
militer serta anak perusahaannya) untuk dipergunakan demi kepentingan
rakyat.
6. Adili dan hukum kejahatan-kejahatan yang dilakukan militer atas
kemanusiaan dan hak asasi manusia di pengadilan Internasional.

II

Kemudian mengenai masalah jabatan kepresidenan, LMND juga menyatakan: Sejak
awal kami tidak peduli siapapun yang menjadi presiden Indonesia selama
Dwifungsi ABRI masih ada. Kami tidak pernah memberikan dukungan kepada calon
presiden manapun. Kami juga tidak akan memberikan dukungan kepada presiden
baru jika Dwifungsi ABRI belum dicabut dan atau mendapatkan kursi
kepresidenan dengan melakukan kompromi dengan militer.

III

Kepada masyarakat kami menghimbau rakyat agar mewaspadai terhadap
tindakan-tindakan politik kelompok-kelompok anti perubahan dan anti
demokrasi yang merupakan sisa-sisa rejim militeris Orde Baru. Mereka
menggunakan kedok agama, terutama menunggangi agama Islam melalui
ulama-ulama palsu, untuk melakukan aksi-aksi ataupun pernyataan-pernyataan
politik yang jelas-jelas meyesatkan rakyat. Semua hal tersebut dilakukan
untuk mempertahankan kekuasaan sisa-sisa rejim militeris Orde Baru.

Jakarta, 20 Oktober 1999
Jam 12:30 WIB
Pimpinan Pusat Harian
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi

M. Sofiyan

Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND): SMUR Banda Aceh; Fober
Palembang; KMPPRL dan Frasis Lampung; KB-UI dan Komrad Jakarta; FMD dan GMIP
Bandung; KPMU Sumedang; SMS dan Gema UNIKA Semarang; KAPRI Purwokerto; KPRP,
SPPR, dan ARMY Yogyakarta; DRMS, SMPR, dan SMPTA Surakarta; RMS Salatiga;
KPRT Jember; AbrI Surabaya; KMM Malang; FAIR TOTAL Mataram; FM-IST Palu; FMM
Menado

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Oct 1999 jam 16:27:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke