---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- UCAPAN SELAMAT UNTUK GUS DUR DAN MEGAWATI Dengan Gus Dur dan Megawati pada Haluan Mengacu Terrealisasinya 'Reformasi' dan 'Demokratisasi' Ibrahim Isa 21 Oktober 1999. I). Tujuan utama esai ini adalah: dari hati yang tulus ingin menyampai ucapan selamat kepada Duet Gus Dur dan Megawati. Khusus kepada Gus Dur, karena beliau pada tahun limapuluhan pernah menjadi murid saya di Perguruan KRIS, Jakarta. Tentunya, esai ini dimaksudkan untuk menyampaikan harapan yang selama ini terkandung dihati demi perubahan keadaan dan nasib rakyat dan negeri kita yang sudah cukup lama hidup dalam keadaan tertekan dan serba kekurangan. Kemarin, Rabu 20 Oktober 1999, SU-MPR telah memilih Kyai Haji Abdurrahman Wahid, lebih populer dikenal dengan nama panggilan akrab Gus Dur, sebagai presiden ke-4 Republik Indonesia. Hari ini, 21 Oktober 1999, SU MPR telah memilih Megawati Sukarnoputri, sebagai wakil presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 1999-2004. Kedua pemimpin Indonesia tsb dipilih untuk 5 tahun lamanya.. Tanggung jawab beliau-beliau itu besar dan berat, sungguh berat. Diyakini bahwa mayoritas rakyat negeri kita dengan lega dan gembira menyambut terpilihnya kedua pemimpin negara dan dengan sepenuh hati akan menyokong mereka dalam merealisasi cita-cita Reformasi dan Demokratisasi. Sejarah kegiatan politik Gus Dur dan Megawati sejak beberapa tahun belakangan ini, memberikan kepercayaan pada khalayak masyarakat yang luas bahwa kedua tokoh tsb dengan berani dan sabar dalam keadaan bagaimanapun senantiasa menempatkan cita-cita dan usaha Reformasi dan Demokratisasi pada agenda politik yang utama dan perdana. Terpilihnya Gus Dur dan Megawati sebagai presiden dan wakil presiden RI (1999-2004) pertama-tama adalah kemenangan kekuatan moral dan politik dari gerakan Reformasi dan Demokrasi, dengan mahasiswa dan kaum cendekiawan sebagai barisan 'pelopor dan pendobraknya'. Pertanda tercapainya kemenangan pertama adalah tersingkirnya mantan presiden Suharto, kemudian dengan telah direbutnya hak kebebasan demokratis,a.l. kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan pers, kebebasan berorganisasi dan mendirikan partai politik. Pelaksanaan pemilu yang dipercepat tanggal 7 Juni y.l., yang telah berlangsung dengan demokratis, adalah tonggak lainnya lagi yang menghiasi gerakan Reformasi dan Demoratisasi. Hasil pemilu membuktikan bahwa kekuatan politik yang menjadi motor ataupun mendukung cita-cita Reformasi lebih unggul, meskipun adanya berbagai usaha dari kubu 'Statusquo', a.l. yang menonjol berupa 'money politics', dsb. Sejarah perkembangan politik bangsa ini telah mencatat pula bahwa, atas inisiatif dan usaha para mahasiswa dan cendekiawan kita, para tokoh gerakan Reformasi dan Demokratisasi: Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Sultan Hamengkubuwono X, telah bertemu, berdiskusi dan mengeluarkan pernyataan penting: "Deklarasi Ciganjur".Salah satu agenda penting dari "Deklarasi Ciganjur", yaitu bisa dilangsungkannya pemilu yang 'jurdil' dengan aman dan selamat,, ternyata, berkat usaha hampir seluruh kekuatan Reformasi dimanapun mereka berada, sudah terrealisasi dengan hasil yang pada pokoknya "plus". Dengan demikian pertemuan dan "Deklarasi Ciganjur" telah memainkan peranannya sendiri yang penting dan unik. "Pertemuan Ciganjur" telah memberikan sumbangannya pada gerak maju usaha Reformasi. II). Sesudah terpilihnya kepala negara dan wakilnya, peta politik Indonesia memulai lembaran baru. Majlis Permusyawatan Rakyat telah memulai suatu tradisi baru, yaitu mengambil keputusan penting, seperti memilih presiden dan wakil presiden dengan cara pemberian suara secara rahasia oleh setiap anggota MPR., dengan cara 'secret ballot'. Ini berbeda dengan cara 'musyawarah dan mufakat' seperti praktek DPR dan MPR dulu. Kecuali, DPR/MPR era Reformasi sekarang ini beda dengan DPR/MPR rekayasa mantan presiden Suharto dulu, tradisi 'musyawarah dan mufakat' yang dipraktekkan Orba sesungguhnya adalah 'cara feodal' untuk memaksa orang menyetujui apa yang sudah difikirkan dan diputuskan terlebih dahulu oleh "bapak". Jadi, 'musyawarah dan mufakat' adalah selubung otoriterisme feodal. Cara baru MPR hasil pemilu ini adalah suatu titik plus baru bagi gerakan Reformasi dalam mempraktekkan kehidupan politik yang demokratis. Sidang Umum MPR kali ini telah melakukan pendobrakan yang membuka tradisi baru dalam cara kerjanya. Mengambil keputusan penting, seperti memilih presiden dan wakilnya dengan pemungutan suara rahasia selain memberikan kebebasan yang lebih besar sesuai dengan hati-nurani juga akan mendorong rasa tanggungjawb yang lebih besar pada yang bersangkutan. Ada pendapat bahwa cara 'secret ballot' apakah tidak akan memberikan peluang yang lebih besar bagi praktek 'money politics'? Hal ini mungkin saja bisa dan bahkan sudah terjadi. Namun, dibanding dengan kerugian dengan diteruskannya praktek 'musyawarah dan mufakat' ala feodal seperti yang selama ini dilakukan, jelas cara 'secret ballot' lebih banyak plusnya. III). Tujuan dari setiap politikus dan atau partai politik yang committed dengan programnya, adalah meraih kekuasaaan politik, menduduki kursi pemerintahan dan dalam lembaga-lembaga negara lainnya. Ini amat wajar. Karena, dengan kedudukan dan posisi kekuasaan tsb lebih terbuka peluang dan syarat untuk melaksanakan program yang telah difikirkan dan disusunnya, yang diyakininya adalah sesuai dengan kepentingan rakyat. Yang memegang tampuk pimpinan negara sesudah tanggal 20/21 Oktober 1999 , Abdurrahkam Wahid dan Megawati Sukarnoputri, dikenal dan dipercayai rakyat adalah tokoh-tokoh pejuang Reformasi dan Demokrasi. Beliau-beliau itu juga adalah pejuang demi terpelihara dan terkonsolidasinya persatuan dan keutuhan bangsa dan negara kita. Ketua MPR Amien Rais, juga dikenal sebagai seorang Reformis yang vokal, sebelum beliau menjadi Ketua MPR. Tuntutan dan hasrat, program dan tujuan dari gerakan Reformasi dan Demokrasi dewasa ini ialah dilaksanakannya perubahan sistim dan struktur politik masyrakat dan negara kita, agar menjadi transparan, dimana setiap orang yang menjabat posisi kekuasaan, dengan sederhana dapat dikontrol oleh rakyat. Hasrat kuat masyarakat yang luas sekarang ini ialah terbentuknya suatu pemerintahan koalisi nasional yang mencakup setiap unsur dan elemen Reformasi dan Demokratis yang dipercaya rakyat, tidak peduli apakah ia anggota papol atau tidak, tidak peduli apakah partainya menang atau kurang berhasil dalam pemilu y.l. Rakyat percaya pemerintahan koalisi nasional seperti itu mempunya syarat lebih besar untuk bisa menanggulangi keadaan dan situasi negeri kita yang dalam keadaan sakit berat. Maka terpampanglah pekerjaan berat bagi Presiden dan Wakil Presiden RI dan bagi Ketua MPR dan Ketua DPR yang baru terpilih itu untuk mena serta para wakilnya untuk menanggggulangi tugas mulya tsb. Setiap kebijaksanaan dan langkah Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Sukarno Putri, serta pemerintahan yang dipimpinnya a.l. yang terpenting dalam menangani serta menanggulangi serentetan program Reformasi, seperti masalah pemulihan ekonomi, masalah KKN, masalah 'Dwifungsi', masalah birokrasi, masalah pelanggaran HAM sejak 1965, kasus Tanjung Priok, Aceh, Maluku, Semanggi, Trisakti,dll; masalah pemulihan hak-hak jutaan warganegara Indonesia yang sejak 1965 atas tuduhan terlibat G30S tekah dilorot hak-hak kewarganegaraanya menjadi warga 'kelas dua' yang bisa diperlakukan semaunya <a.l. dengan dikeluarkannya Instruksi mantan Mendagri Amir Mahmud>, akan diambut dan akan memperoleh dukungan masyrakat yang luas. Suasana yang amat menguntungkan ialah bahwa dewasa ini sebagian terbesar masyarakat menganggap bahwa Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri adalah produk pilihan MPR pemilu 7 Juni. Maka mereka merasa Duet Gus Dur dan Mega adalah milik rakyat. Mereka memberikan kepercayaan dan menaruh harapan pada para pemimpin-pemimpin negara Gus Dur dan Megawati.Kepercayaan dan harapan besar yang diberikan itulah yang secara fundamental membedakan Presiden dan Wakil Presiden RI yang Ke-4 dengan pendahulu-pendahulunya di era Orde Baru. Harapan dan kepercyaan rakyat yang luas, inilah asset yang tidak pernah dimiliki oleh mantan presiden Suharto sejak ia memegang tampuk pimnpinan negara beserta para wakil-wakil presiden yang mendampinya. Mendekati penutupan abad ke-20, serta memasuki abad ke-21, berbahagialah bangsa dan negeri ini memiliki kepala negara dan wakil kepala negara yang mempeoleh kepercayaan rakyat. Berbahagialah nasion Indonesia memasuki era baru Reformasi dan Demokratisasi dengan telah terbentuknya Dewan Perwakilan Rakyat dan Majlis Permusyawaratan Rakyat hasil pemilu demokratis pertama selama 30 tahun terakhir. Kita mengucapkan selamat, selamat, sekali lagi selamat dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI yang ke-4 dan Megawati Sukarnoputri sebagai Wakil Presiden yang Ke-4; beserta doa dan harapan segala yang terbaik untuk beliau-beliau . * * * * * ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Oct 1999 jam 09:05:10 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
