---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PROFIL MARDIYANTO: WARTAWAN ANTARA BIRO DILI YANG MERANGKAP INTEL KOPASSUS DILI, (MateBEAN, 25/10/99). Menyambung krono penodongan dan perampasan pita video wartawan dan jurukamera SCTV oleh seorang wartawan LKBN Antara di Dili bernama Mardiyanto pada 8 September 1999, bersama ini redaksi menurunkan profil si penodong yang tampaknya juga diketahui oleh jajaran pimpinan LKBN Antara. Mardiyanto dikenal luas oleh seluruh wartawan di Timtim sebagai wartawan Antara Biro Dili. Agak unik riwayat Mardiyanto sebagai seorang wartawan, karena dia juga merupakan satu-satunya wartawan yang dipecat oleh Kepala Biro Antara di Dili, Heri Yanto, pada 1997. Namun setelah pergantian pimpinan Antara dari Heri Yanto kepada Jonar Siahaan, Mardiyanto kembali bekerja sebagai wartawan Antara. Agak aneh karena seseorang yang sudah dipecat bisa kembali bekerja di kantor yang sama. Selain sebagai wartawan, di era pra-referendum dia juga dikenal sebagai pengusaha kecil-kecilan, yakni membantu istrinya untuk mengelola sebuah salon kecantikan di sekitar Kaikoli, Dili Barat. Mardiyanto aslinya berasal dari suku Bugis. Ia memiliki jiwa bisnis, yakni ketika kasus kelaparan melanda Timtim, dan sekitar 1.000 ton beras di Dolog yang busuk di Gudang Dolog serta kasus korupsi di Dolog, dia bersama dengan beberapa wartawan terus-menerus membongkar kasus korupsi itu. Namun tujuan Mardiyanto untuk membongkar kasus kasus korupsi di Dolog itu punya maksud yang lain, yakni berbekal kartu persnya, dia mengancam pimpinan Dolog untuk membeberkan semua kasus yang berkaitan dengan korupsi itu, bila Dolog tidak mau bekerja sama dengannya yakni memberikan imbalan berupa beras dan uang. Setelah kasus itu diselesaikan, Mardiyanto berubah profesi dari pengusaha salon kecantikan menjadi pengusaha dan juga pendistribusi beras. Mardiyanto merupakan satu-satunya wartawan yang punya banyak profesi, karena selain sebagai wartawan, dia juga sebagai pengurus DPD I Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kedudukannya di PPP adalah Kepala Biro Humas PPP. Dia juga terdaftar sebagai wartawan intel, artinya setiap berita yang ditulis selain untuk kepentingan Antara juga untuk kepentingan Intelejen di Timtim. Setiap hari meliput berita, di pinggangnya selalu terdapat sebuah badik asli Bugis dengan dilapisi benang merah. Konon kabarnya, badik itu beracun sehingga sedikit saja kena orang bisa langsung meninggal dunia karena kalau mencari penawar dari racun itu orang harus datang ke tanah Bugis. Di Biro Antara Dili, dia ditempatkan di desk liputan politik dan Hankam, sehingga hubungan dia dengan aparat intelejen di Timtim setiap waktu sangat lancar. Dia juga mendapat berbagai fasilitas dari Korem 164/Wira Dharma Dili. Sudah beberapa kali dia mengikuti Munas PPP serta pernah menjadi calon legislatif (caleg) PPP untuk DPRD I Timtim, namun sayang dia tidak lolos karena suara PPP untuk pemilihan Timtim jeblok bahkan tidak mendapat satu pun kursi di DPRD I. Pada saat pemerintah menawarkan dua opsi untuk Timtim, dia lalu meminta cerai dengan istrinya dan menyuruh istrinya untuk kembali ke Bugis. Saat ini Mardiyanto dikenal sebagai seorang duda tanpa anak. Ketika Tempo dan DeTIK (jadi DeTAK) diijinkan terbit kembali, dia mengaku dirinya sebagai koresponden berita untuk Tabloid DeTAK di Timtim sekaligus menjadi agen untuk tabloid itu. Selain mengaku sebagai koresponden DeTAK, dia juga mengaku dirinya sebagai koresponden Harian Merdeka dengan leluasa dengan selalu memakai nama koran-koran tersebut mengancam berbagai pejabat untuk memberikan uang dan berbagai macam keperluan yang dia butuhkan. Dengan bertopeng wartawan, dia selalu melakukan praktek-praktek bisnis kotor, berupa menjadi agen intelejen serta agen distributor beras. Pernah dikejar oleh mahasiswa Untim, karena berkaitan dengan pemberitaannya di Antara yang menyudutkan para mahasiswa di Universitas itu. Dan ketika terjadi aksi pembumihangusan di Dili dia juga tercatat sebagai salah seorang wartawan yang melakukan propaganda yakni membenarkan tindakan milisi, TNI dan Polri. Bahkan anehnya dia juga beberkan sebagai seorang milisi yang ikut mengejar-gejar rakyat Timtim yang dicurigai kelompok pro-kemerdekaan. Dengan demikian, sebetulnya tidak aneh ketika dia menodongkan senjatanya kepada kameramen SCTV yang sedang mengambil gambar milisi, TNI dan Polri yang sedang menjarah dan membakar toko-toko di Dili. Dia menodongkan senjata dan mencabut kaset dari kameramen SCTV itu dan menghancurkannya di depan seorang perwira militer berpangkat mayor. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 24 Oct 1999 jam 19:44:56 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
