----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Stockholm, 25 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SAATNYA SISTEM PANCASILA HARUS DIGANTI
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Masih tanggapan untuk saudara Jayadi Kamrasyid (USA).

Saudara Jayadi Kamrasyid ini, [EMAIL PROTECTED] , kalau penelitian saya
tidak salah, maka saya menemukan bahwa saudara sekarang tinggal di
negara sekuler terbesar di dunia, yaitu Amerika.

Dan saya sendiri memang untuk sementara ini tinggal di negara sekuler,
walaupun negara sekuler yang kecil yang terletak di bagian utara benua
Eropa.

Hanya perbedaannya adalah, saudara Jayadi Kamrasyid telah terbuai dengan
sekularisme-nya Amerika (dan ingin menerapkannya di Indonesia, walaupun
menurut saya Daulah Pancasila memang sudah sekuler), yang merupakan
negara super power, yang memiliki tahanan kriminal yang terbesar di
dunia, dan memiliki tahanan kriminal yang terbesar yang telah dijatuhi
hukum mati, hanya tinggal menunggu saatnya untuk dihukum mati.

Sedangkan saya, walaupun sudah hampir seperlima abad tinggal dinegara
sekuler itu, tetapi, seperti ikan laut yang hidup di air laut yang asin,
ternyata dagingnya tidak terasa pahit dan asin. Artinya, walaupun saya
menghirup sekularisme tiap hari, tetapi tidak menjadikan diri saya
sebagai seorang sekuler. Mengapa ? Karena saya yaqin bahwa apa yang
telah dikatakan Allah SWT melalui Rasul-nya adalah kebenaran, yang wajib
diikuti, wajib dilaksanakan, wajib diterapkan dan wajib ditegakkan di
dunia ini. Dan cara hidup sekuler adalah telah menyimpang dari apa yang
telah digariskan Allah SWT, dan saya sudah membuktikan dan melihatnya
sendiri.

Nah, tulisan untuk hari adalah tanggapan terhadap hasil pemikiran
saudara Jayadi Kamrasyid yang telah menanggapi tulisan saya yang
berjudul "Rezim Gus Dur harus perhatikan KTI" yang dipublisir tanggal 24
Oktober 1999 ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991024.htm ), yang telah
dikirimkan langsung kepada saya dan juga ke maillis [EMAIL PROTECTED]
Dimana isi tanggapan saudara Jayadi Kamrasyid adalah,

"Bung Ahmad, Ini bukan soal ideologi nasionalis kebangsaan atau
daulah-daulah yang anda selalu kumandangkan. Ini soal sistem politik
yang harus Kita koreksi. Sistem distrik murni mutlak diterapkan di
Indonesia.

Pemilihan Presiden seperti di AS melalui "suara distrik" juga harus
diberlakukan. Sehingga siapapun yang terpilih jadi Pemimpin Bangsa bukan
hasil kongkalikong pemimpin partai di Jakarta. Begitu pula bila sistem
distrik diterapkan dalam pemilihan wakil rakyat.

Kita tidak perlu peduli soal non-muslim atau muslim. Toh rakyat
mencoblos orang bukan tanda gambar. Saya pikir masyarakat islam Kita
sudah dewasa, pandai memilih pemimpinnya.

Saya kecewa dengan pimpinan Parpol saat UU Pemilu digelar oleh Ryaas
Rasyid dan Affan Gaffar. Mereka menolak sistem distrik. Demi kekuasaan
sang pemimpin Parpol. Alasannya rakyat masih bodoh.

Sekarang baru terasa akibatnya. Megawati hanya pantas menjadi pemimpin
Jawa Bali saja. Artinya adalah wajar tuntutan NIT itu berkumandang.

Dan tentu saja ide bung Ahmad soal daulah-daulah adalah ide konyol. NIT
adalah multi etnik dan multi-religion (Minahasa, Ambon, NTT, Irja adalah
non muslim). Wassalam". (JKamrasyid, 24 Oktober 1999).

Baiklah saudara Jayadi Kamrasyid.

Dari cara saudara menyampaikan idea, saya sudah dapat sedikit bayangan
untuk menganalisa yaitu, bahwa memang, saudara ini telah terpengaruh
oleh sistem sekuler-nya Amerika atau negara-negara sekuler lainnya di
dunia ini.

Saudara Kamrasyid, apapun sistem pemilihan wakil rakyat dan presiden,
itu bukan masalah yang paling asasi untuk dibicarakan, karena yang
paling asasi atau paling dasar adalah sistem yang dianut oleh suatu
rakyat yang hidup dan tinggal di negara tersebut. Rakyat Amerika
menganut sistem kapitalisme yang sekuler. Rakyat Daulah Pancasila
menganut sistem yang didasarkan kepada falsafah negara pancasila yang
sekuler.

Jadi, apapun sistem atau cara yang dipakai dalam pemilu, apakah itu
sistem distrik seperti di negara tempat saudara Kamrasyid tinggal
sekarang, atau sistem pemilihan umum yang telah dipakai di Daulah
Pancasila sekarang, menurut pemikiran saya tidak menentukan baik
tidak-nya manusia-manusia hasil dari sistem pemilu tersebut.

Justru, yang paling asasi adalah bagaimana dengan sistem yang dijadikan
dasar suatu Daulah menjadikan rakyatnya menjadi rakyat yang baik menurut
pandangan Allah SWT, bukan hanya baik menurut pandangan manusia.

Di negara tempat tinggal saudara sekarang, apa yang dianggap baik adalah
relatif, artinya baik menurut apa yang keluar dari hasil suara
mayoritas, walaupun buruk menurut pandangan Allah SWT.

Jadi suatu negara yang tidak mendasarkan dan menjadikan nilai-nilai yang
datang dari Allah sebagai landasan negara, saya yaqin, walaupun
kelihatannya penuh kemegahan dengan materi, seperti yang ada di
negara-negara sekuler Amerika dan Eropa, tetapi ternyata kosong dari
nilai-nilai yang datang dari Tuhan.

Memang, Islam tumbuh pesat di Amerika dan Eropa, begitu juga Kristen di
Amerika dan Eropa, tetapi ajaran-ajaran agama Kristen dan Islam di
negara-negara sekuler tersebut tidak banyak pengaruhnya kepada negara.
Para elit politisi dengan bebasnya, tidak terpengaruh oleh nilai-nilai
agama, dalam menetapkan dan membuat aturan-aturan dan hukum-hukum yang
akan diberlakukannya. Akhirnya, ajaran agama hanyalah untuk pribadi,
bukan untuk diterapkan di masyarakat, pemerintahan dan negara.

Karena saya melihat krisis moral yang terjadi di negara-negara sekuler
apabila ditinjau dari sudut nilai-nilai Allah atau aqidah Islam adalah
sudah sedemikian kritis dan dalamnya (walaupun tidak disadari oleh
orang-orang sekuler dan atheis), maka agar supaya kaum muslimin (yang
menerapkan faham sekularisme di negara-nya masing-masing) tidak makin
jatuh tersungkur kejurang kehinaan ini, saya mengajukan jalan
pemecahannya yaitu dengan membangun kembali Daulah Islam Rasulullah.

Dengan visi membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan
perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha
Allah SWT, dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim dan non
muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat,
yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan
adil, berdasarkan akidah Islam dan menghormati agama lain, dengan
konstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak
mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras.

Nah, seperti yang telah dicontohkan Rasulullah, bersama kaum Yatsrib
(kaum Anshar), Kaum Muhajirin (kaum muslimin pendatang dari Mekkah) dan
Kaum Yahudi melahirkan Undang Undang Madinah, maka yang timbul
didalamnya adalah persatuan kaum Muslim dan non Muslim tanpa memandang
nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras yang hidup di Daulah Islam
Rasulullah yang berdasar aqidah Islam dibawah pimpinan Rasulullah yang
apabila timbul perbedaan pendapat di dalam suatu soal, maka
penyelesaiannya dikembalikan pada (hukum) Tuhan dan
(keputusan) Muhammad SAW.

Jadi, dengan mencontoh jejak Rasulullah, kaum muslimin harus mempu
menunjukkan dan mencontohkan bahwa dalam Islam tidak ada paksaan. Islam
bukan penghancur etnis, Islam penuh toleran, dan Islam mampu memberikan
jalan pemecahan dalam kehidupan pribadi, masyarakat, pemerintahan dan
negara. Islam bukan hanya sekedar simbol. Tetapi Islam adalah memang
cara hidup. Dan Islam tidak memandang orang, yang dipandang Islam adalah
ketaqwaan seseorang dan menghormati agama lain. Agama kamu untuk kamu,
agama kami untuk kami.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk saudara Jayadi Kamrasyid (USA).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Oct 1999 jam 20:56:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke