---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Republika, 22 Oktober 1999 BERITA NEWSWEEK Arogansi Barat Baru-baru ini kami membaca berita di Newsweek edisi September tentang Timor Timur. Seperti media massa Barat lainnya, tulisan itu ''memvonis'' Indonesia sebagai pihak yang paling bersalah mengenai masalah Timor Timur, karena dianggap tidak mampu menyelesaikan pertikaian yang terjadi di Timor Timur. Padahal kenyataannya, pertikaian tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan perang saudara yang memang sudah mendarah daging sejak Timor Timur masih dijajah Portugis. Tulisan tentang Timor Timur di media massa Barat hanya menceritakan secara sepihak apa yang terjadi di Timor Timur. Segala tindakan milisi prointegrasi dikecam, dianggap melanggar HAM, dibesar-besarkan, sedangkan kekejaman yang sebenarnya dilakukan oleh Interfet (baca: Australia) terhadap para pendukung prointegrasi sama sekali tidak disinggung. Bila disinggung pun, mereka berdalih bahwa tindakan tentara Australia itu untuk 'mengamankan' dan 'melindungi' warga Timor Timur. Tapi kenapa hanya pendukung prointegrasi saja yang ditembaki, diculik, bahkan dibakar hidup-hidup? Campur tangan Australia dalam masalah Timor Timur sesungguhnya sangat bermuatan politis. Australia akan mengadakan pemilu akhir tahun ini. John Howard yang kelihatannya 'ngotot' ingin terpilih kembali menjadi perdana menteri melihat kekacauan di Timor Timur ini sebagai lahan kampanye yang sangat potensial. Dia tahu persis bahwa masyarakat Australia sangat peduli soal HAM, maka dia sengaja memanas-manasi rakyatnya soal pelanggaran HAM di Timor Timur yang -katanya- dilakukan oleh Indonesia, demi kepentingan politik dalam negerinya dan untuk mengangkat namanya agar dianggap sebagai 'pahlawan' dalam penyelesaian konflik di Timor Timur. Australia dinilai oleh banyak pengamat politik -bahkan dari negerinya sendiri- seolah-olah menjadi kepanjangan tangan AS di Asia. Mengutip dari pernyataan mantan Perdana Menteri Paul Keating, ''Howard telah menempatkan Australia sebagai jongos bagi AS di Asia pasifik.'' Australia mati-matian menuduh Indonesia sebagai penjajah, padahal dia sendiri masih bersedia diserahi peranan sebagai 'pelayan' AS. Saya berharap kita lebih berhati-hati terhadap arogansi barat yang sok merasa sebagai polisi dunia. Bukan tidak mungkin di masa mendatang yang mengatur kehidupan kita yang notabene orang Asia ini malah bule-bule yang merasa telah menundukkan dunia di bawah 'kaki' imperialismenya. Siswi SMU YPVDP Bontang, Kalimantan Timur ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Oct 1999 jam 11:26:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
