---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- DOKUMEN, MINGGU III-IV, OKTOBER 1999 KONSPIRASI YANG BERLANJUT PENYERAHAN kepemimpinan nasional kepada Prof. Dr. B.J. Habibie 21 Mei 1998 silam, belum memberikan isyarat pudarnya gerakan massa. Bahkan adanya serangkaian tuntutan yang mengarah kepada pelaksanaan demokrasi sesuai yang diterjemahkan tuntutan reformasi semakin gencar disuarakan. Dan, turunnya H.M. Soeharto bukanlah pertanda meredanya gerakan masyarakat pada berbagai tataran malah kebalikannya, intensitas gerakan massa cenderung memberi pembenaran kepada kekerasan sebagai legitimasi. Artinya apa yang terjadi pada saat ini merupakan gerakan yang secara sistematis telah mengarah kepada upaya-upaya menciptakan instabilitas di bidang politik, keamanan, ekonomi, keuangan dan perdagangan di samping menggiring masyarakat kepada suatu kesepakatan demokratis membentuk berbagai partai politik yang merupakan benih-benih konflik. Kecuali itu masyarakat tidak saja berperan dengan segenap kemampuan yang gegap gempita guna merestrukturisasi sistem kekuasaan yang selama ini dinilai asing dan menyimpang. Namun dari itu masyarakat turut berperan bagi adanya campur tangan Amerika, melalui IMF maupun Kongres HAM Amerika dan bahkan secara menakjubkan dengan leluasa mereka dapat mempengaruhi masyarakat yang terlanjur histeris mendukung reformasi dengan cara menciptakan opini dan penyesatan. Sungguhpun perkembangan tersebut menimbulkan keprihatinan bagi putra bangsa yang tidak bisa menerima kenyataan kedaulatan negeri dan bangsanya telah terintervensi provokasi asing melalui misi maupun alasan-alasan HAM. Kenyataannya kelompok masyarakat yang mengklaim sebagai praktisi sekaligus pelaku pendukung, penyokong yang menoreh tinta sejarah reformasi telah menjadi bagian terintegral kekuatan asing tersebut. Pada tataran lainnya gerakan reformasi bukan semata-mata melakukan perubahan kearah suatu perbaikan secara menyeluruh dan totalitas melainkan gerakan tersebut cenderung mengarah pada gerakan-gerakan politik dalam kemasan kebijakan popularitas yang disponsori konspirasi antara masyarakat internasional berikut agen-agennya di Indonesia. Dalam kaitan tersebut beberapa perkembangan yang secara sistematis terus menggelombang terakhir ini, ditandai dengan berlangsungnya pembebasan tahanan politik yang berarti bebas tanpa syarat akan diberikan kepada para pelarian politik di luar negeri termasuk agen-agen partai komunis sebagaimana yang diperjuangkan Muchtar Pakpahan, seraya memberi legitimasi kepada berdirinya partai-partai politik yang baru--termasuk kemungkinan peluang bergabungnya kekuatan komunis bilamana pemerintah Indonesia secara latah memberikan amnesti. Dalam kaitan itulah disampaikan argumentasi. Atas upaya sistematis serta terencana dimana TNI sebagai kekuatan sospol dan hankam menjadi target utama konspirasi tersebut. Bahwa proses pergantian Pangkostrad saat itu Letjen Prabowo kepada Mayjen Djamari Chaniago--beberapa jam sebelumnya dijabat oleg Mayjen Johny Lumintang atas pertimbangan untuk tidak terjadi kekosongan komando, walau Kaskostrad Mayjen Kivlan Zain siap perintah bila pimpinan Kostrad berhalangan, merupakan salah satu indikasi kuat. Hal yang sama selain berkaitan pada masa pengalihan dalam tempo begitu singkat (Lumintang ke Chaniago) maka seputar isu sejumlah desertir pasukan Baret Merah seolah-olah terjadi keretakan pada pasukan elite tersebut, telah menimbulkan spekulasi dan analisis. Benarkah Panglima TNI Jenderal Wiranto tidak mumpuni dalam mengayuh biduk TNI tersebut? Tentu tergantung dari sudut pandang masing-masing. Yang pasti, skenario amputasi telah dengan sistematis menyergap berbagai sasaran potensial TNI termasuk disini, Prabowo, Muchdi dan Syafrie Syamsudin selaku prajurit TNI terbaik bangsa yang turut jadi korban amputasi tadi. Ibarat legenda berbabak, Jenderal Wiranto memasuki kembali periode tragis berikutnya. Bahwa kerusuhan berdarah di Ambon, Aceh serta Timor Timur semakin memposisikan Jenderal itu kearah yang sangat dilematis. Setidaknya jaringan NARKOBA yang menyeret sejumlah personil TNI dan Polri jelas menguatkan indikasi bahwa konspirasi besar terlalu kokoh untuk dihadapi Jenderal Wiranto. Sah sajakah pemikiran demikian? Namun yang patut kita cermati adalah penembakan atas Kedutaan Australia Selasa malam sebagai siasat mempercepat eskalasi perlawanan kedua kekuatan baik di Timtim maupun Jakarta-Canberra. Dan menurut dugaan penulis, tembakan atas gedung kedutaan Australia sepenuhnya dilancarkan oleh agen-agen Australia sendiri di Jakarta--tidak tertutup kemungkinan pelakunya agen-agen Zionis lokal hasil suatu pembinaan didasari kerjasama Amerika dan Zionis Internasional.*BIM ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Oct 1999 jam 11:26:25 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
