----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 27 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MASIH SEKULARISME ADALAH RACUN
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Masih tanggapan untuk saudara Ahmad Ramdani Salim.

Hari ini, Rabu, ketika saya membuka berita yang masuk, terbaca subject
yang berbunyi "Tanggapan pendapat A.Sudirman - Sekularisme!" dengan nama
pengirim Ahmed yang berdomisili di [EMAIL PROTECTED] .

Setelah sekilas saya baca isi dari hasil pikiran saudara Ahmad Ramdani
Salim tersebut, lahirlah tulisan untuk hari ini yang saya jadikan
sebagai tulisan lanjutan dari tulisan "Sekularisme adalah racun" yang
dipublikasikan pada tanggal 26 Oktober 1999. (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991026a.htm ).

Baiklah saudara Ahmad Ramdani Salim.

Nilai-nilai, kaedah-kaedah Islam akan tetap ada selama kaum muslimin
tetap melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang telah diperintahkan
Allah dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw, dimanapun mereka berada.

Nilai-nilai Islam yang juga menjadi nilai-nilai universal, seperti
keadilan, amanah, toleransi, saling menghormati agama lain, melakukan
perdamaian, melarang pembunuhan, mencegah pencurian, menjaga persatuan,
memelihara hak asasi manusia, itu semuanya adalah nilai-nilai yang
dijunjung oleh Islam, dan juga ada dalam masyarakat disetiap negara.

Nah, selama nilai-nilai, kaedah-kaedah bukan berasal dari suatu ajaran
agama, maka bisa diterima oleh faham sekularisme. Karena faham
sekularisme tidak mendasarkan moralitas kepada ajaran agama.

Sekarang, apapun nilai-nilai, kaedah-kaedah, kalau itu bukan dari agama,
maka bisa diterima oleh faham sekularisme.

Salah satu falsafah yang bukan berasal dari agama yaitu, pancasila.

Dimana pancasila adalah asalnya merupakan pidato Soekarno tanggal 1 juni
1945 dalam sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan) atau Dokuritzu Zunbi Cosakai yang terdiri dari 62 anggota
dengan ketuanya Dr Rajiman Widiodiningrat dibentuk dan dilantik oleh
Jenderal Hagachi Seisiroo seorang jenderal Angkatan Darat Jepang.

BPUPK bersidang dari tanggal 28 Mei sampai dengan 1 juni 1945. Yang
selanjutnya pidato Sokearno itu dirumuskan oleh Panitia Sembilan
(Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar
Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin).

Dimana dari Panitia Sembilan ini lahirlah Piagam Jakarta yang berisikan
rumusan pancasila, yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan dengan
menjalankan Syar'at Islam bagi para pemeluknya.

Tetapi kemudian dirubah (atas usul sekelompok orang Kristen yang berasal
dari Sulawesi Utara, tanah kelahiran A.A. Maramis) melalui Muhammad
Hatta yang memimpin rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia), setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan dan
Kasman Singodimedjo (keduanya bukan anggota panitia sembilan), menghapus
tujuh kata dari Piagam Jakarta yang menjadi keberatan tersebut. Sebagai
gantinya, atas usul Ki Bagus Hadikusumo (yang kemudian menjadi ketua
gerakan pembaharu Islam Muhammadiyah), ditambahkan sebuah ungkapan baru
dalam sila Ketuhanan itu, sehingga berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan
di cantumkan dalam preambule (pembukaan) UUD'45 sampai sekarang dan
tidak ada seorangpun yang berani merubahnya.

Nah sekarang, memang pancasila mengandung nilai-nilai yang universal,
sebagaimana juga yang terpancar dari Islam, seperti sikap tolerans,
menghormati agama-agama lain, menjunjung hak asasi manusia, mengutamakan
persatuan, menjaga dan saling kenal mengenal bangsa.

Hanya perbedaannya adalah, pancasila merupakan nilai-nilai sebagai
produk hasil pemikiran manusia, yaitu hasil dari perumusan Panitia
Sembilan, sedangkan nilai-nilai Islam adalah merupakan datang dari Allah
swt melalui Rasul-nya Muhammad saw. Sehingga nilainyapun sangat
berlainan, walaupun sama bunyinya.

Misalnya, pengikat nilai persatuan menurut pancasila adalah dasarnya
karena adanya kesamaan kepentingan untuk membebaskan diri dari
penjajahan dan membangun Daulah Pancasila dengan dasar kemajemukan,
nasionalitas dan kebangsaan. Sedangkan pengikat nilai persatuan menurut
Islam adalah aqidah Islam dengan menghormati agama lain dan ukhuwah
Islam.

Jadi, walaupun sama kata nilai persatuan, tetapi dasarnya untuk pengikat
persatuan adalah jauh berbeda.

Nah selanjutnya, nilai-nilai universal yang telah menjadi bagian dari
pancasila (misalnya, sila persatuan) pada hakekatnya adalah tidak sama
dengan (misalnya persatuan) yang ada dalam Islam. Karena dasar pengikat
persatuan dalam pancasila tidak sama dengan dasar pengikat persatuan
dalam Islam.

Jadi, menurut saya, tidak benar apa yang dikatakan oleh saudara Ahmad
Ramdani Salim yang menyatakan: "Nilai serta kaidah islam yang universal
telah baik terserap dan berasimilasi dalam kaidah-kaidah Ideologi dan
hukum dasar negara Indonesia" (Ahmad Ramdani Salim, 27 Oktober 1999).

Karena, kalau memang benar "nilai serta kaidah islam yang universal
telah baik terserap dan berasimilasi dalam kaidah-kaidah Ideologi dan
hukum dasar negara Indonesia", maka jelas, sila persatuan yang tercantum
dalam pancasila tali pengikatnya adalah ukhuwah Islam dan aqidah islam
dengan menghormati agama lain. Tetapi, kenyataannya adalah sila
persatuan yang ada dalam pancasila, justru tali pengikatnya adalah
kebangsaan dan nasionalitas, yang justru bertentangan dengan tali
pengikat yang ada dalam Islam, yaitu aqidah Islam dengan menghormati
agama lain dan ukhuwah Islam.

Selanjutnya, nilai-nilai dan kaedah-kaedah yang ada dalam pancasila bisa
diterima oleh faham sekularisme. Sedangkan nilai-nilai dan kaedah-kaedah
yang ada dalam Islam ditolaknya. Mengapa? Karena sekularisme mendasarkan
moralitas bukan kepada nilai-nilai, kaedah-kaedah agama.

Coba, kita lihat dalam kaedah hukum saja, misalnya, bunga dari bank
adalah haram menurut Islam. Begitu juga minuman keras haram menurut
hukum Islam. Kemudian, seorang muslim yang tinggal di Daulah Pancasila
keluar dari rumahnya dan berteriak sekeras-kerasnya sambil mengatakan
bahwa bunga bank dan minuman keras adalah haram. Tetapi, tidak
seorangpun yang memperhatikannya. Mengapa? Karena gelombang arus
sekularisme telah menelannya dan membuat kaedah hukum Islam, seperti
bunga dan minuman keras, tidak berlaku di dalam faham sekularisme.

Atau dengan kata lain bahwa, nilai-nilai, kaedah-kaedah, hukum-hukum
Islam tidak berlaku di Daulah pancasila, karena dasar falsafah pancasila
yang merupakan hasil rumusan Panitia Sembilan tidak memberikan ruang
gerak dan hidup kepada nilai-nilai, kaedah-kaedah, hukum-hukum Islam.

Atau bisa dikatakan juga bahwa, nilai-nilai, kaedah-kaedah yang berasal
dari pancasila merupakan nilai-nilai, kaedah-kaedah yang bisa diterima
oleh faham sekularisme, karena nilai-nilai, kaedah-kaedah yang ada dalam
pancasila bukan datang dari agama. Sehingga nilai-nilai, kaedah-kaedah
yang berasal dari pancasila merupakan pupuk yang subur bagi pertumbuhan
faham sekularisme.

Jadi, seperti yang telah saya katakan dalam tulisan "Sekularisme adalah
racun", dimana saya menulis: "Justru menurut saya, karena telah
dijadikannya dasar falsafah negara pancasila yang sekuler itulah yang
menyebabkan rakyat Daulah Pancasila terbagi kedalam golongan sekularis
dan non sekularis. Jadi sebenarnya, menurut pemikiran saya, para pendiri
Daulah Pancasila yang telah berkomitment untuk menjadikan pancasila
sebagai falsafah negara, mereka itulah, baik disadari atau tidak,
merupakan sumber timbulnya sekularisme di Daulah Pancasila." (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991026a.htm ).

Jadi kesimpulannya menurut pemikiran saya adalah, tidak benar "Nilai
serta kaidah islam yang universal telah baik terserap dan berasimilasi
dalam kaidah-kaidah Ideologi dan hukum dasar negara Indonesia." seperti
yang dikatakan oleh saudara Ahmad Ramdani Salim dalam tanggapannya yang
disampaikan kepada saya.

Adapun tentang apa yang saya katakan dalam tulisan "Sekularisme adalah
racun" yang berbunyi:

"Yang sebenarnya, menurut pemikiran saya, mereka hanyalah rasa
spontanitas, atas keberhasilan Gus Dur yang nasionalis-kebangsaan bisa
mengalahkan Mega yang nasionalis-pancasila. Bukan, berarti dengan
berteriak Allahu Akbar untuk tegaknya hukum-hukum Allah dan pemerintahan
serta Daulah Islam Rasulullah. Jadi, tidak benar, apabila riuh gemuruh,
suara takbir dan salawat di dalam gedung MPR ketika Gus Dur terpilih
jadi presiden Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang sekuler, dengan
perbedaan suara yang tidak jauh berbeda dengan suara yang diperoleh
Mega, menggambarkan akan tampilnya Islam di bumi Indonesia." (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991026a.htm )

Memang jelas, tidaklah mungkin Daulah Pancasila yang berdasar falsafah
pancasila yang sekuler dengan UUD 1945-nya yang juga sekuler, berubah
dengan seketika menjadi Daulah Islam Rasulullah yang berdasarkan aqidah
Islam dengan konstitusnya yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah,
karena terpilihnya Gus Dur yang nasionalis-kebangsaan menjadi Presiden
Daulah Pancasila.

Sedangkan Rasulullah saw saja memerlukan waktu tiga belas tahun di
Mekkah untuk membina aqidah Islam kepada umat Islam. Kemudian sepuluh
tahun membina masyarakat Muslim dan non muslim dalam Daulah Islam
Rasulullah di Yatsrib dengan penuh perjuangan, sehingga memerlukan
duapuluh tiga tahun untuk mencapai suatu kemenangan yang besar, sebagai
anugrah dari Allah swt.

Jadi menurut saya, adalah mimpi, kalau dengan semangat dan gelora
anggota MPR ketika waktu terpilihnya Gus Dur yang nasionalis-kebangsaan
menjadi Presiden Daulah Pancasila, menjadi alasan untuk tegaknya Islam,
pemerintahan Islam dan Daulah Islam Rasulullah di wilayah Indonesia.

Yang justru sebenarnya adalah, dengan terpilihnya Gus Dur yang
nasionalis-kebangsaan memberikan ruang gerak yang luas bagi pertumbuhan
sekularisme di Daulah Pancasila. Kecuali, apabila Gus Dur berubah
seratus delapan puluh derajat, dari mempertahankan pupuk sekularisme,
yaitu pancasila, kepada usaha mengambil dan menjadikan pupuk yang akan
mematikan sekularisme, yaitu pupuk yang berasal dari aqidah Islam yang
menghormati agama lain dan ukhuwah Islam.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk saudara Ahmad Ramdani Salim.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Oct 1999 jam 17:22:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke