----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 28 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

JURUS PERTAMA PRES GUS DUR, SELESAIKAN ACEH
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Masih tanggapan untuk Pres Gus Dur dan Menko Polkam Jenderal Wiranto.

Dalam tulisan "Aceh akan menjadi pusat DIR" (
http://www.dataphone.se/~ahmad/990917.htm ) yang dipublisir pada tanggal
17 September 1999, pernah saya menulis,

"Menurut Gus Dur, dia datang ke Aceh hanya untuk mendengarkan isi hati
orang Aceh. "Insya Allah, keputusan ulama dayah yang menuntut
diadakannya referendum segera saya sampaikan ke Presiden Habibie dan
Wiranto setiba saya di Jakarta," janji Gus Dur..."Saya berharap mereka
semua mengerti, bahwa latar belakangnya orang minta referendum itu tidak
ringan. Tidak bisa kita hanya menggunakan istilah yang latar belakang
bersifat formalistik". "Memang kita bernegara, karena itu negara
kesatuan harus dipertahankan seluruh wilayahnya. Tapi yang sering
dilupakan orang bahwa untuk menjadi suatu negara perlu kerelaan orang".

"Rakyat Aceh ini kita tanya, kerelaannya apa. Mau tetap di Republik
Indonesia, apa tidak. Harus dengan berdasarkan kerelaan, enggak bisa
begitu saja. Alternatifnya adalah apa yang dibuat Belanda dulu. Mereka
kemari menjajah. Apa kita mau, bangsa kita menjajah bangsa kita juga.
Kita ya enggak mau. Dikatakan, supaya orang Aceh menerima dengan ikhlas,
orang Jawa juga harus menerimanya dengan ikhlas. Orang Padang, orang
Batak semuanya menerima ikhlas-ikhlas-lah. Itulah pikiran saya tadi
kenapa saya sampai menangis...".

"Dari dulu saya kan sudah nyatakan setuju referendum untuk Aceh. Saya
belum pernah berubah dalam hal itu. Artinya itu jalan yang terbaik dan
paling jujur. Tapi kita belajar pengalaman di Timtim. Enggah usah
buru-buru. Karena kalau buru-buru akibatnya bisa buruk, terjadi
pertumpahan darah seperti di Timtim. Jadi mari kita sama-sama, rakyat
harus bisa kita bikin mengerti. Tapi percayalah, hak-hak rakyat Aceh
harus dihormati."

Menyahuti aspirasi rakyat Aceh ini, Gus Dur mengharapkan para pejabat
dan penguasa jangan berpikir dan berpandangan sempit. "Saya yakin
melalui  referendum ini, jelas akan membawa dampak positif bagi Aceh.
Kalaupun nantinya hasilnya Aceh menjadi merdeka, kita harus ikhlas,"
tandasnya.

"Tadi telah saya sampaikan kepada Pak Amien Rais di masjid,
nampak-nampaknya setelah mendengar hasil musyawarah besar para ulama
dayah, saya setuju sepenuhnya hasil keputusan itu. Maka saya katakan
kepada Pak Amien Rais, bahwa tugas kita berat. Kita harus mencari
gubernur yang bisa diterima berbagai pihak di Aceh. Diterima kaum
intelektual, diterima kaum dayah, diterima anak-anak mahasiswa, dan
diterima LSM. Berat, tapi saya yakin bisa," tegasnya. (
http://www.indomedia.com/serambi/image/990916.htm ).

Nah sekarang, setelah saya membaca komentar Gus Dur diatas, timbul dalam
pikiran saya suatu pertanyaan lain lagi yaitu, benarkah apa yang keluar
dari mulut Gus Dur diatas itu sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya?

Coba kita bayangkan, apabila Gus Dur terpilih jadi Presiden Daulah
Pancasila, kemudian ide referendum untuk orang Aceh dimusyawarahkan di
MPR yang anggotanya didominasi oleh kelompok sekuler GOLKAR dan PDIP
yang mereka tidak mungkin rela dan ikhlas untuk melepaskan Aceh dari
Daulah Pancasila, apalagi untuk membangun Daulah Islam Rasulullah. (
http://www.indomedia.com/serambi/image/990917.htm ).

Itulah kutifan tulisan saya diatas, yang diambil dari tulisan "Aceh akan
menjadi pusat DIR" yang ditulis pada tanggal 17 September 1999, sebelum
Gus Dur terpilih menjadi Presiden Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya
yang sekuler, dan sebelum Amien Rais terpilih menjadi Ketua MPR Daulah
Pancasila.

Sekarang, hari ini, Kamis, tanggal 28 Oktober 1999, kurang lebih satu
bulan lebih, dari waktu Gus Dur mengucapkan kata-katanya diatas yang
menyangkut masalah Aceh. Dimana Gus Dur telah terpilih menjadi Presiden
dan Amien telah terpilih menjadi Ketua MPR.

Nah, yang  menjadi pertanyaan saya kepada Presiden Gus Dur dan Menko
Polkam Jenderal Wiranto adalah,

1. Apakah benar Presiden Gus Dur setuju dengan referendum untuk Aceh ?

2. Apa yang dimaksud Presiden Gus Dur dengan kata-katanya dibawah ini,

"Dari dulu saya kan sudah nyatakan setuju referendum untuk Aceh. Saya
belum pernah berubah dalam hal itu. Artinya itu jalan yang terbaik dan
paling jujur. Tapi kita belajar pengalaman di Timtim. Enggah usah
buru-buru. Karena kalau buru-buru akibatnya bisa buruk, terjadi
pertumpahan darah seperti di Timtim. Jadi mari kita sama-sama, rakyat
harus bisa kita bikin mengerti. Tapi percayalah, hak-hak rakyat Aceh
harus dihormati....Saya yakin melalui  referendum ini, jelas akan
membawa dampak positif bagi Aceh. Kalaupun nantinya hasilnya Aceh
menjadi merdeka, kita harus ikhlas" (
http://www.indomedia.com/serambi/image/990917.htm ).

Tentu saja, sambil menunggu jawaban dari Presiden Gus Dur dan Menko
Polkam Jenderal Wiranto, saya dibawah ini sedikit akan memberikan
gambaran,

Berdasarkan hasil "Keputusan Musyawarah Ulama Dayah se-Aceh tanggal
13-14 September 1999 di Komplek Makam Syiah Kuala Banda Aceh", yang
diantaranya memberikan rekomendasi dan pernyataan sebagai berikut,

1. Setelah mengamati dan memperhatikan aspirasi seluruh masyarakat Aceh
yang berkembang dewasa ini dimana ada yang menghendaki otonomi dan ada
yang menghendaki merdeka maka Musyawarah Ulama Dayah se-Aceh mendesak
pemerintah pusat untuk segera melaksanakan Referendum/Jajak Pendapat di
bawah pengawasan masyarakat internasional sesuai dengan permintaan
mahasiswa/thaliban dan masyarakat Aceh lainnya.

2. Apabila pemerintah pusat tidak menanggapi suara rakyat Aceh dimaksud
maka dikhawatirkan akan terjadi gejolak berkelanjutan yang jauh lebih
besar dari gejolak yang terjadi saat ini.

3. Menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai agar dapat menciptakan
suasana yang kondusif dan menghentikan segala bentuk kekerasan sehingga
tercipta perasaan aman di kalangan masyarakat Aceh. (
http://www.indomedia.com/serambi/image/990917.htm ).

Kemudian sekarang, berdasarkan kepada apa yang telah diputuskan oleh
Musyawarah Ulama Dayah se-Aceh tanggal 13-14 September 1999 tersebut
diatas, dan dengan apa yang telah diucapkan oleh Gus Dur sebelum menjadi
Presiden Daulah Pancasila yaitu: "Dari dulu saya kan sudah nyatakan
setuju referendum untuk Aceh. Saya belum pernah berubah dalam hal
itu...Saya yakin melalui  referendum ini, jelas akan membawa dampak
positif bagi Aceh. Kalaupun nantinya hasilnya Aceh menjadi merdeka, kita
harus ikhlas", maka referendum akan terlaksana apabila,

1. Apa yang dikatakan Gus Dur tersebut diatas dan diperkuat secara legal
dengan menandatanganinya yang disaksikan oleh Ulama Dayah se-Aceh dan
rakyat Aceh.

2. Gus Dur berjanji dihadapan Ulama Dayah se-Aceh dan rakyat Aceh pada
waktu itu bahwa apabila dia terpilih menjadi Presiden Daulah Pancasila
akan membicarakan di MPR/DPR dan menjanjikan referendum kepada rakyat
Aceh.

3. Gus Dur pada waktu itu memang utusan resmi Presiden BJ Habibie yang
ditugaskan untuk menyelesaikan kasus Aceh.

Tetapi, kalau tidak, maka menurut pemikiran saya, apa yang dikatakan Gus
Dur pada saat itu, sebenarnya hanya merupakan kata-kata yang tidak ada
artinya dan tidak mengikat. Sama saja dengan Gus Dur mengatakan saya
akan menolong kamu, kalau saya ada waktu. Artinya, kalau Gus Dur tidak
punya waktu, maka pertolongan Gus Dur tidak akan muncul.

Jadi, disinilah, kegeliatan politik Gus Dur dalam melihat sesuatu
permasalah yang terjadi di Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang
sekuler.

Karena itu, kalau sekarang Presiden Gus Dur mengemukakan pemikirannya,
tidak berarti pemikirannya itu sama sepeerti yang diucapkannya.

Yang paling bijaksana adalah, kalau Presiden Gus Dur mengatakan A, maka
harus ditafsirkan, itu adalah B. Atau dengan kata lain, itu adalah bukan
A.

Nah sekarang, kembali kepada kasus Aceh.

Pernah saya mengajukan usul yang ditulis dalam tulisan "Penyelesaian
Aceh ditinjau dari UUM" yang dipublisir pada tanggal 28 Juli 1999. (
http://www.dataphone.se/~ahmad/990728.htm ). Dimana saya mengemukakan
usul sebagai berikut,

1. Rakyat Aceh disatukan dengan dasar aqidah Islam, bukan berdasarkan
kesukuan atau kebangsaan atau nasionalitas. Menerapkan hukum Islam
secara menyeluruh dengan mencontoh Rasulullah saw dengan Daulah Islam
Rasulullah-nya.

2. Diadakan dialog terbuka antara rakyat Aceh yang diwakili oleh
National Liberation Front of Acheh Sumatra (NLFAS) dibawah Tengku Hasan
di Tiro dan Penguasa Indonesia dibawah Presiden Habibie. (Sekarang di
bawah Presiden Gus Dur).

3. Dalam dialog terbuka tersebut dibicarakan masa depan rakyat Aceh
dengan diberikan hak menentukan nasibnya sendiri dengan pemerintahan
sendiri dalam bentuk daerah otonomi.

4. Kekayaan bumi yang ada di daerah otonomi Aceh dikelola, diatur dan
diolah oleh rakyat Aceh dibawah pengawasan pemerintahan otonomi Aceh.

5. Daerah otonomi Aceh adalah daerah bebas tempat hijrah untuk setiap
muslim.

6. Penggunaan kekerasan senjata harus segera dihentikan dan harus segera
diadakan perundingan langsung antara Penguasa Indonesia dan National
Liberation Front of Acheh Sumatra.

7. Setiap pelaku dan yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan yang
terjadi di Aceh harus diajukan ke meja hijau dengan dijatuhi hukuman
yang setimpal. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/990728.htm ).

Inilah sedikit tanggapan saya untuk Pres Gus Dur dan Menko Polkam
Jenderal Wiranto.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Oct 1999 jam 02:12:20 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke