----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 30 Oktober 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

LAGI JAWABAN UNTUK LOOT
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Masih jawaban untuk saudara Loot ( [EMAIL PROTECTED] ).

Nah sekarang, setelah saya membaca tanggapan yang telah dihasilkan oleh
pikiran saudara Loot terhadap tulisan "Jawaban untuk Loot di
Indonesia-L", maka dibawah ini saya akan menjawab dari sekian jawaban
saudara Loot yang saya anggap paling mendasar, yaitu tanggapannya
terhadap apa yang telah saya tulis, dimana isi tanggapannya adalah:

"AS :
Sebagaimana yang telah saya kemukakan berpuluh kali di forum umum ini
yaitu,
"Memiliki visi membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah
dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap
ridha Allah SWT, dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim
dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang
berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah
dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan menghormati agama lain,
dengan konstitusi yang
bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas,
kebangsaan, kesukuan dan ras."

LN :
Semua kalimat diatas memang indah dan ideal, kecuali setelah memasuki
bagian :"...berdasarkan akidah Islam". "...bersumberkan dari Al Quran
dan .."

Nah, ini kembali ke pertanyaan saya sebelumnya. Kenapa harus berdasarkan
akidah Islam? Kenapa harus bersumberkan dari Al Quran? Kenapa bukan
berdasarkan akidah Buddha, Hindu, Katolik, Kong Hucu? Kenapa bukan dari
Holy Bible, atau Tri Pitaka, atau kitab suci agama lainnya? Bukankah
semua manusia adalah sama dan sederajat?
Bukankah semua agama juga sama mulianya? Bukankah Tuhan itu satu adanya?

Sekali lagi, ITULAH PERTANYAAN SAYA. Mohon DIJAWAB PAKAI OTAK!!! Kalau
tidak bisa dengan otak, lebih baik jangan dijawab!! Dan lebih2 lagi,
jangan pertanyaan saya dilencengkan kesana kemari.

Jika anda bisa memberikan jawaban logis yg memang bisa diterima dengan
akal sehat manusia, mungkin saya akan menjadi sependapat dengan anda".
(Loot,  [INDONESIA-L] LOOT - Lagi utk AHMAD S ,
http://www.indopubs.com/archives ,29 Oktober 1999).

Baiklah saudra Loot.

Saya akan menjawabnya.

Akidah Islam mengajarkan untuk yakin kepada Tuhan dan menghormati agama
lain. Penganut agama lain. Tidak ada paksaan untuk menjadi penganut
Islam. Agama kamu untuk kamu agama kami untuk kami. Menjunjung tinggi
keadilan, amanah, tanpa memandang orang, suku, rasa, bangsa dan
nasionalitas. Membangun masyarakat dengan tali persaudaraan dan tolerasi
terhadap agama lain.

Nah, itulah dasar yang ada dalam aqidah Islam.

Apakah dengan mengajukan konsepsi yang diambil dari aqidah Islam yaitu
menghormati agama lain, penganut agama lain, tidak ada paksaan untuk
menjadi penganut Islam, Agama kamu untuk kamu agama kami untuk kami,
menjunjung tinggi keadilan, amanah, tanpa memandang orang, suku, rasa,
bangsa dan nasionalitas, membangun masyarakat dengan tali persaudaraan
dan tolerasi terhadap agama lain, merupakan suatu hal yang dianggap
bertentangan ?

Dan mengapa itu bersumberkan dari Al Quran? Karena, memang sumber aqidah
Islam itu adalah dari Al Quran.

Karena itu, saya sudah beberapa kali mengajak, mari, kalau saudara punya
konsep, pikiran, idea, yang menyangkut masalah pemerintahan, negara,
hukum yang bersumber dari "akidah Buddha, Hindu, Katolik, Kong Hucu,
Holy Bible, atau Tri Pitaka, atau kitab suci agama lainnya", untuk kita
bicarakan bersama-sama.

Saya tidak menutup, silahkan apa saja konsepsi, idea, pikiran yang
menurut saudara baik untuk menunjang kebaikan manusia, kita bicarakan
bersama dengan hati dan pikiran yang jernih dan terbuka.

Nah, tentu saja, apabila dari hasil diskusi, tukar pikiran pembicaraan,
tidak menghasilkan sesuatu yang menjurus kepada kesamaan, maka disaat
itulah kita harus menentukan sikap, yaitu kita berpisah. Silahkan jalan
menurut jalan yang dianggap baik menurut pikiran, idea, konsep saudara.
Sayapun berjalan menurut  pikiran, idea, konsep saya. Silahkan jalankan
agama kamu untuk kamu, agama kami untuk kami. Ideologi kamu untuk kamu,
ideologi kami untuk kami. Kepercayaan kamu untuk kamu, kepercayaan kami
untuk kami.

Tentu saja, walaupun kita berbeda dalam pemikiran, pandangan, konsep,
idea, tidak berarti kita menjadi musuh satu dengan yang lain. Karena
kalau itu (permusuhan) yang dihasilkan, maka sebenarnya kita masih
berada ditingkat pemikiran yang paling bawah dengan hati yang tertutup.

Inilah sedikit jawaban saya untuk saudara Loot ( [EMAIL PROTECTED]
).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 31 Oct 1999 jam 08:33:33 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke