---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Republika, 27 Oktober 1999 Presiden: Pembunuhan di Aceh Bukan oleh TNI JAKARTA -- Presiden KH Abdurrahman Wahid menegaskan bahwa pembunuhan yang sering terjadi di wilayah Aceh terhadap warga, bukan dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mereka hanyalah oleh orang-orang yang berbaju TNI. ''Saya perlu sampaikan kepada Anda bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di Aceh itu sebenarnya tidak dilakukan oleh TNI. Tetapi oleh orang-orang yang berbaju TNI,'' tandas Kepala Negara dalam acara silaturahmi dengan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Wisma Negara Jakarta, Selasa (26/10) siang. Presiden yang akrab dipanggil Gus Dur itu mengatakan bahwa pernyataannya itu serius. ''Saya tidak main-main. Karena ada laporan dari teman-teman saya, anak-anak LSM yang telepon kepada saya tiap pagi,'' ujarnya. Dicontohkan, di Tapak Tuan ada sekelompok orang berbaju militer, menyetop wanita-wanita yang memakai jilbab. Kemudian jilbabnya dicopot dan rambutnya dipotong. Ketika mereka melakukan hal itu, tersingkap lengan bajunya dan tampak lengannya bertato. ''Tidak ada militer bertato,'' tutur Presiden. Tindakan tersebut, tandas Gus Dur yang kemarin mengenakan baju batik lengan panjang, dimaksudkan untuk menunjukkan nama buruk TNI. ''Mereka ingin mengadu domba antara ABRI dengan rakyat, antara TNI dengan rakyat. Ini kita harus berhati-hati, bukan karena TNI itu sendiri malaikat, betul semua, tidak. Tapi kesalahan mereka juga tidak seperti yang disangka masyarakat,'' tutur Gus Dur. Menurut Gus Dur, kedua-duanya harus kita pelihara, baik TNI-nya maupun masyarakatnya. Ditegaskannya, TNI digunakan untuk mempertahankan masyarakat, untuk membela masyarakat. Masyarakat itu ada atau terwujud karena untuk melindungi TNI. ''Jadi dua- duanya harus saling melindungi dan mendukung. Itu yang menjadi inti,'' tambahnya. Gus Dur menjelaskan terjadinya berbagai masalah di Aceh yang terus berlarut-larut, sebenarnya ada miskomunikasi atau tidak adanya komunikasi di antara empat jenis kepemimpinan, yaitu para teuku, para birokrat, para ulama pesantren, serta LSM dan mahasiswa. Kalau itu sudah diperbaiki, kata Kepala Negara lebih lanjut, maka dengan sendirinya yang lain-lainnya baru ada artinya. Jadi penyetopan ini-itu perbaikan semua tergantung kepada hubungan antara keempat unsur kemasyarakatan di atas. Untuk itu, Gus Dur mengusulkan kepada salah seorang aktivis LSM yang kini menjadi menteri, Erna Witoelar, yang memiliki hubungan yang cukup luas di Aceh, untuk segera mengorganisir pertemuan di Aceh antara 10 orang birokrat, 10 orang pengasuh pesantren, 10 orang mahasiswa, dan 10 orang LSM. ''Insya Allah dari pertemuan itu entah sehari, entah dua hari, entah tiga hari, itu akan muncul policy bersama untuk mengatasi masalah Aceh,'' tegasnya. Gus Dur menegaskan pemerintah tidak punya pretensi akan dapat mengatasi masalah Aceh, kalau Aceh sendiri tidak mau mengatasi masalahnya, ini yang pokok. ''Karena pemerintah itu sifatnya tut wuri handayani, yaa mendorong dari belakang, tidak langsung memimpin di depan, sikap kita sebagai pemerintah sudah berubah sekarang, tidak memimpin lagi tapi mendorong dari belakang.'' Tapi pembelaan Gus Dur terhadap TNI mendapat tentangan keras dari anggota MPR asal Aceh, Ghazali Abbas Adan. Gus Dur, katanya, jangan mudah percaya laporan bawahannya. ''Kalau kurang yakin, mari datang bersama saya ke Aceh. Siapa yang menembak dan menculik rakyat. Siapa yang membakar rumah dan menyiksa di kamp militer, rumah gedung dan rancong di Aceh Utara,'' katanya saat dihubungi Republika tadi malam. Beberapa insiden terakhir di Aceh, papar Ghazali, seperti insiden di simpang KKA (Kertas Kraf Aceh), insiden Krueng Geukuh yang menewaskan 43 orang, dan penggerebekan di Pesantren Bantaqiah yang menewaskan 33 orang; semuanya melibatkan aparat kemananan. ''Ini jelas terjadi. Bahkan saat penyerbuan ke Pesantren Bantaqiah, diakui Danremnya sendiri.'' Ghazali menyesalkan pernyataan Gus Dur ini. Ia menjelaskan ketika Gus Dur mengunjungi Aceh untuk kedua kalinya, ia sebenarnya sudah mulai bisa menarik simpati rakyat di sana. ''Dengan pernyataan ini, Gus Dur sudah mulai macam-macam. Jika ini terjadi, rakyat Aceh bisa kembali tidak simpati kepadanya. Ini tidak kondusif dan akan membuat keadaan semakin ruwet,'' tandasnya. Selain itu, ia juga mengharapkan Presiden KH Abdurahman Wahid segera memenuhi janji-janji yang telah diucapkan kepada masyarakat Aceh. Gus Dur didampingi Amien Rais, Matori Abdul Djalil, Mochtar Azis, dan Nurmahmudi Ismail, urai Ghazali, beberapa bulan lalu telah mengunjungi Aceh. Ia, tambahnya, bahkan membuka selubung peresmian pertemuan ulama se-Aceh (dayah). ''Saat itu, Gus Dur mengatakan mendukung suara referendum yang dituntut para ulama dayah. Jadi, silakan Gus Dur berbulan madu selama tiga bulan. Setelah itu segera selesaikan konflik Aceh. Jika belum selesai juga, rakyat Aceh akan kembali ke komitmen awal,'' tandas pria kelahiran Pidie di Gedung MPR kemarin. Tuntutan masyarakat Aceh saat ini, ungkap Ghazali, masih belum dipenuhi oleh pemerintah, yakni perlakuan yang adil terhadap oknum-oknum yang telah melakukan pelanggaran HAM di Aceh baik semasa DOM atau sesudahnya. Sampai saat ini, Ghazali melihat belum ada pelaku yang diadili. ''Kita lihat komitmen Presiden Abdurrahman Wahid mendatang di lapangan. Jangan hanya ngomong dalam konsep. Kalau ia tidak mampu, mundur saja sebagai presiden. Itu lebih konkret,'' tukasnya.(dam/ris/pri) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 1 Nov 1999 jam 02:06:08 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
