---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] Stockholm, 3 Nopember 1999 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. DIR ADALAH KONSEKUENSI LOGIS Ahmad Sudirman XaarJet Stockholm - SWEDIA. Tanggapan untuk saudara Chairul Nurdin. Masuk akal seperti yang dikatakan oleh saudara Chairul Nurdin dalam isi tanggapannya terhadap tulisan "Membangun kembali DIR" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991102.htm ) yang disampaikan langsung kepada saya tanggal 2 Nopember 1999, dimana saudara Nurdin menyatakan bahwa, "Daulah Islam adalah konsekuensi logis dari masyarakat yang terdiri dari warga yang muslim/mukmin" (Chairul Nurdin, 2 Nopember 1999). Dalam tulisan-tulisan saya yang lalu, telah dinyatakan bahwa Daulah Islam Rasulullah yang berdasar aqidah Islam dengan menghormati agama lain dengan konstitusinya yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah adalah bukan tujuan. Karena tujuan adalah untuk beribadah, bertaqwa dan mencari ridha Allah. DAULAH ISLAM RASULULLAH ADALAH ALAT DAN SARANA Jadi Daulah Islam Rasulullah merupakan alat dan sarana dalam rangka menerapkan, melaksanakan dan mengawasi hukum-hukum Allah SWT yang telah difirmankan melalui Rasul-Nya Muhammad saw, yang juga sekaligus merupakan suatu alat dan sarana kekuatan politik Islam untuk menghadapi kekuatan politik yang dilancarkan oleh Walid bin Mughirah dari Daulah Quraisy yang anti Tuhan. Dan ini memang sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT kepada Rasul-Nya dan ummat-Nya untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimannya, menetapkan dan malaksanakan hukum secara adil, mentaati Allah, Rasul dan Ulil Amri serta jika ada perbedaan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), sebagaimana yang tercantum dalam An Nisa ayat 58 dan ayat 59. Jadi secara logika bahwa tidaklah mungkin bisa menerapkan, melaksanakan dan mengawasi hukum-hukum Allah SWT yang telah difirmankan melalui Rasul-Nya Muhammad saw tanpa adanya daulah yaitu suatu negara yang mempunyai wilayah, rakyat dan pemerintahan. Memang masuk akal mengapa Daulah Islam Rasulullah dibangun oleh Rasulullah dengan konstitusinya yang disebut Undang Undang Madinah, yang merupakan hasil perjanjian pertahanan bersama antara kaum Muhajirin, Anshar dan kaum Yahudi yang tinggal di Yatsrib, karena memang dengan berdirinya Daulah Islam Rasulullah adalah merupakan benteng tempat perlawanan politik terhadap pengaruh politik yang dijalankan oleh Daulah Quraisy yang berfaham anti Tuhan, yang dipimpin oleh Walid bin Mughirah. Tanpa adanya kekuatan politik yang dilindungi oleh Daulah Islam Rasulullah, maka kekuatan kaum muslimin tidaklah mungkin bisa disatukan dan mampu menghadapi kekuatan pengaruh politik yang disebarkan oleh Daulah Quraisy yang dasarnya anti Tuhan. Jadi disini Rasulullah disamping sebagai seorang Nabi dan Rasul adalah juga sebagai seorang negawaran yang agung dan ulung yang telah mampu menyusun kekuatan politik Islam menghadapi kekuatan politik yang dilancarkan oleh pihak rezim Walid bin Mughirah dari Daulah Quraisy yang anti Tuhan. BUKAN HANYA MASYARAKAT MUSLIM YANG ISLAMI Karena itu, kalau ada yang beralasan bahwa Islam, kaum muslimin yang ada di Yatsrib adalah hanya merupakan suatu masyarakat yang mempunyai tata cara hidup yang Islami adalah tidak benar, karena tidaklah mungkin suatu masyarakat muslim walaupun dibawah Rasulullah saw, mampu menghadapi kekuatan kaum Quraisy dan kaum sekutunya dan kaum Romawi yang memiliki kekuatan militer dibawah suatu kerajaan Romawi yang kuat tanpa memiliki kekuatan politik yang ditunjang oleh suatu tatanan lengkap kenegaraan dan pemerintahan. Bisa dibayangkan, kalau waktu itu hanyalah sekedar satu organisasi atau jamaah muslim yang biasa, seperti jamaah atau organisasi muslim di Indonesia sekarang, mana sanggup menghadapi kekuatan raksasa Daulah Quraisy dan Kerajaan Romawi. Jadi, tidaklah masuk akal, kalau ada yang beranggapan bahwa Rasulullah dalam membina, mempertahankan aqidah Islam dengan menghormati agama lain, kaum muslimin dan non muslim tanpa dilindungi dalam suatu Daulah yang melingkupi rakyat, daerah dan pemerintahan dan mampu menghadapi dan bertahan dari serangan yang dilancarkan oleh pihak yang memusuhi kaum muslimin dan aqidah Islam. Memang, yang pertama dibangun oleh Rasulullah adalah pondasi dari ummat, yaitu aqidah Islam, yang lahir dari lailahaillAllah, MuhammadarRasulullah, selama hampir tiga belas tahun dalam tekanan dan pengaruh politik kekuasaan Daulah Quraisy yang anti Tuhan. HIJRAH MERUPAKAN LANGKAH KONFRONTASI POLITIK LANGSUNG Setelah waktunya tiba, dimana kekuatan kaum muslimin di bawah Rasulullah telah matang dan solid, maka datanglah perintah hijrah, sebagai suatu langkah politik untuk menghadapi kekuatan politik Daulah Quraisy. Karena tidaklah mungkin kekuatan politik dan kekuasaan Walid bin Mughirah dari Daulah Quraisy dihancurkan dari dalam, yaitu melalui perjuangan politik dimana Rasulullah terlibat didalam kekuatan dan kekuasaan politik Walid bin Mughirah. Nah, justru untuk menghancurkan pengaruh politik dan kekuasaan Walid dari Daulah Quraisy itu bukan dengan cara menghancurkan dari dalam, melainkan melalui jalan konfrontasi politik langsung, yaitu melalui konfrontasi ideologi yang terbuka yang ditunjang oleh alat dan sarana daulah sebagai alat dan tempat untuk memberikan perlindungan ummat dan untuk mempertahankan aqidah. Ternyata, memang benar bahwa, perjuangan politk Rasulullah yang konfrontasi melawan pengaruh kekuasaan politik Walid akhirnya berhasil. Inilah sebenarnya langkah-langkah Rasulullah saw yang telah dicontohkan kepada ummatnya untuk membina aqidah dan persatuan ummah seluruhnya. Perjuangan melawan suatu ideologi, faham, aliran yang ada dalam suatu daulah, tidak bisa dilakukan dengan melalui perjuangan dari dalam, melainkan harus langsung berhadapan dari luar. PENERAPAN DI DAULAH PANCASILA Nah sekarang, penerapannya di Daulah Pancasila dengan Kabinet Gus Dur-Mega-nya, kaum muslimin harus mampu memberikan tantangan dan jalan pemecahannya yang didasarkan kepada Islam, bahwa ideologi, faham, aliran yang dipakai oleh Gus Dur-mega, seperti nasionalisme-kebangsaan dan pancasila adalah harus dilawan dengan argumentasi dan dasar yang kuat berdasarkan garis-garis aqidah Islam. Karena itu, saya sekali lagi melalui tulisan ini mengajak kepada Gus Dur, Amien, Mega, Akbar dan tokoh-tokoh elit politik di Daulah Pancasila yang masih mempertahankan nasionalisme-kebangsaan-pancasila untuk berdialog, berdiskusi dan berdebat dengan hati yang bersih dan pikiran yang terbuka, saya siap menghadapinya kapan saja. Inilah sedikit tanggapan saya untuk saudara Chairul Nurdin. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Nov 1999 jam 22:03:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
