----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 31 Oktober 1999

Digertak Amien Nyali AS Ciut

Jakarta, Rakyat Merdeka
Intervensi Dubes AS terhadap Menkeu Bambang Sudibyo ternyata
berbuntut panjang. Direktur CBC (Centre Banking for Crisis) Deni
Danuri memperkirakan, motif tindakan Dubes AS Robert S Gelbard
menekan Bambang Sudibyo karena ingin mengamankan posisi kedua
konsultan asing BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), yaitu
Lehman Brothers dan Goldman Sacht.

Tindakan intervensi itu, lanjutnya, menjadi pertanda bahwa
kehadiran pemerintahan baru ternyata telah membuat nyali pihak AS
ciut. Mereka juga ciut setelah Amien Rais bicara.

"Sebenarnya ada sesuatu di balik keinginan Dubes AS bertemu Menkeu
Bambang Sudibyo. Amerika takut, kalau Glenn Yusuf diganti, maka
perusahaan-perusahaan mereka akan kehilangan pekerjaan," katanya
di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya diberitakan, pada Kamis sore (28/10) sekitar pukul
16.00-17.00 WIB di Kantor MTI (Masyarakat Transparansi Indonesia
Graha Niaga, Jakarta telah berlangsung pertemuan antara Bambang
Sudibyo dengan Dubes AS Robert Gelbard. Pertemuan berujung pada
kekecewaan di pihak Menkeu. Bambang kesal karena diminta untuk
tidak memecat Kepala BPPN Glenn Yusuf.

Ketua MPR Amien Rais juga menyatakan kekecewaannya atas sikap Duat
Besar AS di Indonesia yang ingin mencampuri urusan pembentukan
anggota kabinet. Amien menilai tindakan Dubes AS itu tidak etis,
menjurus intervensi dan menghina. Amien minta Dubes AS tersebut
dikembalikan saja ke negaranya.

"Dia telah menekann Menkeu Bambang Sudibyo agar tidak mengganti
seseorang. Tindakan yang tidak etis sama sekali," katanya. (Rakyat
Merdeka 30/10)

Deni Danuri kemudian mengatakan, di BPPN ada dua konsultan asing
terbesar, yakni Lehman Brothers dan Goldman Sacht. Mereka ini
dibayar mahal oleh BPPN. Ada indikasi kuat bahwa kedua konsultan
yang mendapat fee jutaan dolar AS, yang dananya diambil dari APBN
itu diduga kuat "memakai" Dubes AS untuk mengamankan kepentingan
mereka.

"Kalau Glenn Yusuf diganti, mereka khawatir tidak mendapat
pekerjaan lagi. Ada interest tertentu, karena mereka memang
bergantung pada Glenn," katanya.

Deni menyayangkan sikap Kepala BPPN Glenn Yusuf yang sudah
memberikan sinyal bahwa dirinya akan diganti, padahal saat itu
Menkeu belum dilantik. Dia juga menyayangkan mengapa Glenn Yusuf
melibatkan Dubes AS dalam masalah ini.

Lebih jauh, Deni menceritakan kronologi pertemuan tersebut.
"Menkeu diajak oleh Alwi Shihab bertemu Mar'ie Muhammad di MTI.
Ternyata di sana sudah ada Dubes AS. Lalu Dubes AS itu meminta
agar Menkeu tidak mengganti Glenn Yusuf," ujarnya seraya
mengatakan memperoleh bocoran itu dari seseorang.

Menurut Deni, tekanan itu membuat kesal Bambang Sudibyo, sehingga
masalahnya lalu dilaporkan kepada Ketua MPR Amien Rais.

"Ancaman Amerika bahwa pasar akan rusak, adalah tekanan. Dengan
dalih pasar negatif, Amerika ingin memainkan peranannya di sini.
Dengan dalih itu pula, Menkeu ditekan supaya tidak menggantikan
posisi seseorang. Ini hal-hal yang harus diantisipasi, karena
setelah pertarungan politik mulai aman, kita perlu menjaga ekonomi
yang semakin baik," katanya.

"Seharusnya Glenn Yusuf juga tidak perlu takut. Tak perlu
melakukan penyelamatan diri dengan mengatakan akan diganti. Kalau
memang kredibel dan baik tentu akan dipertahankan. Jangan dibuat
menjadi trauma politik seolah-olah akan diganti. Saya mohon kepada
seluruh pejabat jangan takut akan trauma politik," tandasnya.

Deni juga berharap Menkeu Bambang Sudibyo dan Menko Ekuin Kwik
Kian Gie lebih punya nyali dalam menghadapi nyali AS yang kini
sudah menciut itu.

Konjen Dijaga

Sementara itu dari Surabaya dilaporkan, Konjen (Konsulat Jenderal)
AS yang ada di kota ini dijaga ketat aparat keamanan dan di
depannya dipasang kawat berduri.

Aparat kepolisian yang menjaga Konjen AS yang berada di Jalan dr
Soetomo itu, jumlahnya puluhan dan datang dengan menumpang dua
Kijang dan satu truk. Mereka siap siaga di sekitar Konjen. Sedang
beberapa pekerja terlihat berada di dalam gedung untuk memasang
kawat berduri.

Entah untuk apa pengamanan ekstra ketat itu. Sebab pagar Konjen
sendiri sebetulnya sudah cukup untuk mengamankan bangunan
tersebut. Tinggi pagar mencapai empat meter dan ujungnya pun
runcing. Sedang kawat berduri tingginya 50 sentimeter.

Menurut staf Konjen, antisipasi itu dilakukan untuk menghadapi
kemungkinan 'serangan' pengunjuk rasa. Demonstrasi itu menurutnya,
diperkirakan bakal datang menyusul adanya protes dari Amien Rais.
(BY)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Nov 1999 jam 08:12:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke