----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 31 Oktober 1999

Cegah Upaya Pengepungan Istana

Jakarta, Rakyat Merdeka
Inilah warning bagi orang-orang parpol. Menurut Pengamat politik
Arbi Sanit, kalau orang-orang partai sampai masuk ke birokrasi,
sehingga menguasai jabatan-jabatan strategi seperti Sekjen, dirjen
dan irjen, maka itu merupakan pengkhianatan terhadap netralitas
birokrasi.

Dengan demikian, lanjutnya, harus dicegah masuknya orang-orang
parpol ke jabatan-jabatan penting itu. Sebab jika tidak, sistem
birokrasi yang sudah dibangun dengan susah payah akan berantakan
kembali.

"Kita harus awasi orang-orang partai jangan sampai membawa
gerbongnya menguasai jabatan-jabatan strategis di birokrasi.
Jangan biarkan mereka merusak tatanan birokrasi," ujarnya di
Jakarta, kemarin sedang harap-harap cemas dengan kinerja kabinet
Gus Dur-Mega, sejumlah tokoh parpol justru sibuk menyusun daftar
nama-nama konconya yang akan ditempatkan sebagai sekjen, dirjen
atau jabatan strategis lainnya.

"Harapan mereka dengan menyusun daftar itu tak lain supaya kuku-
kuku kekuasaan bisa tertancap lebih dalam lagi," katanya.

Dia juga mengaku sangat khawatir kalau upaya orang-orang parpol
itu tidak segera diantisipasi. Mengapa? "Karena yang ada di benak
mereka hanya satu kata, yakni kekuasaan. Jelasnya, bagaimana cara
melanggengkan kekuasaan," tandasnya.

Ditambahkan, untuk melanggengkan kekuasaan, mereka mungkin tidak
akan segan-segan "mengepung istana". Caranya, lanjut Arbi, ya
dengan menempatkan orang-orang kepercayaan mengelilingi Gus Dur
dan Mega, sehingga tidak ada kesempatan bagi orang luar untuk
mendekati pusat kekuasaan.

Menurutnya, strategi mengepung istana ini sudah pernah diterapkan
oleh tokoh-tokoh parpol di masa Orde Baru. Arbi berharap dengan
munculnya era reformasi hal seperti itu tidak terulang kembali.

Ditanya apakah dirinya sudah mencium praktek-praktek Orde Baru itu
diterapkan lagi oleh parpol-parpol, Arbi mengaku sejauh ini belum
terasa. "Tapi dari bau-baunya saya kira bisa terulang," katanya
berdiplomasi.

Penghianatan

Arbi Sanit kemudian mengatakan, sikap kewaspadaan terhadap
kemungkinan masukya orang parpol ke dalam birokrasi menjadi
relevan karena kabinet Gus Dur-Mega notabene lahir dari sebuah
hasil kompromi.

"Saya bisa mentolerir jika kompromi yang dilakukan itu tetap
menghargai prinsip-prinsip yang sudah ada. Tetapi saya tidak bisa
mentolerir jika kompromi justru menafikan prinsif," tuturnya.

Paling tidak ada empat kompromi yang dinilai Arbi tidak tepat,
karena mengabaikan prinsip-prinsip mendasar. Pertama, jika
kompromi itu mengkhianati reformasi. Misalnya, memasukkan orang-
orang Orde Baru.

Kedua, jika kompromi itu mengkhianati demokrasi. Misalnya, tidak
adanya parpol yang rela menjadi oposisi. "Demokrasi kita kan
terancam kalau tidak ada oposisi," katanya.

Ketiga, adalah jika kompromi itu mengkhianati prinsip efisiensi
dan terakhir jika kompromi itu mengkhianati prinsif netralitas
birokrasi.

Menurutnya, birokrasi harus bebas dari orang-orang partai.
Siapapun tidak boleh melanggar prinsip itu.

Pokoknya masalah ini tidak boleh dikompromikan. "Boleh saja
persatuan diutamakan, tapi perkoncoan tetap tidak boleh
diterapkan, karena hal-hal yang prinsip bisa terlantar," tegasnya.

Arbi menyebutkan, akan terjadi tabrakan kalau kompromi terus
dipakai, apalagi kalau diterapkan untuk penentuan jabatan
setingkat sekjen ke bawah.

"Sebab kita akan terjerumus kembali kepada politisasi birokrasi.
Kita tidak boleh melanggar netralitas. Jabatan sekjen ke bawah
harus diisi orang-orang profesional yang telah meniti kariernya
dari bawah," katanya. (BY)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Nov 1999 jam 08:12:03 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke