----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 31 Oktober 1999

Soal Profesionalisme Mentamben
Soebroto: Jangan Berprasangka Dulu

Jakarta, Rakyat Merdeka

Bekas Menteri Pertambangan Prof Dr Soebroto, menepis anggapan
orang bahwa Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono tidak tepat jadi
Mentamben karena kurang profesional. "Belum tentu orang yang tidak
profesional tidak bisa mengerjakan tugasnya dengan baik," kata
Soebroto.

"Anggapan orang bahwa Mentamben kita kurang profesional, kita
jangan mempunyai praduga dan prasangka dulu. Yang penting, kita
beri kesempatan dan kita bantu," katanya lagi.

Pernyataan Soebroto disampaikan seusai memimpin Dies Natalis
Universitas Pancasila di JHCC Jakarta, kemarin.

Soebroto juga mengemukakan ide perlu adanya pembagian kerja yang
jelas antara Deptamben dan Kementerian Eksplorasi Kelautan. "Untuk
eksplorasi minyak di laut, tugas ini sebaiknya dibebankan kepada
Deptamben atau Menteri Negara Eksplorasi Kelautan. Tapi menurut
saya, Deptamben tetap mengurusi minyak yang ada meskipun ada di
laut," katanya.

Alasannya, "Karena proses eksplorasi antara yang onshore (darat)
dan offshore (laut) itu sudah merupakan satu kesatuan.
Jadi jangan lalu onshore kepada Mentamben dan offshore pada
Menteri Eksplorasi Laut. Nanti kita repot," sambungnya.

Ketika ditanya soal RUU Migas, Soebroto mengajukan kesetujuannya
agar RUU itu digolkan. "Saya setuju karena pertama, RUU itu
menyiapkan industri minyak kita menuju abad 21 yang penuh
persaingan. Kedua, RUU itu harus mendewasakan Pertamina sehingga
bisa berdiri sebagai perusahaan yang mampu bersaing dengan luar.
Ketiga, perlu memberi kesempatan pada produsen minyak lain dan
tidak perlu ada monopoi di Pertamina," ujar Soebroto.

Cadangan Minyak

Lebih lanjut mantan menteri yang suka mengenakan dasi kupu-kupu
ini menyatakan, tantangan yang akan dihadapi oleh Deptamben pada
masa mendatang cukup berat.

Pasalnya, cadangan minyak yang dimiliki saat ini yang terbukti
adalah 10 miliar barel. Sedangkan kalau dihitung produksi minyak
dan gas dalam sehari adalah 1,5 juta barel. Berdarti dalam
setahunnya, Indonesia memproduksi sekitar 550 miliar barel.

"Jadi dalam 18 tahun kita sudah kehabisan minyak. Tapi kita masih
menduga, ada cadangan yang belum diketahui. Tapi letaknya di
Indonesia Timur. Dengan begitu, ongkos eksplorasi menjadi lebih
tinggi," ujar Soebroto.

Menurut dia, kalau cadangan minyak baru tidak segera ditemukan,
maka Indonesia akan mengimpor minyak pada 18 tahun mendatang.
"Kalau kita tidak menemukan cadangan baru, satu-satunya cara ya
impor," kata Soebroto yang pernah dituduh menunggangi aksi massa
menolak RUU PKB ini.

"Padahal perkiraannya, harga minyak periode mendatang akan
meningkat. Jadi kalau kita tak giat mencari minyak baru, akan
terpukul dua kali. Pertama, kita tak bisa mengeksppor minyak,
kedua kita mengimpor minyak dengan harga yang mahal," paparnya.

Soebroto juga membeberkan tugas-tugas yang perlu dilakukan
Deptamben. "Tugas utama yang harus diemban oleh Deptamben adalah
satu, menggiatkan eksplorasi supaya kita tetap menjadi eksportir
minyak. Kedua, kita mencoba membuat iklim yang baik di dalam
negeri supaya usaha perminyakan dan pertambangan bisa lestari."

"Ketiga, membuat perusahaan minyak kita lebih efisien dalam arti
tidak perlu melalui birokrasi yang berbelit-belit. Sebab birokrasi
itu perlu cost yang tinggi. Kita bisa memperpendek rantai dan bila
perlu menguranginya," demikian Soebroto.(DTC)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Nov 1999 jam 08:12:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke