----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 5 Nopember 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SEKULARISME SUBUR DI DAULAH PANCASILA
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk mereka yang mempertahankan sekularisme.

Islam menghormati agama lain, agama kamu untuk kamu, agama kami untuk
kami, dan tidak ada paksaan dalam Islam.

Nah tulisan kali ini, saya akan teruskan dengan masalah sekularisme,
yaitu suatu paham yang menjadikan standar etik dan moral bukan kepada
Agama. Dimana tulisan sekularis yang lalu "Sekularisme adalah racun" (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991026a.htm ) dan tulisan "Masih
sekularisme adalah racun" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991027a.htm
).

PUPUK-PUPUK YANG BISA MENYUBURKAN SEKULARISME

Semua pupuk yang berisikan nilai-nilai, kaedah-kaedah yang bukan
bersumberkan dari apa yang telah diturunkan Tuhan, artinya bukan
bersumberkan dari agama, atau kalau menurut Islam bukan bersumberkan
dari apa yang ada dalam Al Quran dan Sunnah bisa menyuburkan pertumbuhan
sekularisme.

Apakah pancasila yang merupakan hasil pemikiran Panitia Sembilan
(Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar
Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin) bukan
berdasarkan dari agama?

Jawabnya, betul.

Pancasila adalah merupakan falsafah negara yang sumber asalnya adalah
pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPK (Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) atau Dokuritzu Zunbi
Cosakai yang terdiri dari 62 anggota dengan ketuanya Dr Rajiman
Widiodiningrat dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo
seorang jenderal Angkatan Darat Jepang, yang kemudian pidato Sokearno
itu dirumuskan oleh Panitia Sembilan. Dimana dari hasil rumusan Panitia
Sembilan ini lahirlah Piagam Jakarta yang berisikan rumusan pancasila,
yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan dengan menjalankan Syar'at Islam
bagi para pemeluknya. Yang ternyata tujuh kata yang terakhir "dengan
menjalankan Syar'at Islam bagi para pemeluknya" diganti dengan kata tiga
kata yaitu, "yang maha esa".

JAWABAN ISLAM  TERHADAP PAHAM YANG BUKAN AGAMA

Nah, seperti saya katakan diatas, Islam menghormati agama lain. Sekarang
timbul satu pertanyaan, bagaimana terhadap paham-paham,
ideologi-ideologi yang bukan agama, apakah Islam tidak menghormatinya?

Jawabnya adalah, Islam mengajak kepada mereka yang memiliki paham-paham
tersebut untuk menuju kejalan yang telah ditunjukkan oleh Sang Pencipta
alam raya termasuk segala isinya yaitu, Allah SWT, dimana manusia adalah
salah satu hasil ciptaan-Nya, melalui dialog, diskusi. Tetapi, kalau
ternyata tidak mencapai jalan kesepakatan dari hasil diskusi dan dialog
tersebut, maka pada saat itulah harus diambil satu langkah perpisahan,
bukan langkah permusuhan, dengan masing-masing memberikan pesan,
silahkan kalian jalan menurut paham kalian, dan kamipun berjalan
berdasarkan  keyakinan kami, kalian jangan ganggu kami, dan kamipun
tidak akan ganggu kalian.

Itulah jawaban Islam terhadap mereka yang mempunyai paham-paham,
ideologi-ideologi yang bukan agama.

DIBICARAKAN PANCASILA DAN SEKULARISME

Nah sekarang, karena pancasila merupakan falsafah negara hasil rumusan
Panitia sembilan, walaupun tujuh katanya dari sila pertamanya telah
digantikan dengan yang tiga kata yaitu yang maha esa, tetapi tetap saja
pancasila adalah bukan agama.

Karena itu hanyalah merupakan penjabaran dari nilai-nilai umum yang
telah ada, bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga ada disetiap
negara-negara lain, seperti persatuan, kebangsaan, kemanusiaan,
kesejahteraan, keadilan, musyawarah.

Jadi, selama apa yang dikandung dalam sila-sila pancasila bukan
merupakan nilai-nilai yang berdasarkan dari sumber agama (misalnya Islam
bersumberkan dari aqidah Islam), maka pancasila tetap merupakan suatu
paham atau falsafah yang justru sebanarnya merupakan pupuk yang subur
bagi pertumbuhan sekularisme.

Karena sekularisme akan tumbuh dengan pesat dan subur, apabila pupuknya
adalah paham-paham, ideologi-ideologi yang tidak bersumberkan dari
nilai-nilai, kaedah-kaedah agama.

MENDISKUSIKAN PUPUK-PUPUK SEKULARISME

Sekarang kalau Daulah Pancasila masih tetap mendasakan negaranya kepada
pancasila, maka selama itu tumbuh suburlah sekularisme di Indonesia
tanpa disadari.

Apabila hal ini tidak disadari dari sekarang, maka usaha untuk membina
dan membangun masyarakat berdasarkan nilai-nilai yang datangnya dari
sumber aqidah (dalam Islam, dinamakan aqidah Islam) akan mengalami
benturan dan benteng tinggi sekularisme.

Nah pemecahan dan jalan keluarnya adalah dari mulai detik ini kaum
muslimin yang menyadari akan bahaya sekularisme, harus siap dan mampu
angkat suara untuk bersama-sama dengan yang lainnya menyuarakan sikap
tegas melalui cara dialog, diskusi dan debat menampilkan bahwa
sekularisme adalah racun, dimana pancasila merupakan pupuk yang subur
bagi pertumbuhan paham sekularisme di Indonesia.

Melalui tulisan ini juga saya langsung saja mengajak kepada mereka yang
masih mau mempertahankan sekularisme untuk angkat bicara dan berdialog
dan diskusi dengan saya langsung kapan saja.

Bukan hanya masalah sekularisme tetapi juga mendiskusikan semua pupuk
yang bisa menyuburkan sekularisme, seperti pancasila, nasionalisme,
kebangsaan.

KESIMPULAN

Semua pupuk yang berisikan nilai-nilai, kaedah-kaedah yang bukan
bersumberkan dari apa yang telah diturunkan Tuhan, artinya bukan
bersumberkan dari agama, atau kalau menurut Islam bukan bersumberkan
dari apa yang ada dalam Al Quran dan Sunnah bisa menyuburkan pertumbuhan
sekularisme.

Islam menghormati agama lain. Tetapi siap mendiskusikan, berdialog dan
berdebat dengan mereka yang mempertahankan paham-paham,
ideologi-ideologi yang bukan agama.

Selama apa yang dikandung dalam sila-sila pancasila bukan merupakan
nilai-nilai yang berdasarkan dari sumber agama (misalnya Islam
bersumberkan dari aqidah Islam), maka pancasila tetap merupakan suatu
paham atau falsafah yang justru sebanarnya merupakan pupuk yang subur
bagi pertumbuhan sekularisme.

Kaum muslimin yang menyadari akan bahaya sekularisme, harus siap dan
mampu angkat suara untuk bersama-sama dengan yang lainnya menyuarakan
sikap tegas melalui cara dialog, diskusi dan debat menampilkan bahwa
sekularisme adalah racun, dimana pancasila merupakan pupuk yang subur
bagi pertumbuhan paham sekularisme di Indonesia.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk mereka yang mempertahankan
sekularisme.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP
http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Nov 1999 jam 11:15:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke