----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 6 Nopember 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

DIBALIK POLITIK REFERENDUM-ACEH-NYA GUS DUR
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Tanggapan untuk Pres Gus Dur.

SEPERCIK TENTANG GUS DUR

Pres Gus Dur yang licinnya seperti ikan belut, yang geliatnya seperti
ular, yang otaknya tajam berliku-liku sukar diikuti, yang hatinya keras
seperti baja sukar ditebas, yang jalan politiknya seperti hutan rimba
yang sukar dijelajah, yang menjadikan paham
nasionalis-kebangsaan-pancasila-nya melambung tinggi keudara, yang
membuat lawan-lawan politiknya berpikir seribu kali.

JANGAN TAFSIRKAN KATA-KATA GUS DUR APA ADANYA

Nah, itulah gambaran sepercik tentang Gus Dur, sehingga saya pernah
menulis dalam satu tulisan "Jurus pertama Pres Gus Dur, selesaikan Aceh"
( http://www.dataphone.se/~ahmad/991028.htm ) yaitu,

"Jadi, disinilah, kegeliatan politik Gus Dur dalam melihat sesuatu
permasalah yang terjadi di Daulah Pancasila dengan UUD 1945-nya yang
sekuler. Karena itu, kalau sekarang Presiden Gus Dur mengemukakan
pemikirannya, tidak berarti pemikirannya itu sama seperti yang
diucapkannya. Yang paling bijaksana adalah, kalau Presiden Gus Dur
mengatakan A, maka harus ditafsirkan, itu adalah B. Atau dengan kata
lain, itu adalah bukan A." ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991028.htm
).

Nah sekarang, karena saya sukar mengikuti jalan politiknya Gus Dur yang
bagaikan hutan rimba yang sukar dijelajahi, maka jalan yang saya pakai
adalah bukan mengikuti apa yang Gus Dur ucapkan lewat mulutnya,
melainkan mencoba menafsirkan apa yang masih terselip dalam otaknya yang
tidak dikeluarkan, sehubungan dengan permasalahan yang sedang
dihadapinya sebagai Presiden Daulah Pancasila.

MELIHAT LEBIH DALAM MENGENAI REFERENDUM-ACEH-NYA GUS DUR

Jadi, dalam kasus politik referendum-Acehnya juga saya bukan langsung
mengartikan dari apa yang diucapkan mulutnya Gus Dur, melainkan apa yang
ada dan terselip dalam otaknya mengenai masalah referendum-Acehnya itu.

Mengapa Gus Dur tidak keberatan dengan referendum di Aceh seperti
"Presiden Abdurrahman Wahid kepada para wartawan asing di Jakarta, Kamis
(4/11) mengatakan, dia tidak keberatan diadakan referendum di Aceh,
namun persoalannya kapan hal itu harus dilakukan belum bisa dijelaskan".
( http://www.suarapembaruan.com/News/1999/11/051199/Utama/ut01/ut01.html
).

Nah, kalaulah benar apa yang ditulis oleh Suara Pembaharuan diatas, maka
saya menafsirkan jalan pikiran politiknya Gus Dur yaitu, hak referendum
adalah hak bagi semua orang, bukan hanya rakyat Aceh saja, tetapi semua
rakyat yang merasa masih berada dalam penekanan, ancaman, jajahan,
penindasan, ketidak adilan, merasa perlu atau tidaknya masuk dalam
sesuatu persekutuan atau union, merasa untuk berdiri sendiri, merasa
untuk otonomi, dan lain sebagainya.

Jadi, apa yang dikatakan Gus Dur dengan tidak keberatan dengan
referendumnya di Aceh adalah memang referendum itu hak bagi seluruh
rakyat yang memang tidak merasa diwakili atau terwakili oleh mereka yang
duduk di Parlemen atau di MPR/DPR-nya Daulah Pancasila.

SYARAT REFERENDUM DI ACEH

Tetapi, tentu saja, ada syaratnya, yaitu seperti yang terselip dalam
otak Gus Dur "waktunya tidak ditentukan", bisa dalam satu hari, satu
minggu, satu bulan, satu tahun, atau sehabis Gus Dur menjadi Presiden.

Nah selama belum ditetapkan waktu untuk referendum bagi orang-orang
Aceh, makaGus Dur akan melakukan jurus-jurus politik Aceh-nya untuk
menyelesaikan krisis Aceh, syukur-syukur, kalau jurus-jurus politik
Aceh-nya Gus Dur ini bisa menyelesaikan dan membuat rakyat Aceh rela dan
menerima.

Inilah yang saya sebut Gus Dur dengan licinnya seperti ikan belut, yang
geliatnya seperti ular, yang otaknya tajam berliku-liku sukar diikuti,
yang hatinya keras seperti baja sukar ditebas, yang jalan politiknya
seperti hutan rimba yang sukar dijelajah.

Dalam tulisan "Rakyat Aceh jangan dihadapi dengan kekerasan" (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991105.htm ) saya telah mengajukan 10
usulan kepada Pemerintah Gus Dur dan sepuluh usulan kepada rakyat Aceh.

ACEH TIDAK BISA DIHADAPI DENGAN KEKERASAN

Selanjutnya, Presiden Gus Dur telah mengetahui bahwa rakyat Aceh itu
tidak bisa dilawan dengan kekerasan, dari sejak perjuangan melawan
Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang. Atau seperti yang dikatakan oleh
Teuku Zilmahram dalam suratnya kepada saya kemarin (5 Nopember 1999)
bahwa,

"Saya sampaikan salam hormat kepada Bapak yang telah menaruh perhatian
untuk mencermati masalah Aceh. Saya sangat sepakat bahwa penyelesaian
masalah Aceh tidak bisa dilakukan dengan kekerasan. Saya sebagai putra
Aceh asli sangat memahami watak masyarakat Aceh.

Sesungguhnya Aceh tidak bisa dihadapi dengan kekerasan. Perlu diketahui
pula perjuangan rakyat Aceh memiliki ciri khas tersendiri. Orang Aceh
sangat mandiri sehingga apabila pimpinannya tewas atau takluk tidak
serta merta pengikutnya ikut takluk pula, hal inilah yang membuat
Belanda pusing tujuh keliling.

Ketika Teuku Umar syahid tewas tertembak perperangan masih terus
berkecamuk, karena istrinya Cut Nya' Dhien melanjutkan perjuangan
tersebut. Kemudian Cut Nya' Dhien tertangkap dan dibuang ke Sumedang
peperangan Aceh masih terus pula berkecamuk, karena setiap pejuang Aceh
cukup mandiri dan tidak tergantung mutlak dengan pemimpinnya. Demikian
pula ketika Sultan Aceh ditangkap Belanda pada tahun 1904 rakyat Aceh
tidak serta merta takluk dan peperangan masih terus berkecamuk, termasuk
adanya peperangan yang dahsyat di pesisir selatan Aceh di Bakongan pecah
peperangan pada tahun 1928  yang dipimpin Teuku Raja Angkasah, korban
Belanda dalam perang Bakongan ini cukup besar.

Semua ini dapat kita ambil hikmahnya bahwa mendekati rakyat Aceh tidak
bisa dengan kekerasan, tidak cukup dengan menaklukan pimpinannya saja
tetapi yang perlu dilakukan adalah dengan merebut hati rakyat Aceh.
Pendekatan religi, psikologi dan budaya merupakan kunci menyelesaikan
masalah Aceh. Kita tidak bisa datang ke Aceh dengan kepala tegak dan
membusungkan dada apalagi dengan membawa senjata". (Teuku Zilmahram, 5
Nopember 1999).

KESIMPULAN

1. Jangan tafsirkan kata-kata Gus Dur apa adanya.

2. Hak referendum adalah hak bagi semua orang, bukan hanya rakyat Aceh
saja, tetapi semua rakyat yang merasa masih berada dalam penekanan,
ancaman, jajahan, penindasan, ketidak adilan, merasa perlu atau tidaknya
masuk dalam sesuatu persekutuan atau union, merasa untuk berdiri
sendiri, merasa untuk otonomi, dan lain sebagainya.

3. Syarat referendum di Aceh yang terselip dalam otak Gus Dur yaitu,
"waktunya tidak ditentukan", bisa dalam satu hari, satu minggu, satu
bulan, satu tahun, atau sehabis Gus Dur menjadi Presiden.

4. Penyelesaian masalah Aceh tidak bisa dilakukan dengan kekerasan.

Inilah sedikit tanggapan saya untuk Pres Gus Dur.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP
http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Nov 1999 jam 08:26:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke