----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Subj:    pengen tau
Date:   99-11-03 04:48:35 EST
From:   [EMAIL PROTECTED] (M. Tasril D)
To: [EMAIL PROTECTED] ('[EMAIL PROTECTED]')

Ass. WW

Sabalunnyo ambo kenalkan diri ambo,
Namo:Tasril
Lahia : Bukittinggi tahun 63
Gadang di : Gg. Buayo karet kubur

Dari carito carito angku saroman angku gadang di kec. tanah abang.
Baa kini kaba angku dan baa caritonyo sampai angku ado di usa?

Sagitu dulu yo...

Wass. W
----------------

Email ini saya terima beberapa hari yang lalu,
Sungguh senang mendapatkan surat dari netter
satu kampung yang lain gang.

Email dari Tasril membuat kerinduan saya pada
kampung halaman memekat, mengingatkan saya
pada kopi tubruk Pak Dul di warungnya di pinggiran
jembatan Kalimalang.

Saya tinggal di Jalan H Jalil di Jakarta, sedang
Gang Buaya adalah  gang di bersebelahan dengan
pemakaman umum Karet Kubur. Walaupun namanya
gang, tapi sebenarnya jalannya cukup besar untuk di
lalui 2 mobil asal hati-hati dan super sopan pada anak
gang yang biasanya galak dan dengki bila melihat
anak muda lain bermobil keren...

Di Gang Buaya I saya punya banyak teman,
Abdul Haqi,Iwan dan Gembong adalah teman dekat,
ada juga cewek bernama Layla yang pernah saya date
dan pacarin sementara ketika saya pulang ke Indonesia
5 atau 6 tahun yang lalu ( 2 bulan setelah itu cewek sunda
manis ini kawin dengan orang minang ) tidak usah heran
SMP 38 adalah SMP tempat saya sekolah selama 3 tahun.
Pak Bambang , guru matematik kami yang galak mungkin
masih mengajar di sana, begitu juga Pak Iwan, guru
bahasa Inggris yang memberi angka 10 pada raport saya.

Berjalan lurus menuju Pejompongan, di dekat turunan,
ada juga salon tempat saya dan Buyung cukur rambut.
Pemiliknya yang bencong saya ingat selalu memberi
kami gratis potong rambut karena dia demen pada si
Buyung yang memang tampangnya keren.

Terus lurus, saya punya teman bernama Yusniati dan
Neli, mereka teman SD, Neli berhenti sekolah untuk
kawin ketika kedapatan dia bunting duluan di umur 13 tahun
kelas 6 SD.  Sedang Neti  saya tidak tahu pasti,
tapi ketika saya bertemu terakhir kali tampangnya
masih manis .

Fauzial, juga teman yang tinggal di gang kecil.
Anak padang ini matanya kecil seperti cina,
Begitu juga Kharma, anak Jawa item yang rambutnya kucai,
Saya pernah berantem dengan dia beberapa kali.

Saya lupa, ada teman SD yang tinggal dipinggir kali
persis di ujung belakang Kuburan Karet. Namanya
entah siapa, tapi anak ini adalah anak keluarga gembel
yang tinggal digubuk semi permanen.

Di Gang Buaya II, saya pernah ikut les mengaji
pada sebuah keluarga Haji Betawi yang galak setengah
mati, bila kita lupa hapalan alif bata, tidak segan si
engkong satu ini menyabet ini tangan dengan penggarisan.
Anaknya yang berkaki pincang adalah teman dekat saya juga.
Namanya kalau tidak salah juga Haqi.

Mendapatkan email dari Gang Buaya membuat saya
gembira, walaupun 4 tahu yang lalu kampung ini sudah
berubah banyak, di mulut gang Buaya I, saya sempat
makan di restaurant Padang yang not bad, kampung saya
sudah di libas kemajuan jaman, dari gang buaya waktu
itu saya bisa menyaksikan deretan gedung tinggi di jalan
Sudirman, kemegahan peradaban palsu menimbun
sisa sisa kenangan saya pada tempat saya bermain dan
tumbuh remaja.

Gang Buaya saya perlahan menghilang....

Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Nov 1999 jam 21:25:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke