----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

In a message dated 11/6/99 9:24:06 PM Pacific Standard Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

<< Saya kebetulan membaca tulisan tentang NOTONAGORO,
 seketika ingatan masa-lalu saya yang "lucu" pun muncul.

 Ingatan yang mungkin menjadikan bawah sadar saya selalu
 berfihak kepada apapun yang "bukan jawa".
 Pengalaman diusir Bokap pacar,... hanya karena saya tidak
 mampu berbicara Jawa dan karena saya tidak tahu-menahu
 pentingnya keturunan..., telah menjadi landasan politik saya.
 Camer yang gagal ini kebetulan penyandang trah Kraton Solo.
 .
 Maka setelah itu, saya selalu berdiri diseberang "jawa".
 Tak peduli "jawa" nya itu berupa partai, orang, negara atau
 bahkan hanya sekedar "ide".....pokoknya bukan jawa.

 Saya ikut membenarkan ketika Presiden Suharto dihujat,
 Namun saya tak suka ketika Kelomok Ciganjur berkibar.
 Saya juga simpati pada caucus rasialis Iramasuka Nusantara
 sekaligus curiga kepada "Partai Indonesia Barat" yang berupa
 koalisi Golkar putih, PDI-P, PKB, PAN minus AM Fatwa & PKP.

 Partai Indonesia Barat memang tak ada, tapi dapat dirasakan
 dari militansi-nya....Sumatran, Jawa+Sunda dan Balinese.

 Saya lahir dan besar dalam keluarga yang tak mengerti Jawa,
 baik budaya ataupun bahasa-nya. Tapi mungkin juga tak begitu
 faham dengan yang namanya "budaya" apapun.

 Setiap kali ditanya soal suku, saya hanya bilang suku "bukan jawa".
 Kalaupun ada budaya yang saya ikuti, yaaa budaya air mengalir,
 saya hanya menambah jumlah molekul air sungai. Tapi tak mampu
 melabur air dengan warna apapun atau membelokkan aliran sungai
 kemanapun, sekalipun sangat berkeinginan.....

 Alasan pemilihan aliran politik seperti saya memang sangat primitif.
 Alasan berpolitik karena sakit hati di tolak "calon mertua" konon
 sangat tidak modern......tapi amat sangat "manusiawi" dan alamiah.
 Ketika saya jadi Pro Habibie, bukan karena isteri saya orang bugis,
 .....isteri saya tetap saja orang mBlitar........jawa juga ternyata.
 Kini saya ingin melihat Gus Dur juga bersikap "bukan hanya jawa".

 Teman kerja saya lain lagi, dia seorang Doktor Electrical yang tak
 peduli urusan politik.......
 Namun ketika tahun 98, saat Pangdam Jaya Syafri Syamsudin
 yang ganteng dengan senyum "menggoda" tampil berkibar, dan
 membuat isteri teman saya mengidolakannya......maka seketika
 itu juga teman saya jadi politikus yang bergaris  "anti militerisme".

 Itulah hidup.....terkadang sangat sederhana.......

 Wassalaam,
 DjayaWikarta

  >>
Benar, saya juga pernah mengalami kebencian subjektif
ini pada para pria bule, ketika 3 tahun yang lalu, Debby
gebetan saya di LA ngedate seorang bule...

Tapi rasa antipati itu biasanya tidak bertahan lama,
pertama ya jangan terus dipelihara.. sebab kalau saya
menjauhkan bule dari pergaulan, yang timbul nanti malah
rasisme kurang ajar...

Jawa sendiri, menurut saya adalah sebuah suku yang
punya peradaban tinggi, cuma sayangnya ada suatu
kecenderungan yang susah lenyap dari bangsa ini,
yaitu animisme berhamba-hamba peninggalan jaman
batu pada segala sesuatu yang berbau keraton.

Rakyat jelatanya sendiri tidak bersalah, justru
para  bajingan yang bertokoh diatas dan segala
ningrat yang tidak mau atau malah memperalat
emosi purba ini untuk kepentingan mereka.

Makanya kalau saya atau barangkali anda mengatakan "Jawa
itu setengah dungu " itu cuma mungkin lantaran kita
mau orang Jawa terbangun dari hidup setengah realnya .

Tapi orang yang non Jawa sendiri juga banyak yang
dungu, contoh Sumatra Barat yang memenangkan Golkar,
contoh Mahasiswa Makasar yang mendewakan Habibie
sampai tega membakar bus umum dalam demostrasi..

Contoh, orang Aceh yang ingin mendirikan negara Islam.
Bagaimana mungkin perjuangan mereka didengar Internasional
bila misi mereka adalah mengarabkan Aceh ?Menjadi Islam
radikal.Memaksa cewek untuk berjilbab,dan mengkampanyekan
anti Jawa secara radikal ?

Aceh akan maju bila mereka mau menjadi negara republik yang
punya demokrasi dan terbuka .Yang bisa menerima cina, Jawa
dan siapa saja.

Jawa sendiri selama ini ditindas oleh orang jawa. Suharto,
Sukarno dan bahkan Gus Dur adalah orang Jawa.

Makanya saya agak keberatan dengan cara-cara si Dur
memperalat Banser dan fanatisme NU .

Juga para simpatisan PDI-P maha geblek yang meminta
Guruh dan Guntur untuk memimpin partai.

Kalau Mega membiarkan Guruh dan Guntur memegang
tahta PDI, maka si Mega juga adalah bagian dari Suharto, Sukarno
dan Hamengkubowono . PDI tidak lain adalah partai keraton.
partai keluarga, the family party yang edan, kerajaan stupid,
yang berbasis pada kedunguan...

orang-orang Jawa...

Hasan Basri

Nov 6,1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Nov 1999 jam 15:58:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke